Tampilkan postingan dengan label pustakawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pustakawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2026

Pustakawan, Peniup Seruling Yang Nyaman Dalam Pingsan?

Oleh : Bambang Haryanto
Anggota Perpustakaan Nasional Berdomisili di Wonogiri

 

Apa pendapat itu justru menakutkan bagi ASN Perpusnas dan pustakawan pada umumnya?

Kalau selama ini pustakawan nyaman berlindung di silonya, baik itu seperti di pelbagai WAG sampai di balik nama lembaganya,  kini individu pustakawan beliau ajak keluar dari "kepompong" dunia kepustakawanannya guna menyapa dan gaul dengan publik. 

Sebagai orang per orang.

Untuk tampil menjadi pemimpin di dunia literasi. 

Dunia literasi Indonesia butuh Anda.

§

"Di luar sana banyak sekali orang-orang yang mendambakan Anda sebagai pemimpin mereka," begitu kata Seth Godin dalam bukunya Tribes : We Need You to Lead Us.

Di era digital, kita relatif mudah jadi pemimpin. "Cheap leader," kata Seth Godin. 

Modalnya akun media sosial dan konsisten berbagi konten yang bermanfaat bagi tribe/suku kita.

Anda ingat dongeng Jerman, Peniup Seruling dari Hamelin? 

Beranikah Anda menirunya, untuk jadi leader? 

Beranikah Anda mendorong mahasiswa JIP untuk hal yang sama?

Dengan bunyi seruling Anda yang memesona, warga akan mengikuti Anda. 

Untuk Anda ajak dan bimbing guna sama-sama menemukan cakrawala baru di ranah literasi untuk kehidupan yang lebih baik bagi mereka. 


§

BTW. Ada alasan praktis saya yang terpaksa ikut ribet membangun personal branding

Di era analog, saya tidak berpikir tentang personal branding. 

Tetapi di era digital ini ketika men-search nama saya di Facebook muncul 620+ nama yang SAMA, maka membangun personal branding (di ranah digital)  menjadi sebuah panggilan untuk berjuang.

Siapa yang ingin bersama saya?

#BH260518

Rabu, 14 Januari 2015

Rumi, Pustakawan Tidur dan Lempung Digital

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui@gmail.com



“Buku adalah sumber pengetahuan.”
Itu kata Rumi. Tapi lanjutnya, “buku bisa juga sebagai bantal tidur.”

Sementara di tangan Jackie Chan, seperti dalam film-filmnya, bisa menjadi sarana bela diri. Bagi saya, buku bisa menjadi brankas kecil. Untuk menyelip-nyelipkan uang kecil.  

Sementara kata orang, kitab suci merupakan brankas teraman dalam sebuah keluarga. Silakan menambahkan manfaat buku selain yang kita akrabi sebagai pustakawan.

Yang menonjol, buku di mata pustakawan semata menjadi obyek seksi ketika dipadankan dengan tabel DDC, tajuk subjek, dan pelbagai pernak-pernik data bibliografis untuk menyempurnakan proses tugas sucinya, yaitu melakukan tata simpan dan penemuan kembali. 

Dalam konteks ini pustakawan tak ubahnya sebagai manajer gudang, mengelola kontainer, sementara isinya dimanipulasi secara dangkal semata untuk kepentingan memudahkan tata simpan dan penemuan kembali. Itu marak baik  itu di era katalog kartu mau pun di era digital saat ini.

Blasius Sudarsono
 dan Ratih Rahmawati dalam Perpustakaan Untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak (2012) seperti diberi garis bawah oleh Agus Rusmana, mengibaratkan perpustakaan bukan sebagai gudang tetapi sebagai “restoran yang menyediakan santapan rohani.” 

Tandas Agus Rusmana yang menulis pengantar, “jika restoran hanya menyajikan bahan mentah dan menyuruh pelanggannya untuk memasak sendiri bahan itu, tentu mereka lebih memilih makan di rumah... Seharusnya pustakawan ‘berbuat lebih’ daripada sekedar menjejerkan koleksi dan menandainya untuk kemudahan penemuan kembali.” (hal.x).


“Barangkali disitulah kekurangwaskitaan kita sebagai pustakawan,” cetus Pak Blasius Sudarsono kepada saya di sela rapat kerja Renstra 2015 Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia/YPPI  dan PT Daya Pustaka Prima di The Gambir Anom Hotel, Boyolali, 7/1/2015.  

Saat itu kami bertiga mengobrol ringan tentang model bisnis dari Buqu Indonesia yang diwakili Ardiansyah (batik merah), yang kemudian memberikan presentasi kepada kita semua.



Buqu Indonesia berbisnis buku-buku digital. Dengan mengagregasi penerbit, toko buku dan konsumen dalam sebuah ekosistem yang mampu memberikan kemudahan dan keuntungan bagi semua fihak. Dalam presentasinya, Buqu Indonesia berencana menggandeng juga perpustakaan.

Mereka kiranya sadar dan tahu bahwa manipulasi isi, termasuk isi yang dikandung dalam perpustakaan, merupakan lahan kreatif, ibarat tanah lempung digital yang  bisa bebas ditekak-tekuk untuk dibentuk sejauh imajinasi orang yang melakukannya.

Kekurangwaskitaan yang dimaksud Pak Blasius mungkin terjadi karena kita kaum pustakawan terlalu inward oriented. Akibatnya  tidak mampu melihat profesinya  dalam bingkai kanvas besar dari dunia yang terus  berubah.  Kemudian kita tidak sadar bila domain kita terus digerus oleh pemain-pemain baru di dunia digital yang inovatif dan menggedor pintu kita silih berganti.

Apakah semua terjadi, dengan meminjam kata Rumi, mungkin karena  selama ini pustakawan hanya menjadikan buku sebagai bantal belaka ?


Wonogiri, 14 Januari 2015

Rabu, 03 November 2010

Sup Keong Racun Untuk Pustakawan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



"Pratiwi, istri saya ?"
"Ya !"

Hotel Borobudur International, Jakarta.
Tanggal : 24 November 2004.

Di tempat inilah potongan dialog di atas itu terjadi. Antara Prof. Sarlito Wirawan Sarwono dan saya. Saat itu para finalis Mandom Resolution Award (MRA) 2004 bersama para juri, sedang menikmati rehat makan siang.

Prof. Sarlito adalah ketua juri, didampingi wartawan senior Maria Hartiningsih dari harian Kompas dan psikolog dan penyanyi, Tika Bisono. Saya yang bakal menghadapi ketiga juri itu pada keesokan harinya, saat itu sedang mencari-cari akal untuk memecah es dalam berinteraksi dengan mereka.

Sebagai orang yang beruntung mengenyam pendidikan ilmu perpustakaan, sebelum berangkat ke Jakarta saya sudah melakukan riset cukup memadai tentang ketiganya. Di saat makan siang itulah saya memutuskan bahwa Mas Ito, panggilan populer Prof. Sarlito, merupakan sasaran pertama yang harus saya serang.

Di depan beliau, mesin waktu saya segera meluncur. Mundur kembali ke tahun 1984. Saat itu A.C. Sungkana Hadi, Hartadi Wibowo dan saya mendapat tugas dari Ibu Lily K. Somadikarta. Tugas menarik. Melakukan wawancara tentang pendapat para kepala perpustakaan di lingkungan Universitas Indonesia mengenai perpustakaan pusat UI yang akan dibangun di kampus baru, di Depok.

"Saya adik kelas mBak Pratiwi, di JIP-FSUI. Pada tahun 1984 saya pernah mewawancarai beliau di kampus Fakultas Psikologi UI di Rawamangun," begitu jurus saya dalam melepaskan tendangan kung-fu ke arah Mas Ito. Benteng itu kiranya runtuh. Saya, nampaknya, di mata beliau kemudian berstatus bukan sebagai orang asing lagi. Tetapi sama-sama sebagai keluarga alumni UI.

Sebagai salah satu dari 20 finalis kontes Mandom Resolution Award 2004, setelah lolos seleksi dari 923 peserta se-Indonesia, di depan para juri itu saya menjual resolusi meluncurkan 100 blog untuk warga komunitas Epistoholik Indonesia. Entah karena resolusi saya ini termasuk baik, atau karena ada dua juri yang sama-sama dari UI, saya akhirnya memperoleh kemenangan. Posisi ketiga dari 10 juara.

bambang haryanto,bambang haryanto,mandomresolution award 2004,mandomresolution award 2004,sarlito wirawan sarwono,sarlito wirawan sarwono,epistoholik indonesia,epistoholik indonesia,blog penulis surat pembaca,blog penulis surat pembaca

Duta-duta Mandom. Sepuluh pemenang Mandom Resolution Award 2004 berpose sesudah menerima penghargaan. Nomor tiga dari kiri adalah Hariyadi (Yogyakarta), Dian Safitri (Jakarta), Bagyo Anggono (Wonogiri), Hisyam Zamroni (Karimunjawa), Slamet Sudarmaji (Yogyakarta), Deny Wibisono (Jombang), Ilham Prayudi (Jakarta), Bambang Haryanto (Wonogiri), Soleman Betawai (Jakarta) dan Tarjum Samad (Subang).Paling kanan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono.

Momen yang tak akan terlupakan. Agar silaturahmi dengan Mas Ito tidak langsung putus, pada akhir bulan Januari 2005 tiba-tiba saya merasa harus mengirimkan sesuatu yang unik untuk beliau. Setelah terkirim, saya baru tahu bahwa pada awal Februari adalah hari ulang tahun beliau.

Foto Mas Ito yang sedang bermain seks, maksud saya sax (ophone), saya pajang dalam sebuah vertical banner, spanduk tegak, lumayan besar. Juga tercantum cerita dan foto cucu cantik, kesayangan beliau. Benda itu kini terpasang di kantor beliau, di kampus Fakultas Psikologi UI di Depok.

Bahkan saat Mas Ito bersedia menulis endorsement untuk buku humor saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), cerita tentang spanduk tegak itu juga muncul. Konon, kini tempat spanduk itu dipasang telah menjadi tourist spot favorit bagi mereka yang "rada-rada norak," begitu keterangan berbau canda Mas Ito dalam email kepada saya, untuk berfoto-foto ria bersama dirinya.

Perempuan hebat. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono adalah salah satu tokoh terpandang di republik ini. Beliau memiliki istri seorang pustakawati. Ibu Lily K. Somadikarta, di Semarang pada tanggal 26 Maret 1984 pernah memberi tahu saya bahwa istri dari kartunis terpandang Indonesia, GM Sudarta, adalah pula seorang pustakawati.

Guru besar emeritus terkenal dari Universitas Airlangga, Prof. Sutandyo Wignyosubroto, istrinya adalah juga pustakawati. Beliau adalah almarhumah Ibu Asmi Sutandyo, yang pada tahun 1982 juga berkuliah di JIP-FSUI. Saya berinteraksi dengan beliau saat saya menjadi asisten pengajar untuk mata kuliah praktek Media Teknologi. Sementara, tokoh pers Indonesia terkenal, Atmakusumah, punya istri Sri Roemiati Atmakusumah, yang pustakawati, dan kebetulan sama-sama satu angkatan di JIP-FSUI 1980.

Dari Bakhuri Jamaluddin saya dapat info bahwa aktor pemenang Citra, Tio Pakusadewo, merupakan putra dari pustakawati di lingkungan DPR RI. Lanjutan data ini, silakan Anda lanjutkan sendiri - tetapi mohon saya juga dikabari.

Mengenang tepat 6 tahun bertemu Mas Ito di Hotel Borobudur (di SMS beliau pernah bercanda dengan menyebutnya sebagai "hotel kita"), tiba-tiba ada hal yang mengusik hati saya saat ini. Hal-hal yang menarik tentang para pustakawati di atas bukankah layak untuk ditelisik, dibedah, dihimpun, disusun, kemudian dijadikan sebagai isi buku yang sarat inspirasi bagi profesi ini ?

Kita kenal ada ujaran bahwa di balik para pria yang sukses pasti terdapat perempuan yang istimewa. Untuk seorang Mas Ito, Prof. Tandyo atau Bapak Atmakusumah, bukankah dapat dikeduk kisah-kisah human interest yang kaya mengenai peran istri-istri mereka yang pustakawati itu dalam kehidupan sukses, juga suka dan duka, bersama segenap keluarga mereka ?

Untuk penyajian himpunan cerita-cerita manusiawi dan inspiratif ini kita dapat berkaca dari sukses serial buku terkenal dengan payung judul Chicken Soup karya kolaborasi Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan kawan-kawannya. Terdapat belasan judul (foto) yang sebagian besar menjadi buku-buku laris.

Saya tidak tahu apakah ada seri yang membahas profesi pustakawan, sebab saya hanya memiliki Chicken Soup for the Sports Fan's Soul (2000) yang saya beli di toko buku Gramedia, Jl. Pajajaran, Bogor, 30 Agustus 2002.

Buku-buku seperti itu, yang mampu bercerita tentang pustakawan dalam sorot lensa pandang yang manusiawi, yang mampu menyentuh hati dan jiwa, sangatlah dibutuhkan bagi profesi satu ini. Senyatanya kita sangat kekurangan cerita, termasuk biografi para pustakawan.

Maafkan bila cakrawala saya yang sempit ini. Tetapi ketika sempat membolak-balik koleksi buku tentang perpustakaan dan pustakawan yang ada di Perpustakaan Umum Wonogiri, yang ada hanya buku-buku "resmi" melulu. Buku-buku yang kering. Pustaka yang barangkali hanya cocok dibaca untuk menghadapi ujian dan sesudah ujian pantas untuk dilupakan. Karena buku-buku itu belum mampu menjangkau hati.

Jerangkong yang menari. Di Internet, bagaimana ? Pada pelbagai situs dan blog yang dikelola pustakawan atau pustakawati kita, yang selama ini bisa saya temui, nampaknya kurang lebih serupa. Nyaris tidak ada yang berkisah tentang "jerangkong- jerangkong yang menari" yang muncul dari lemari-lemari para pustakawan Indonesia selama ini.

"Jika Anda punya jerangkong, kerangka manusia, di dalam lemari Anda, keluarkanlah. Dan menarilah bersamanya," begitu nasehat Caroline MacKenzie seperti dikutip Susan Shaughnessy dalam bukunya Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004).

"Penulis harus menari bersama jerangkong, tulang kerangka mereka sendiri !," timpal Susan Shaughnessy atas pendapat Carolyn MacKenzie tadi. Kerangka manusia adalah kiasan untuk hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan. Misalnya rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut, yang pada akhirnya akan muncul juga dalam tulisan Anda.

Mengapa ? Karena menurutnya di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu mengalir ke dalam tulisan Anda dan membuatnya hidup. Jerangkong itu kering dan tidak bernyawa. Tetapi mereka bisa menari.

Dengan media blog inilah saya selama ini mencoba menari. Dengan menuliskan surat-surat cinta. Menceritakan sisi-sisi kehidupan pribadi. Minimal itulah sosok blog yang bisa saya serap dari inspirasi diva blogger Halley Suit yang di tahun 2004 didaulat The Anita Borg Institute sebagai "Online Diva" dalam artikelnya yang menarik.

Dalam tulisannya berjudul "Alpha Female Blogging" (2004) antara lain ia menyatakan : "A blog is a love letter. Blogging is nothing, if not personal and full of life……[blogs are] one of the last places where you can still tell the truth… A blog is my head, open to you, day and night, at your convenience. They are changing and they are changing us - how we communicate, how we think, how we care about one another and how we join together to change the world. "

Terima kasih, Halley.

Bagi saya kini,perkara apakah blog ini dapat didaulat sebagai semangkuk sup ayam yang lezat atau hambar bagi kalangan pustakawan, saya tidak tahu. Yang saya tahu pasti, isinya tidak mengandung keong racun di dalamnya.


Wonogiri, 3 November 2010
Diketik sambil menikmati "Clair de lune"-nya Claude Debussy.

Rabu, 27 Oktober 2010

mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



Kaliurang.
Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?

Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.

Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.

Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.

Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.

Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.

Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :

Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.

Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.

Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.

Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.

Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612

mBah Maridjan di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :

"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).

Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).

Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketspace disana:-)" (Kamis, 28/10/2010 : 07.40.48).

Obrolan masih berlanjut. Hanya pindah kapling
di sini. Atau copy/paste di peramban Anda :http://tinyurl.com/2bvmge5


Terima kasih.


Wonogiri, 28 Oktober 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Kinokuniya.
Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.

Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan.

Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.

Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.

Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.

Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.

Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.

Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari.

Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau telah wafat,Sabtu, 18 April 2009 sekitar pukul 01.00 di RSCM Jakarta Pusat.

Cara mengajar Ibu Soma yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.

Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.

Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.

Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu judul buku. Buku itu dikunyah, untuk diekstraksi. Wujud fisiknya disimpan di rak tertentu. Kalau jumlahnya puluhan atau ratusan, mungkin ingatan kita masih kuat mengingat sampul atau tempatnya untuk bisa ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Tetapi ingatan manusia ada batasnya. Bila jumlah buku itu sudah mencapai ribuan, masalah muncul. Menyimpan sih gampang, tetapi saat untuk menemukan kembali, secara cepat dan akurat ?

Solusinya, data buku itu harus dicatat. Secara sistematis. Ada ilmunya. Dalam buku besar, ia dicatat berdasarkan nomor urut, tanggal pembelian/hadiah, dan sumber buku tersebut. Ini untuk administrasi internal. Sedang untuk layanan bagi pemakai perpustakaan, isi buku dianalisis dulu, diklasifikasikan menurut subjek atau perihal, dengan merujuk panduan yang baku, seperti tabel DDC, Dewey Decimal Classification dan sarana bantu lainnya.

Kemudian tergabung di dalamnya pernak-pernik data buku lainnya, yang disajikan secara sistematis dalam bentuk kartu-kartu katalog. Pengunjung dapat mengakses koleksi perpustakaan melalui bantuan katalog tersebut berdasarkan nama abjad pengarang, judul buku, sampai subjek buku.

Tetapi pemahaman publik terhadap katalog sebagai sarana temu kembali bahan pustaka di perpustakaan, bukan hal yang otomatis. Bahkan juga di kalangan intelektual. Di kolom surat pembaca majalah Tempo (16/1/1982), saya pernah mengomentari isi acara "Dunia Pustaka" di TVRI (29/11/1981). Saat itu hadir bintang tamu seperti Harsja W. Bachtiar, Tuti Indra Malaon dan Toeti Adhitama.

Protes saya adalah : mahasiswa dan juga dosen (!) harus dilatih agar mampu memahami fungsi katalog dan mahir memanfaatkannya dalam menemukan informasi yang relevan. Keterampilan serupa sekarang ini yang juga harus dilatih pada mereka, adalah pemanfaatan mesin pencari Google di Internet. Semua orang bisa menggunakan, tetapi tetap ada perbedaan signifikan antara mereka yang tidak terlatih vs mereka yang berpengetahuan tentangnya !

Konsumen adalah matahari. Itulah teori dasar dan praksis pengelolaan bahan pustaka yang jadul, yang saya pelajari di dekade awal 1980-an. Kini katalog-katalog kertas itu semakin banyak digantikan dengan sinyal-sinyal elektronik. Otomasi. Komputerisasi.

Tetapi sebagai seorang renegade, yang terciprat DNA ilmu perpustakaan tetapi tidak pernah bekerja sebagai pustakawan sejak 1985, saya tidak tahu seberapa jauh, juga seberapa sukses otomasi itu telah berjalan di pelbagai perpustakaan dunia dan Indonesia.

Kisah ini akan berlanjut di blog saya yang lainnya. Blog Esai Epistoholica. Antara lain melanjutkan raba-raba saya tentang peranti lunak Senayan Library Automation yang telah memenangkan kategori Open Source System dalam Indonesia ICT Awards 2009 yang baru lalu.

Pengembangnya, Hendro Wicaksono, alumnus JIP-FSUI 1992 (foto : baju kuning). Dalam foto ia bersama Yossy Suparyo dari Combine Resource Institution yang saya potret setelah bisa saling kenal dalam momen tak terduga.Di Jogja National Museum, 23 Juli 2010.

Jangan lupa, simak pula nasehat Gus Doerr dari Lembah Silikon tentang revolusi media sosial yang kini hot terjadi. Juga pengaruhnya terhadap masa depan Anda.

Silakan saja klik di sini atau copy/paste url ini di peramban Anda : http://tinyurl.com/262ztjd.


Terima kasih.


Wonogiri, 24-25 Oktober 2010

Senin, 18 Oktober 2010

Mary J. Cronin : Nostalgia Rawamangun, Wonogiri dan Atlanta

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



Mary J. Cronin.
Itulah nama perempuan berwajah anggun ini.

Sayangnya, ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (JIP-FSUI) di Kampus Rawamangun era 1980-an, seingat saya, namanya tidak pernah muncul dalam perkuliahan. Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, Bapak Karmidi Martoadmodjo sampai Bapak Sulistyo Basuki, sepertinya belum pernah menyebut-nyebut nama itu pula.

Tak apalah.
Saya mengenalnya dari majalah Library Journal.

Kalau ada waktu luang, di perpustakaan JIP-FSUI yang berada di lantai 2 Unit 3 Kampus FSUI, saya membuka-buka majalah itu. Biasanya, setumpuk majalah itu atau yang sudah terjilid, saya bawa ke luar ruang.

Kemudian membaca-bacanya di luar, di kursi rotan, pada beranda ruang perpustakaan tersebut. Bisa sambil melihat-lihat hijau daun, berbercak putih yang berpadu bunga-bunga kuning, dari pohon-pohon akasia yang merindangi kampus itu.

Saya memang nekat "melanggar aturan" dengan membawa bahan pustaka ke luar perpustakaan. Terima kasih Pak Wakino dan Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI, yang rupanya memaklumi alasan saya. Karena di luar, sambil membaca-baca itu saya juga bisa bernikmat-ria dengan asap plus nikotin yang di tahun 1980 itu masih membekap ketat diri saya.

Bahkan, di masa itu, bergabung dengan sesama mahasiswa yang juga perokok seperti Hartadi Wibowo dan Subagyo Ramelan, kami dikenal sebagai trio penghuni "the smoking corner" di kelas. Penyebar kabut racun. Syukurlah, pada tahun 1989, saya bisa berhenti merokok, setelah menjadi budak nikotin lebih dari 16 tahun.

Lupakanlah nikotin, mari kembali ke Mary J. Cronin. Kalau tak salah ingat, ia mengisi kolom tetap di majalah tersebut dengan topik seputar aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Topik tersebut masih terasa asing, dan baru, utamanya dalam atmosfir dunia kepustakawanan di Indonesia saat itu.

Internet dengan intelejensia. Waktu pun bergulir. Empat belas tahun kemudian, suatu keajaiban, saya bisa "ketemu" dengan Mary J. Cronin kembali. Bukan di majalah Library Journal lagi. Sebagai anggota perpustakaan American Cultural Center (ACC), Wisma Metropolitan 2, saya seperti dapat anugerah ketika memergoki isi majalah Fortune, 18 Maret 1996.

Di situ terdapat wawancara intensif editor IT majalah bisnis bergengsi itu, Rick Tetzeli, dengan Mary J. Cronin. Judul artikelnya, "Getting Your Company's Internet Strategy Right."

Dalam pengantarnya Rick Tetzeli menulis : "Mary Cronin menemukan Internet sebelum Internet menjadi bahan kehebohan pada dekade ini. Sebagai pustakawan universitas di Boston College, Cronin memanfaatkan Internet untuk meriset data pada tahun 1980-an.

Dalam empat tahun terakhir ia menulis, memberi kuliah dan memberikan konsultasi bagaimana perusahaan mampu memanfaatkan Internet dan teknologinya sebagai bagian dari strategi perusahaan bersangkutan. Sekarang ia menjabat sebagai professor di Carroll School of Management dari Boston College, Cronin memberikan wawasan, quiet intellegence, untuk kajian yang kini lebih menonjol heboh hura-huranya itu.

Bukunya yang segera terbit, The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menunjukkan bagaimana kalangan bisnis dapat memanfaatkan Internet jauh lebih signifikan dibanding hanya tampil genit berpamer-ria dengan situs-situs web yang molek semata. Cronin membeber pikiran-pikirannya secara persuasif bahwa perusahaan membutuhkan perencanaan yang cermat agar mereka mampu memanfaatkan Internet untuk kebutuhan di dalam mau pun di luar perusahaan."

Akhirnya, Rick Tetzeli menyimpulkan bahwa buku ini merupakan buku panduan untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Kramat sampai Atlanta. Diam-diam, saat itu, saya merasa bangga. Bahwa seorang pustakawan telah mampu melakukan "penjarahan," dengan mengaplikasikan wawasan dan ilmu pengetahuan miliknya sebegitu jauh jangkauannya sehingga dapat menerobos batas-batas teritori ranah tradisionalnya. Ilmu perpustakaan a la Cronin itu mampu memperkuat otot-otot yang menunjang keberhasilan dunia bisnis, dunia korporasi, bahkan pada pilar-pilar yang paling fundamental di era perubahan dewasa ini.

Suatu kebetulan, ketika keluyuran di lapak majalah bekasnya Pak Yono ("asal Sragen, hijrah ke Jakarta sejak 1957-an") di Kramat Raya, Depan Gedung PMI, saya menemukan lagi majalah Fortune edisi 18 Maret 1996. Foto Mary J. Cronin di atas juga saya ambil dari majalah bisnis ini.

Keajaiban masih berlanjut. Ketika adik saya, Broto Happy W., yang reporter Tabloid BOLA, meliput Olimpiade Atlanta 1996, saya wanti-wanti berpesan untuk dioleh-olehi buku karya Mary J. Cronin itu. Syukurlah, buku itu ia beli pada tanggal 17 Juli 1996, dan kini berjejer dengan beberapa buku bersampul hitam, buku-buku bertopik Internet, yang juga terbitan dari Harvard Business School Press.

Buku yang tidak mudah dikunyah. Salah satu isi buku itu yang relevan dengan komunitas penulis surat pembaca yang saya dirikan, Epistoholik Indonesia, yang sering saya kutip antara lain tulisan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones Business Information Services, yang menjabarkan perbedaan antara media cetak dan media Internet.

Menurutnya, di dunia media cetak aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah. Tetapi kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah, menurut saya, yang masih banyak tidak disadari oleh para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Mengabarkan perubahan itulah yang kini menjadi sacred mission saya, sebagai orang yang merasa memperoleh anugerah karena dalam bagian hidup saya yang terindah pernah terciprat untuk memiliki DNA ilmu perpustakaan, walau pun selama ini dan kini memilih untuk tidak berkarya dalam kurungan tembok-tembok gedung perpustakaan.

Ada nasehat dari Mary J. Cronin yang mungkin bermanfaat bagi kita. Ketika ditanya bagaimana agar peselancar Internet bisa tertarik melakukan bookmark, atau secara rutin mengunjungi situs-situs kita di Internet, ia pun menjawab :

"Informasi yang bermanfaat, itulah kuncinya. Anda harus memberi mereka sesuatu yang berharga dalam transaksi ini. Ini bukan perbuatan berderma, altruistik. Melainkan ini merupakan strategi pemasaran yang baik."

Terima kasih, Ibu Mary, untuk jeweran ini.

Karena selama ini saya sering mejeng di Internet hanya semata-mata tergoda hasrat tak terkendali untuk berasyik-masyuk bagi diri sendiri.



Wonogiri, 18 Oktober 2010