Tampilkan postingan dengan label hartadi wibowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hartadi wibowo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2011

Belajar adalah belajar tentang cara belajar !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Setelah berpisah kurang lebih 26 tahun, bisa bertemu kembali teman-teman kuliah, saya mendapati betapa kaya ragam jalan hidup mereka.

Sama-sama mengenyam pendidikan ilmu perpustakaan, tetapi panggilan hidup, peluang dan kecenderungan tiap pribadi, membuat ilmu itu dipraktekkan dalam jalur yang warna-warni.

Belajar ilmu perpustakaan adalah belajar tentang cara belajar.

Itu sudah terbukti untuk rekan saya Bakhuri Jamaluddin. Setelah mengampu perpustakaan Akademi Gizi, kini jadi salah satu tokoh yang menjalankan roda program Jamkesmas di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara ke-PNS-an, sudah pensiun, tetapi di bidang yang baru membuatnya terbang ke pojok-pojok tanah air.

Teman lain yang saya temui kemarin (3/11/2011) adalah Hartadi Wibowo.Priyayi necis dan rapilo :-) asal Cilacap itu kini sekretaris sebuah yayasan yang mengurusi santunan kesehatan di Bank Mandiri.

Sebelumnya menjabat Dana Pensiun Bank Mandiri yang "mempertaruhkan" milyaran rupiah untuk investasi. Ia sukses. Kuncinya : di perpustakaan tersaji beragam informasi, dan saya banyak belajar dari sana.

Menengok ke belakang Hartadi Wibowo mencoba me-resume hidupnya : "Jalur saya adalah di bidang pelayanan." Itu katanya di dalam mobil hitam keren dan dimana saya nunut dari Ciledug untuk turun di Jl. Tendean, untuk berganti busway. Makasih Ted, untuk obrolannya yang inspiratif.

Yang agak nyeleneh dan menarik adalah sobat saya satunya lagi : Subagyo Ramelan (SBR).

Waktu kuliah, saya, Teddy dan Bagyo terkenal sebaagi eksponen "the smoking corner."

Tukang merokok berat.Teddy bisa berhenti tahun 2005. Saya tahun 1989.

Tetapi Pak SBR, masih melanjutkan hobi nikmatnya itu sampai kini.

Setelah lulus, SBR menjadi book officer di Asia Foundation. Kerjanya membagi-bagikan buku sumbangan Amerika Serikat ke pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kantornya, bagi saya, adalah sorga buku. Saya sempat kecipratan puluhan buku-buku idaman darinya. Makasih, bag.

Kini ia tak lagi mengurusi buku. Tetapi primbon :-).

Primbon itu sebagai panduan bagi mereka yang ingin membeli batu-batu mulia di bengkel dan show room miliknya.

Namanya Safir Andaru, di bilangan Ciledug, Jakarta Selatan.

Seusai kangen-kangenan, ia menyodori kami bertiga sejumlah cincin dengan berbatu mulia.

Subagyo Ramelan, eyang 7 cucu tetapi nampak awet muda itu, membuka primbon. Sebagai penulis, saya sebaiknya memakai cincin dengan batu mulia safir. Karakternya adalah : wisdom and knowledge. Semoga dapat menjadi panduan bagi saya untuk berbuat kebaikan : seseorang yang dididik jadi pustakawan tetapi kini tercebur untuk mempelajari dan menulis tentang humor dan komedian.

Terima kasih, Bag.
Terima kasih, Bakh.
Terima kasih, Teddy.

Hidup Anda yang warna-warni sungguh merona indah dalam catatan dan kenangan saya.Pertemuan 4 komplot lama itu mencetuskan Deklarasi Ciledug 3 November 2011.

Bahwa kita akan mengadakan reuni komplit di bulan Desember mendatang.
Insya Allah terlaksana.


Kramat Sentiong,4/11/2011

Sabtu, 20 November 2010

Ipit, Sri Mulungsih, dan Otak Mubazir di Perpustakaan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Tak hanya mBah Maridjan.
Candi Borobudur ikut pula kena getahnya.
Menjadi korban amukan Gunung Merapi.

Koran-koran mewartakan upaya pembersihan lapisan abu volkanik yang menyelimuti candi megah di Magelang itu. Abu asal Merapi diketahui memiliki kandungan belerang yang bila dibiarkan akan mampu merusak batu patung dan ukiran di candi terkenal tersebut.

Dalam pemberitaaan itu disertakan pula foto patung yang masih utuh, dengan kepala berisi ukiran rambut yang khas.

Pada hari Kamis 25 Juni 1981, sosok patung semacam itu menjadi bahan obrolan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI Angkatan 1980.

Ketika itu kami sedang melakoni karya wisata dengan menjelajahi perpustakaan-perpustakaan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Rekreasinya, mengunjungi candi sohor tersebut.

Merujuk salah satu patung yang torsonya lengkap tetapi kepalanya sudah tidak ada di tempat, Gemuru Ritonga, teman kami, nyeletuk yang bikin kita terbahak. Mahasiswa yang suka guyon dan kami terkadang aktif mengerjakan proyek "microfiche" bersama untuk mata-mata kuliah sulit di luar mata kuliah jurusan itu :-(, tinggalnya di daerah Kayuputih, Rawamangun.

Ia bermotor Honda dengan plat merah dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN). Menunjuk kepala patung yang hilang itu Gemuru Ritonga mengatakan : "Sedang dibawa ke salon."

Canda yang terasa masih elegan.

Pasalnya, ada juga canda yang radikal saat itu. Dilakukan teman mahasiswa lain, yang juga berkuliah dengan naik motor berplat merah. Ia memperlakukan khasanah candi dengan canda yang tidak terduga-duga.

Lokasinya di stupa Kuntobimo.

Ketika merasa tangannya tidak mampu menyentuh sosok patung yang terlindung dalam stupa, ia berganti strategi. Kali ini dengan memasukkan kakinya.

Ia berhasil.

Entah cita-cita besar apa yang ingin ia raih dengan upaya nakal itu. Tetapi 29 tahun kemudian pada kartu namanya tercantum berderet gelar akademis yang menghias dan menjepit, dari depan dan dari belakang namanya.

Kalau saja saya tahu khasiat magis Kuntobimo sehebat seperti itu, saya pasti akan ikut-ikutan bergaya melakukan "tendangan kung-fu" terukur lewat lubang, guna menyentuh sosok patung yang selalu menjadi buah bibir para wisatawan itu.


Dua pasang matabola. Tanggal 27 Juni 1981 pagi, rombongan wisatawan mahasiswa itu tiba kembali di kampus Rawamangun.

Tetapi dua hari kemudian, the three musketeers yang terdiri A.C. Sungkana Hadi, Hartadi Wibowo dan saya, harus kembali melakukan "serangan oemoem" ke Yogya lagi.

Berangkatnya dari terminal bis Pulogadung, sore hari. Bahkan sempat diantar, aku tulis di buku harian sebagai dengan "hangat," oleh Arlima "Ipit" Mulyono dan Sri Mulungsih yang berulang tahun 22 November (foto, Juni 1981).

Tidak ada kencan sebelumnya ("jaman itu belum ada HP"), tiba-tiba di terminal yang sama kami kepergok dengan Bakhuri Jamaluddin.

Kami berempat ini dapat dikatakan ramai-ramai sedang pulang kampung. Rombongan yang menuju Yogya memiliki cerita pribadi dan kaitan emosional masing-masing dengan kota pelajar tersebut.

A.C. Sungkana Hadi adalah priyayi Yoja kelahiran Gunung Kidul. Berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kini kepala perpustakaan Universitas Cenderawasih di Jayapura. Hartadi Wibowo yang asal Cilacap, lama berkuliah di Yogyakarta. Kini eksekutif di Bank Mandiri, Jakarta. Lebih detilnya, silakan wawancara beliau sendiri.

Saya sendiri, sejak SD klas 3 (1964), ayah saya Kastanto Hendrowiharso, bekerja di Yogya. Sampai tahun 1976. Walau keluarganya masih di Wonogiri. Saat liburan, saya selalu "pulang" ke Yogya pula. Bahkan pada tahun 1970-1972 saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis.

Sementara itu Bakhuri Jamaluddin juga pulang kampung. Menuju kotanya Roy Marten, di mana ada desa bernama Suruh, yang merupakan tempat kelahirannya. Salatiga.

Kami berempat meninggalkan Jakarta memiliki tujuan sama : melakukan praktek kerja perpustakaan. A.C. Sungkana Hadi dan saya di IKIP Yogyakarta (kini UNY). Hartadi Wibowo di Perpustakaan Umum Yogyakarta. Sementara Bakhuri Jamaluddin di Universtas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Mengenal pribadi. Di Perpustakaan IKIP Yogyakarta kami dapat bimbingan dari Ibu Suatminah, kepala perpustakaan. Ibu Suatminah belajar kursus ilmu perpustakaan satu angkatan dengan Ibu Soenarti Soebadio di tahun 1950-an. Pembimbing lainnya, Pak Sri Marnodi, alumnus JIP-FSUI.

Dalam berinteraksi dengan mereka, bahkan saya sempat pula nunut mobil Honda Civic-nya Bu Suatminah, ketika pulang dan diturunkan di sekitar komplek UGM di Bulaksumur. Saya tinggal di kos adik saya,Mayor Haristanto, di Babarsari.Di dekat komplek kampus UGM pula. Ia lagi libur kuliahnya di Fisipol UGM dan tempat kosnya saya pakai sebagai markas.

Ketika saling kontak via surat dengan Bakhuri, ia mengatakan jadi minder membaca nama "Mayor" itu. Bahkan ia sempat menguatirkan tas ransel militernya ketika hendak main ke Yogya. Padahal "mayor" itu bukan nama pangkat, tetapi nama paraban belaka yang terpakai sampai saat ini.

Bakhuri datang Sabtu, 11 Juli 1981. Kembali ke Salatiga, esok harinya. Saat itu saya juga menerima surat dari Arlima Mulyono, Jakarta. Kabar darinya membikin cemas. Saya tulis di buku harian : "siap-siap wae akan dimarahi bu Narti : bab Perancis."

Sekadar kilas balik : Arlima, Sri Mulungsih, Zulherman dan saya, mengikuti kuliah bahasa sumber 1 dan 2, Bahasa Perancis. Tetapi, kecuali Sri Mulungsih, ketika menjalani separo semester kedua kami bertiga berkomplot. Untuk mogok, mangkir, desersi di tengah jalan. Tanpa melapor ke Ibu Narti, sekretaris jurusan. Itulah sumber kecemasan saya gara-gara surat Ipit tadi.

Tanggal 7 Juli 1981. Saya sempat jalan-jalan ke toko buku Gramedia. Di. Jl. Jenderal Sudirman. Pada tahun 1970, tempat ini adalah tempat prakteknya dokter gigi Sudomo. Di tempat ini gigi saya dicabut.

Mungkin ini "hukuman," gara-gara saya tergiur membeli undian dengan hadiah sepeda Phoenix, walau dengan tujuan agar bisa bersekolah dari Kotabaru menuju Jetis lebih menyenangkan ketimbang jalan kaki semata.

Mengejutkan, di toko buku itu saya ketemu Nusantoro. Ia saya kenal saat bersekolah di SMA St. Yosef, Solo, sebagai aktivis drama. Kami berinteraksi di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT), Sasonomulyo, Baluwarti. Sebagai aktivis kesenian saya menjadi "kepala sekolah" Workshop Melukis Anak-anak Gallery Mandungan, Muka Kraton Surakarta.

Nusantoro yang bekerja di toko buku Gramedia itu segera membantu saya. Ketika saya memutuskan membeli buku karya Robert O'Brien dan Joanne Soderman (ed.), The Basic Guide to Research Sources (1975), saya memperoleh potongan harga. Terima kasih, Nunus.

Buku ini cocok sebagai bahan mata kuliah Bahan Referensi Umum (BRU) yang diampu Ibu Soenarti Soebadio dan mBak Siti "Ining" Sumarningsih. Sebagai penulis dan blogger, inti ajaran dari mata kuliah satu ini terus saja saya praktekkan hingga saat ini.

Tanggal 14 Juli 1981, ketika Perancis merayakan hari kemerdekaan, saya mendapat surat dari Zulherman, Jakarta. Isinya : tawaran ikatan dinas dari Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN, kini PDII-LIPI) telah menanti. "P-4 juga menanti," begitu saya tulis di buku harian.

Zulherman dan saya sebelumnya memang pernah menghadap Ibu Mimi D. Aman dari PDIN. Kami mencari informasi mengenai peluang ikatan dinas di lembaganya. Naik bis Mayasari 300 dari Rawamangun sampai Gatot Subroto, dibayari Zul dengan karcisnya. Zul kemudian, ketika lulus, mengambil peluang tersebut. Sedang saya saat itu, ketika mendengar ada kata "P-4," malah memunculkan rasa ragu untuk melaju.

Dalam faham saya, ikut P-4 yang wajib bagi pegawai negeri yang baru terekrut tidak lain mengikuti program sterilisasi. Upaya indoktrinasi yang membuat para pegawai negeri menjadi patuh pada rezim Orde Baru yang sangat kuat cakarnya saat itu.


Konser di kamar. Selama praktek kerja di IKIP Yogyakarta itu, yang saya sukai adalah ketika bertugas di bagian sirkulasi.

Walau pun demikian, ketika mengerjakan katalogisasi dan klasifikasi,juga bisa kami buat menarik.

Saat itu saya dan Pak Sungkana (foto : paling kiri bersama Yan Husardi di ruang pengolahan pustaka, Perpustakaan IKIP Yogyakarta, 25 Juni 1981) segera mengunci kamar kerja kita ketika mulai bekerja.

Untuk menghalau rasa bosan, kami ngerumpi tentang banyak hal. Termasuk tentang gaya pria gagah yang reporter berita TVRI asal Manado, yang saat itu tampil begitu "barat dan keren." Namanya Willy Karamoy. Kami pun segera menirukannya. Juga menirukan suasana upacara kenegaraan 17 Agustus seperti dilaporkan di televisi. Termasuk nyanyi-nyanyinya.

Aksi kita ini pernah dikomentari oleh Ibu Suatminah sebagai "menunjukkan perasaan bahagia kami berdua ketika bekerja di perpustakaan."

Saat itu saya ketularan salah satu kebiasaan dari Pak Sungkono yang membekas.Sayangnya, bukan ketularan kecerdasan beliau dalam menyerap mata kuliah. Tetapi tentang aksi meraih sehat dengan ulah menendang-nendang udara.

Aksi itu dia peragakan bila kita sama-sama turun tangga. Sambil turun, kaki kiri dan kaki kanan bergantian menendang udara. "Untuk melancarkan aliran darah kembali di kaki-kaki kita," nasehatnya. Setelah lama hanya duduk-duduk saja, rasanya nasehat beliau itu benar adanya.

Bersibuk-ria di bagian layanan itu menyenangkan karena, bagi saya, bisa ketemu banyak orang. Macam-macam orang. Bisa melihat mahasiswi-mahasiswi cantik. Saya senang melihat Ida Prastini, dari bahasa Inggris.

Pada tanggal 11 Agustus 1981 ia nampak chic dengan dres warna kuning dengan syal merah. Kami bisa sedikit mengobrolkan isi buku dramanya Arthur Miller, Death of Salesman (1951), buku yang saat itu hendak ia pinjam.

Tetapi sayang, saya tidak sempat menemui Siti Rubiyati Latifa asal Ponorogo. Mahasiswi Ekonomi Perusahaan Angkatan 1978 itu di foto nampak cantik sekali.

Tanggal 10 Agustus 1981. Senin. Di rumah familinya Pak Sungkana Hadi, di barat THR, malam itu kami mengobrolkan isi surat yang dikirimkan Sri Mulungsih. Saya tulis di buku harian bahwa, "surat Sri dramatis."

Ceritanya tentang empat teman dekat kami yang terpaksa harus drop out. Malam itu Teddy juga ikut bergabung, akhirnya saya malah tidur di sini. Saya menutup cerita malam itu dengan kalimat : Berhimpunnya 3 Sekawan Pemalas ! Malas mencicil dalam mengerjakan laporan praktek kerja di Yogya tersebut.

Pustakawan tidak mendengarkan. Praktek kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa ilmu perpustakaan telah kami lakoni. Materinya benar-benar klop.

Tetapi saya sering memergoki, ketika sesuatu perpustakaan menjadi tempat PKL untuk pelajar dan bukan mahasiswa ilmu perpustakaan. Anehnya,mereka cenderung memperoleh perlakuan yang sama dengan kami.

Mereka itu nampak selalu dicekoki dengan pemahaman dasar dan bahkan "dipaksa" melakukan praktek-praktek kerja pengelolaan perpustakaan.Tak ada yang salah fatal. Tetapi, hemat saya, kurang pada tempatnya.

Beberapa tahun lalu saya telah menulis surat pembaca di harian Kompas Jawa Tengah untuk mendiskusikan pendekatan miopia kalangan pustakawan selama ini. Dimuat : Selasa, 17 Juli 2007.


Otak Mubazir di Perpustakaan

Musim liburan banyak digunakan para pelajar untuk melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL). Kegiatan yang positif dan bermanfaat. Salah satu tempat mereka melaksanakan PKL adalah perpustakaan.

Ketika mengamati dan menyimaki pelaksanaan PKL selama ini, boleh saya katakan para pelajar itu lebih banyak menganggurkan otak mereka. Karena jenis pekerjaan yang diberikan kepada mereka kebanyakan seputar pekerjaan rutin administratif, yang bahkan lulusan pendidikan yang lebih rendah pun mampu melaksanakannya.

Saya usulkan, para pelajar tersebut juga diajar untuk memanfaatkan secara maksimal khasanah pengetahuan yang dimiliki perpustakaan. Misalnya, mereka didorong memilih buku-buku nonfiksi/ilmu pengetahuan yang menjadi minatnya, kemudian diminta menuliskan pendapatnya. Karya tersebut kemudian dipajang di papan informasi atau dipresentasikan bersama teman lain, guru, juga pustakawan setempat.

Mereka juga bisa diajak berdiskusi mengenai problem aktual seputar minat baca/menulis dan pengelolaan perpustakaan di kotanya. Juga tidak kalah penting, mereka didorong untuk memiliki rasa percaya diri untuk menulis, mengemukakan pendapat, termasuk menulis surat pembaca.

Saya percaya, tantangan mengasah intelektualitas itu akan menjadi pengalaman yang menarik. Karena otak mereka tidak dibiarkan mubazir, sekaligus mereka mendapatkan pengalaman nyata betapa gagasan atau aspirasi mereka dihargai.

Bagi perpustakaan, suara anak-anak muda sebagai konsumennya itu patut didengarkan dan diapresiasi !


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Wonogiri, 21 November 2010

Minggu, 31 Oktober 2010

Peppy, Buku Seks dan Pustakawan Dunia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Di gunung itu musibah telah terjadi.
Salah satu dari dua pendaki gunung terperosok.
Kecebur jurang.

Pendaki gunung yang selamat segera berteriak di bibir jurang. "Bert ! Bert ! Apakah kamu selamat ?" Tak ada sahutan. Setelah berteriak beberapa kali, hati John bergembira. Temannya ternyata masih hidup.

"OK, John. Aku selamat. Tetapi badanku, kakiku, lenganku, patah semua !"
"Bagaimana kalau kau kutarik ke atas dengan tali ?"
"Agak sulit, John. Satu-satunya cara, tali itu harus aku gigit dengan gigi-gigiku."

Demikianlah John mulai menarik sobat kentalnya itu. Usaha itu nampaknya berjalan baik. Sesekali John berteriak :

"Kau masih OK, Bert ?"
"U-uuh," Bert mendengus.

Begitulah komunikasi aneh itu terus terjadi. Bert selalu menjawab dengan dengusan. Menjelang sepuluh meter, rasa kegembiraan mereka berdua pun memuncak. Saking gembiranya, John berteriak lagi : "Kau masih kuat, kan Bert ?" Karena terpagut oleh rasa gembira, Bert pun segera menjawab dengan teriakan keras : "Yaa! Yaaaaaaaaa…."

Gelombang Ketiga sampai Cinta. Saya sudah lupa judul buku kumpulan lelucon yang memuat kisah lucu dan tragis dari Bert dan John tadi. Tetapi saya ingat, buku itu saya beli dari toko buku Gramedia Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tahun 1980-1981-an.

Ketika masa-masa berkuliah, toko buku ini adalah tempat favorit untuk dikunjungi. Sebetulnya juga ada toko lainnya, di Jl. Gajah Mada. Tetapi untuk menjangkaunya dari Rawamangun lebih ribet dibanding kemudahan nyengklak bis PPD No 38, 39 atau Mayasari 300, untuk sampai di Blok M. Atau gratisan membonceng rekan kuliah, Bakhuri Jamaluddin, yang bertempat tinggal di kawasan Hang Jebat, Kebayoran Baru, tersebut.

Di toko Blok M itu saya pernah membeli buku lainnya. Antara lain, karya Alfin Toffler, The Third Wave (1981). Setelah mendapat honor tulisan berjudul "Ensiklopedia : Jagat Ilmu Pengetahuan Dalam Satu Sajian" di majalah Gadis edisi No.6/10/1983, pada tanggal 6 Oktober 1983, buku idaman itu bisa saya miliki. Buku Toffler sebelumnya, Future Shock, sering disebut-sebut oleh teman saya yang berasal dari Padang, Zulherman.

Buku lainnya adalah karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions (1980). Saya beli tanggal 25 Oktober 1986, saat memergoki Gus Dur dan sempat bertukar lelucon saat itu. Bahkan momen itu kemudian menjadi ilustrasi cerita dalam artikel saya, "Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri" yang dimuat di kolom Teroka, harian Kompas, 27/1/2007 : h. 14.

Di toko buku yang sama, tahun 1982, terbeli pula buku berbau astrologi, Star Sign for Lovers. Saya tidak tahu di mana kini buku itu berada. Tetapi saat membelinya saya kepergok, tak bisa menghindar, untuk ketemu secara tak terduga dengan Miduk. Ini nama panggilan kesayangan diantara keluarganya di Solo, sosok yang saya sebut sebagai wanita indah dalam hidup saya. Saat itu dia bersama suaminya. Sedang berbadan dua.

Tahun 2005 saya pernah menulis di salah satu blog saya, cerita tentang momen pertemuan tak terduga itu. Termasuk penggalan kisah di tahun 1978 saat Miduk memberi saya teks lagu indah dari The Bee Gees yang bergaya disko, "How Deep Is Your Love."

Di dalam tulisan blog itu sempat saya kutipkan tuturan penjelajah dan kerabat Istana Inggris, Walter Raleigh (1552-1618), bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati itu adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Saya pikir, dan saya harap, cerita di blog itu baru akan dibaca nanti oleh anak atau cucunya. Tetapi dasar Internet, semua rahasia apa pun yang terpajang di dalamnya akan mudah sampai kepada yang berhak. Kejutan lalu terjadi.

Pada hari Senin siang, 22 Maret 2010 saya mendapatkan telepon surprise. Dari Jakarta. Dari Krisandari, adik terkecilnya Miduk, yang kebetulan murid saya di sanggar melukis anak-anak di tahun 1979-1980 di Solo. Setelah mengobrol, nDari menyimpulkan isi blog itu dalam SMSnya :

"Iya mas..ceritane lucu bngt..menyenangkan..Dan kita jd inget Ibu yg sabare sakpole.Klo hari geneh punya anak perempuan 6 ?? ["Cantik-cantik semuanya !" - BH] Cepet stroke kali ya..hahaha.. Ada salam dari mb Miduk, mb Nina, mb Diah, Agus & tdk lupa sahabat saya Anita barusan sy fax tulisan mas Hari ke Anita. Maklum dia ga bs buka email. Gaptek. Mtrnwn semoga tdk terganggu. Sugeng siang." (22/3/2010 : 12.13.17).

Inter-librarian loan. Kembali ke buku kumpulan lelucon tadi. Isi lainnya yang saya ingat adalah cerita tentang seorang arsitek yang dengan bangga mengajak kliennya untuk memeriksa bagian dalam gedung opera yang baru saja ia rampungkan. Sang arsitek itu bilang dengan rada arogan :

"Akustik gedung ini sangatlah hebat ?"
"Apa ?" sergah sang klien.

Lelucon lainnya, saya sudah lupa. Buku itu juga tidak saya miliki lagi. Pada tahun 1981-1982-an, buku itu saya pinjamkan kepada Peppy Marlianti. Mahasiswi JIP-FSUI Angkatan 1981. Ia seangkatan dengan Ahmad Supanto, Andriaty Selvina, Balqis, Sofie Yusuf, Yohanes Sumaryanto (dosen JIP), dan juga Utami Budi Rahayu Hariyadi (juga dosen JIP kini).

Peppy yang baik hati itu, gantian meminjami saya buku menarik, The Book of Lists susunan Irving Wallace, David Wallechinsky dan Amy Wallace. Halaman yang memuat data tahun terbit, sudah tidak ada. Pada Bab 15 yang memuat daftar yang sepertinya dianggap bermuatan pornografi, halaman 315-336, telah hilang. Pada daftar isi, info untuk halaman itu diblok dengan spidol hitam.

Bila ditelusuri dari indeks ("dasar pustakawan, kan ?") isi yang hilang itu antara lain : berisi daftar tokoh yang meninggal dunia saat berhubungan seks, perilaku seks tokoh-tokoh wanita terkenal sampai cerita perihal perilaku seks menyimpang kaum pria.

Lupakanlah seks. Mohon maaf, mbah Sigmund Freud. Karena masih banyak daftar yang menarik dari buku itu, selain mengurusi arena selangkangan. Bahkan isi-isi menarik itu telah saya jadikan sebagai bahan tulisan untuk surat-surat kabar. Termasuk untuk majalah Klub Perpustakaan Indonesia (KPI), Pembimbing Pembaca, yang dipimpin Ibu Adwityani Soebagjo, dan redaksinya Reno "Errie" Ilham Nasroen.

Misalnya cerita tentang perilaku eksentrik Victor Hugo (1802-1855), pengarang The Hunchback of Notre Dame dan Les Miserables yang tersohor itu. Konon, bila Hugo mentok saat menulis, ia lalu meminta pembantunya untuk mencopoti seluruh pakaiannya. Lalu ia tinggal di kamar, dan karena merasa tak ada hal lain yang ia lakukan, maka Hugo pun kembali menulis !

Daftar menarik lainnya adalah tentang para pustakawan terkenal dunia. Misalnya Mao Tse Tung (1893-1976). Pada tahun 1918 dia menjabat sebagai asisten pustakawan pada Universitas Bejing. Ketika berpandangan bahwa masa depannya tak menjanjikan, Mao banting setir ke bidang politik, yang akhirnya mampu meraih posisi sebagai Ketua Partai Komunis China.

Tokoh pustakawan lainnya adalah Gottfried von Leibniz (1646-1716), filsuf, matematikus, diplomat dan raksasa intelektual Jerman saat itu. Ia menjabat sebagai pustakawan di kota Hanover 1676 dan Wolfenbuttel tahun 1691. Perayu perempuan termashur pernah menjadi pustakawan dari Count von Waldstein di Dux Bohemia selama 13 tahun. Dia adalah Casanova. Nama aslinya : Giovani Giacomo Casanova de Seingalt (1725-1798).

Nama sohor lainnya : David Hume, August Strinberg, John Braine, Paus Pius XI, Sam Walter Foss, Archibald Mac Leish, sampai J. Edgar Hoover (1895-1972), bos FBI yang terkenal sukses menguber-uber bandit kakap karismatis John Dillinger sampai raja Mafia Al Capone. Hoover ketika muda menjadi pesuruh dan kataloger di Perpustakaan Konggres AS.

Di mana kini Peppy ? Berita terbaru terkait Reuni JIP 2008, saat Hartadi Wibowo menelpon saya, ia tidak menyebut nama Peppy. Saya juga belum mencoba mencari-carinya melalui Google atau Facebook. Syukurlah, saya baru menemukannya via Facebook. Silakan klik di sini. Kalau nanti Anda bisa kontak (permintaan saya menjadi teman belum ditanggapi), tolong kabarkan semoga Peppy sudah lupa dengan buku The Book of Lists miliknya itu.

Sebab dengan cara menyimpan bukunya itu, saya masih bisa terus mengingat sosoknya, yang charming, berkacamata, yang menawan dan baik hati itu. Di tasnya, terkadang tersimpan sebungkus rokok :-). Juga bisa mengenang momen saat kami bersama-sama, antara lain Hartadi Wibowo dan lalu ketemu pula dengan Peggy Juanita Umbara, bergulat di Hotel Borobudur. Rabu, 30 Mei 1984.

Siang hari. Bukan di malam hari.
Bukan di kamar. Tetapi di ruang pertemuan.

Walau saya merasa tidak melamar, tetapi hari itu saya ikut dipanggil untuk ikut melaksanakan tes tertulis untuk menjadi karyawan arsip dan pustakawan pada perusahaan minyak terbesar kelima di dunia, asal Perancis : Total Indonesie. Kalau lolos tes, bekerjanya nanti di Balikpapan.

Saat itu saya belum minta maaf kepada Teddy dan Peppy, karena pagi itu saya terlambat bangun. Tentunya membuat mereka jengkel, harus menunggu saya mandi. Sesudah tes, kami mengobrol. Peppy cerita tentang beberapa jebakan pertanyaan dalam tes bahasa Inggris tadi. Tetapi yang rada seru, kami berbagi cerita mengenai besaran gaji yang kami minta, dan diisikan dalam formulir sebelum tes.

Terdengar bunyi riuh : juta, juta dan jutaan !
Harga calon lulusan pendidikan ilmu perpustakaan yang saat itu lagi terbang di awan.

Murtad, kecebur jurang. Beberapa hari sesudah tes itu, di ruang kantor dosen JIP, saya ikut mengobrol dengan ibu-ibu dosen. Antara lain saya bercanda, bahwa sesudah lulus nanti, mungkin saya akan bekerja di Balikpapan.

Entah kenapa, saya kok saat itu tiba-tiba terantuk kepada pandangan Ibu Lily K. Somadikarta, Ketua Jurusan JIP-FSUI. Sepertinya beliau mengirim sinyal ucapan : "Bambang, kau jangan pergi ke sana."

Terima kasih, Ibu Soma.
Begitulah kisah hidupku yang kemudian terjadi.

Saya memang tidak pernah pergi ke Balikpapan. Sampai kini. Tetapi juga tidak ke Depok yang kampus JIP-FSUI.Bahkan malah kecebur jurang gelap, sehingga menjadi "murtad" habis-habisan. Karena selama ini tidak bersetia sekali kepada DNA saya, dunia ilmu perpustakaan dan kepustakawanan.

Mengambil tamsil tentang pendaki gunung tadi, mungkin saya adalah gambaran tokoh Bert yang terperosok masuk jurang. Patah tangan, patah kaki, tetapi syukurlah, masih selamat.

Kini saya sedang mendaki lagi. Mungkin itu upaya saya untuk berusaha menebus dosa-dosa lama saya tersebut. Semoga semuanya belum menjadi sangat terlambat !


Wonogiri, 31 Oktober 2010

Kamis, 28 Oktober 2010

Reuni JIP-FSUI 2008, Reuni Tiga Generasi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at ) gmail.com



"Setiap perpisahan," demikian teolog Amerika, Tryon Edwards (1809-1894), telah bilang, "merupakan bentuk dari kematian." Lalu ia lanjutkan : "Sebagaimana setiap reuni merupakan bentuk dari sorga."

Tahun 2008, suasana sorga itu menyapa.

Setelah hampir sekitar seperempat abad lebih berpisah, suatu berkah bahwa pertemuan keluarga besar sivitas akademika dari Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP-FSUI), telah terjadi. Termasuk dihadiri oleh tiga rekan kuliah kita sesama Angkatan 1980 : Hartadi Wibowo, Rizal Saiful-haq dan Gustina Sofia.

Kini di tahun 2010, kita pantas bersyukur karena Hartadi Wibowo telah berbaik hati membuka-buka album fotonya. Kemudian rela membagikannya, me-reuni-kannya kepada kita semua lewat akun Facebooknya. Silakan simak foto dan cerita yang membahagiakan, juga mengharukan, di bawah ini. Demikian juga simaki pelbagai komentar yang mengiringinya.

hartadi wibowo,liliy k somadikarta,rizal saiful-haq,yaz anggraeni,reuni jip-fsui 2008,ilmu perpustakaan,pertemuan terakhir edngan ibu soma

Bakhuri Jamaluddin. Aduh, sedari dulu kalau menyesal itu belakangan ! Kenapa BJ berhalangan hadir kala itu. Keren banget deh, Hartadi (Si Kumis) dan Rizal (Si Jenggot) bisa mengapit Ibu Lily "Katalog" Somadikarta (dosen Katalogisasi, Klasifikasi, dan "Etsitera") Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI 1970-an hingga 2008-an.

Bambang Haryanto. Tks, mengharukan sekali. Usul : harusnya diberi data 5W+1 H (bukan "HW"), sehingga saya bisa ikut merasakan atmosfir dan suasana hati. Apa gadis cantik beryellow jacket itu putrinya Teddy yang juga mahasiswi JIP ? Kalau benar, saya kok ikut merasakan kebahagiaan reuni sebuah keluarga dengan penuh kesan. Tell me more, Teddy dan juga Rizal. Bukan hanya tentang (nyontek BJ) kumis atau pun jenggot yang menawan dari Anda berdua !

Hartadi Wibowo. Ya, itulah moment terakhir dng almh ibu kita Lily Somadikarta, di bulan Februari 2008 pd waktu acara Reuni Akbar JIP FSUI. Angkt 80 yang datang hanya saya dan bang RSH yang kini menjabat sbg Ketua JIP UIN Jakarta. Yang ber-yellow jacket ada...lah Tyaz, anak saya yang mengikuti jejak bapaknya belajar DDC dng segala facet-facetnya. Saya sempat bercanda dng bu Kalangie dan almh bu Soma, bahwa seharusnya anak saya memanggil "eyang dosen" kepada beliau.

Bu Kalangie juga berkomentar, "Teddy, anak you pintar lho, nilainya bagus-bagus. Saya jawab, " iya bu, nggak spt bapaknya ya,". Maklum, bapaknya dulu tidak ngejar nilai, tapi hanya ngejar lulus. Ketika bu Soma meninggal, saya tdk bisa datang melayad. Namun kenangan ttg almarhumah tdk akan hilang. Saat itu saya hanya bisa mendoakan dan berucap "Selamat jalan eyang dosen".

Sri Rumiati Atmakusumah. Iya, aku menyesal sekali gak bisa datang waktu itu, saya mesti keluar kota rasanya deh... Gak ada lagi deh kesempatan bertemu dan berfoto sama Ibu "Katalog" Somadikarta yang begitu mengesankan ...

Zul Herman. Yah sebagian besar kita tidak sempat hadir pada saat itu. Cuma Teddy dan Pak Rizal saja yang beruntung sempat datang dan mengabadikan momen penting itu.

Subagyo Ramelan. Mungkin karena aku sdh tidak berkecimpung di bidang perpustakaan/perbukuan, aku ketinggalan informasi tentang reuni ini. Yaaah, nanti kalo ada kesempatan lagi...

Hartadi Wibowo. Mbah Yo, sayapun sdh sejak th 1997 tidak lagi ngurusi perpustakaan. Namun rasa kangen ketemu teman-teman seperjuangan dan para kesepuhan (dosen), maka langkah kakipun sampai ke Depok.

Mudah-mudahan nanti kalau ada acara reuni lagi kita bisa kumpul. Mungkin tidak ada jeleknya kalau kita berpikir "siapa tahu ini kesempatan terakhir kita bertemu sahabat lama". Apalagi skrang kita sdh "dipertemukan" di dunia maya, akan lebih mempermudah komunikasi.

Selamat beraktifitas. Wassalam,

Kini sebagian dari dosen-dosen kita itu, juga beberapa teman kuliah, telah melakukan reuni agung dan abadi dengan Sang Pencipta. Seperti Teddy bilang, dan kita semua mengamininya, bahwa : ""Selamat jalan eyang dosen."


Wonogiri, 29/10/2010

P.S. : Saya tunggu cerita dan juga kiriman foto-foto berikutnya dari teman-teman sesama Angkatan 1980. Cerita apa saja yang menarik untuk dibagikan, untuk berbagi kegembiraan, kebahagiaan, dan nilai-nilai kehidupan.