Oleh : Bambang Haryanto
Anggota Perpustakaan Nasional Berdomisili di Wonogiri
Di momen HUT Perpustakaan Nasional ke 46, Anda masih ingat pendapat Kepala Perpusnas yang ingin mendorong
individu pustakawan menjadi pemengaruh/influencer bermodal jenama pribadi (personal brand) masing-masing?
Apa pendapat itu justru menakutkan bagi ASN Perpusnas dan pustakawan pada umumnya?
Kalau
selama ini pustakawan nyaman berlindung di silonya, baik itu seperti di
pelbagai WAG sampai di balik nama lembaganya, kini individu pustakawan
beliau ajak keluar dari "kepompong" dunia kepustakawanannya guna
menyapa dan gaul dengan publik.
Sebagai orang per orang.
Untuk tampil menjadi pemimpin di dunia literasi.
Dunia literasi Indonesia butuh Anda.
§
"Di
luar sana banyak sekali orang-orang yang mendambakan Anda sebagai
pemimpin mereka," begitu kata Seth Godin dalam bukunya Tribes : We Need
You to Lead Us.
Di era digital, kita relatif mudah jadi pemimpin. "Cheap leader," kata Seth Godin.
Modalnya akun media sosial dan konsisten berbagi konten yang bermanfaat bagi tribe/suku kita.
Anda ingat dongeng Jerman, Peniup Seruling dari Hamelin?
Beranikah Anda menirunya, untuk jadi leader?
Beranikah Anda mendorong mahasiswa JIP untuk hal yang sama?
Dengan bunyi seruling Anda yang memesona, warga akan mengikuti Anda.
Untuk
Anda ajak dan bimbing guna sama-sama menemukan cakrawala baru di ranah
literasi untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka.
§
BTW. Ada alasan praktis saya yang terpaksa ikut ribet membangun personal branding
Di era analog, saya tidak berpikir tentang personal branding.
Tetapi
di era digital ini ketika men-search nama saya di Facebook muncul 620+
nama yang SAMA, maka membangun personal branding (di ranah digital)
menjadi sebuah panggilan untuk berjuang.
Siapa yang ingin bersama saya?
#BH260518
Tidak ada komentar:
Posting Komentar