Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bambang haryanto. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Januari 2015

Rumi, Pustakawan Tidur dan Lempung Digital

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui@gmail.com



“Buku adalah sumber pengetahuan.”
Itu kata Rumi. Tapi lanjutnya, “buku bisa juga sebagai bantal tidur.”

Sementara di tangan Jackie Chan, seperti dalam film-filmnya, bisa menjadi sarana bela diri. Bagi saya, buku bisa menjadi brankas kecil. Untuk menyelip-nyelipkan uang kecil.  

Sementara kata orang, kitab suci merupakan brankas teraman dalam sebuah keluarga. Silakan menambahkan manfaat buku selain yang kita akrabi sebagai pustakawan.

Yang menonjol, buku di mata pustakawan semata menjadi obyek seksi ketika dipadankan dengan tabel DDC, tajuk subjek, dan pelbagai pernak-pernik data bibliografis untuk menyempurnakan proses tugas sucinya, yaitu melakukan tata simpan dan penemuan kembali. 

Dalam konteks ini pustakawan tak ubahnya sebagai manajer gudang, mengelola kontainer, sementara isinya dimanipulasi secara dangkal semata untuk kepentingan memudahkan tata simpan dan penemuan kembali. Itu marak baik  itu di era katalog kartu mau pun di era digital saat ini.

Blasius Sudarsono
 dan Ratih Rahmawati dalam Perpustakaan Untuk Rakyat : Dialog Anak dan Bapak (2012) seperti diberi garis bawah oleh Agus Rusmana, mengibaratkan perpustakaan bukan sebagai gudang tetapi sebagai “restoran yang menyediakan santapan rohani.” 

Tandas Agus Rusmana yang menulis pengantar, “jika restoran hanya menyajikan bahan mentah dan menyuruh pelanggannya untuk memasak sendiri bahan itu, tentu mereka lebih memilih makan di rumah... Seharusnya pustakawan ‘berbuat lebih’ daripada sekedar menjejerkan koleksi dan menandainya untuk kemudahan penemuan kembali.” (hal.x).


“Barangkali disitulah kekurangwaskitaan kita sebagai pustakawan,” cetus Pak Blasius Sudarsono kepada saya di sela rapat kerja Renstra 2015 Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia/YPPI  dan PT Daya Pustaka Prima di The Gambir Anom Hotel, Boyolali, 7/1/2015.  

Saat itu kami bertiga mengobrol ringan tentang model bisnis dari Buqu Indonesia yang diwakili Ardiansyah (batik merah), yang kemudian memberikan presentasi kepada kita semua.



Buqu Indonesia berbisnis buku-buku digital. Dengan mengagregasi penerbit, toko buku dan konsumen dalam sebuah ekosistem yang mampu memberikan kemudahan dan keuntungan bagi semua fihak. Dalam presentasinya, Buqu Indonesia berencana menggandeng juga perpustakaan.

Mereka kiranya sadar dan tahu bahwa manipulasi isi, termasuk isi yang dikandung dalam perpustakaan, merupakan lahan kreatif, ibarat tanah lempung digital yang  bisa bebas ditekak-tekuk untuk dibentuk sejauh imajinasi orang yang melakukannya.

Kekurangwaskitaan yang dimaksud Pak Blasius mungkin terjadi karena kita kaum pustakawan terlalu inward oriented. Akibatnya  tidak mampu melihat profesinya  dalam bingkai kanvas besar dari dunia yang terus  berubah.  Kemudian kita tidak sadar bila domain kita terus digerus oleh pemain-pemain baru di dunia digital yang inovatif dan menggedor pintu kita silih berganti.

Apakah semua terjadi, dengan meminjam kata Rumi, mungkin karena  selama ini pustakawan hanya menjadikan buku sebagai bantal belaka ?


Wonogiri, 14 Januari 2015

Sabtu, 16 Juni 2012

Ilmu Perpustakaan, Kick Andy dan Suporter Sepakbola

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com

"Ilmu pengetahuan itu ada dua.
Pertama adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, dan yang kedua adalah bagaimana menemukan sumber-sumber informasi tentang ilmu pengetahuan tersebut."

Kata mutiara Samuel Johnson (1709-1784, foto) itu pertama kali saya peroleh dari Ibu Lily K. Somadikarta (colek mBak Lini Ashdown di Stoke Goldington,Inggris), dosen JIP saya.

Saya bangga dan bahagia bisa menimba ilmu di JIP untuk bisa terampil dalam menguasai jenis ilmu pengetahuan yang kedua. Tahun 2000, keterampilan itu saya gunakan untuk menggali solusi demi ikut mengatasi problem kronis di dunia suporter sepakbola Indonesia.

Saya pun membicarakannya, juga menuliskannya, sampai kini (bisa Anda klik di : Suporter Indonesia).

Jejak belum terhapus. Tahun 2002, saya "pensiun" dari dunia suporter sepakbola. Artinya : tidak lagi kluyuran di stadion, entah itu di Jakarta, Solo, Malang, atau Kallang di Singapura. Ternyata jejak lama itu belum terhapus atau terlupakan. 

Masih saja ada fihak yang mengajak untuk berbincang tentang dunia suporter sepakbola Indonesia.Kali ini (rekamannya berlangsung tanggal 13/6/2012) malah di depan audien dan kamera.

Bambang Haryanto dan Mayor Haristanto dalam acara Kick Andy, 22 Juni 2012, Acara Kick Andy, 22 Juni 2012, menampilkan dua tokoh perintis suporter kreatif dari Pasoepati Solo, Mayor Haristanto dan Bambang Haryanto

Hura-hura mengubah panggung Kick Andy jadi anjungan suporter sepakbola. Foto : ki-ka : Saya, adik saya Mayor Haristanto, dan Bung Andy F. Noya.

Reuni Angkatan 1980 di Udara. Saya berangkat dari Wonogiri, Rabu, 13 Juni 2012, pagi. Rombongan kami terdiri lima orang, yaitu Mayor Haristanto, Nani Mayor, Lintang Rembulan (anak kedua Mayor), Bhakti Hendroyulianingsih (adik saya) dan saya sendiri.

Setiba di ruang tunggu bandara Adi Soemarmo, saya ketemu teman lama. Dulu sama-sama aktif ber-kunst-ria, berkesenian, di Sanggar Mandungan, depan Kraton Solo, Surakarta, tahun 1977-1980. Saat itu dia mahasiswa Seni Rupa UNS. Nama panggilannya, Bogang, eksekutif di Taman Impian Jaya Ancol. Di ruang yang sama, sebenarnya ada kejutan lain, tetapi baru "meledak" ketika pesawat Boeing 737 900 ER dari Lion Air itu menjelang menuju landasan pacu.

Ketika mulai duduk, tiba-tiba HP saya berbunyi. Dari teman kuliah saya di JIP-FSUI Angkatan (masuk) 1980 : Hartadi Wibowo. Ternyata ia menelepon dari tempat duduknya, kursi deretan nomor 7 dan saya di deretan nomor 24. Kami satu pesawat.

Di Facebook kemudian ia menulis, pakaian saya yang mencolok serba merah dan ber-kethu merah, membuat ia mudah mengenali. Sayang, kami juga tidak bisa ketemuan di Bandara Soekarno-Hatta.

Malamnya, ketika tampil di panggung, senang sekali melihat teman seangkatan saya lainnya, Bakhuri Jamaluddin, telah  ikut menjadi suporter saya dengan hadir malam itu di studio MetroTV, Kebun Jeruk, Jakarta. Terima kasih, BJ.

Menjadi gong acara. Acara diawali dengan testimoni Ibu dan adik dari Rangga Cipta Nugraha (22). Rangga adalah 1 dari 3 suporter yang tewas dianiaya suporter brandal di sekitar GBK Senayan, 27/5/2012 yang lalu. Sedih sekali.

Segmen kedua tentang suka duka Yuli Soempil Soegiarto, dirijen suporter Aremania (Malang). Ia pernah jadi bintang di film The Conductor, karya sutradara Andibachtiar Yusuf. Obrolan yang penuh gelak.

Segmen ketiga, cerita-cerita  menarik dari Andibachtiar Yusuf, pembuat film dengan ciri khusus berlatar belakang suporter sepakbola. Filmnya pernah dpt penghargaan di Berlin Film Festival. Saya kenal via email dengan Andi ini sejak 2005. 


Melalui istrinya saat hendak membuat film di Sukoharjo (2006),  Ucup -sebutan akrabnya- memberi saya buku karya Pramudya Ananta Toer-nya Uruguay,Eduardo Galeano. Judulnya, El FĂștbol A Sol Y Sombra (Football In Sun and Shadow). Saya baru bisa temu muka ya di studio MetroTV Rabu malam itu.Gantian saya beri dia buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau (Imania,2012). .

Segmen keempat, juga menampilkan dosen sosiologi UGM, Muh. Najib Azca,Ph.D. Saya mendapatkan banyak wawasan dan inspirasi atas pendekatan beliau yang berbingkai youth culture studies untuk membedah kerusuhan suporter sepakbola.

Di segmen ini bung Andy F. Noya (host), Mas Najib Azca, Mayor Haristanto (presiden pertama kelompok Pasoepati, suporter Solo ; yang juga adik saya) dan saya sendiri, seru terlibat dalam bincang-bincang yang menjadi "gong" acara malam itu.
 

Saksikan tayangannya, Jumat, 22 Juni 2012, di MetroTV, Jam 21.30.
Tayangan diulang siarnya, Minggu, 24 Juni 2012, Jam 15.30.

Kalau seniman pop art Andy Warhol bilang, "semua orang punya jatah terkenal masing-masing 15 menit," di acara Kick Andy kiranya jatah saya lebih sedikit.  

Silakan klik :


Semoga kabar ini ada manfaatnya bagi dunia ilmu perpustakaan Indonesia.

Wonogiri,17 Juni 2012

Rabu, 16 Mei 2012

Ibu Soenarti Soebadio Dalam Kenangan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Pukul 18.45, Rabu 16 Mei 2012,
telah pulang keharibaanNya Allah SWT guru kita Soenarti Soebadio (foto,85 th) di RS MMC Jakarta.

Mari kita bacakan Alfatihah sembari berdoa semoga amal ibadah beliau diterima dan kesalahannya dimaafkan. Amin.


Zulfikar Zen
JIP-FSUI


PS : Tolong beritahu teman2 alumni JIP-FSUI."

Itu tadi sms yang saya terima dari rekan saya Bakhuri Jamaluddin, Rabu, 16 Mei 2012, jam 21.25.21.

Song of Joy. Ketika saya menjadi mahasiswa JIP-FSUI, Ibu Soenarti menjabat sebagai Sekretaris Jurusan. Ketua Jurusan dijabat oleh Ibu Lily K. Somadikarta. Ibu Soenarti sendiri mengajar mata kuliah Bahan Referensi Umum. Asistennya, mBak Siti "Ining" Sumarningsih.

Mungkin karena sedikit banyak saya memiliki gen suka menulis, maka mata kuliah beliau tersebut menjadi salah satu favorit saya. Pengetahuan tentang pelbagai jenis sumber informasi, tentu saja masih saja sangat berguna puluhan tahun sesudah saya lulus.

Bisa dikatakan ia sudah menjadi "alat hidup" yang terintegrasi dalam diri saya guna menghasilkan karya-karya kreatif. Bahkan mungkin ini pula satu-satunya warisan kuliah yang tetap relevan dalam hidup saya sampai kini.

Salah satu kenangan yang melintas di benak saya adalah Ibu Soenarti pernah bertanya kepada seluruh kelas tentang nomor simfoninya Beethoven tetapi disajikan secara pop. Saya tunjuk jari. "Song of Joy" dan dinyanyikan Miguel Rios," jawab saya.

Reaksi lanjutan dari beliau tak terduga. "Sekarang Sdr. Bambang," lanjut beliau, "silakan untuk menyanyikan lagu itu bagi kita semua." Saya mati kutu. Saya angkat tangan.Saya tidak bisa menyanyi.

Desertir Perancis. Peristiwa lain, adalah saat saya, Sri Mulungsih dan Zul Herman, sama-sama kasak-kusuk, karena sama-sama takut bila nanti dipanggil oleh Ibu Soenarti. Sebagai sekretaris jurusan beliau mengetahui seluk-beluk data perkuliahan mahasiswa.

Kami bertiga saat itu diam-diam melakukan "desersi," membelot dari mata kuliah bahasa sumber, yaitu Bahasa Perancis, yang diampu oleh almarhumah Ibu Nurul Oetomo. Karena merasa kesulitan,setelah hanya mengikuti kuliah sekitar tiga bulan, kami berhenti diam-diam. Dampaknya, kami takut akan diinterogasi oleh Ibu Soenarti terkait tindak indisipliner kami ini.

Syukurlah, ada solusi. Sri Mulungsih tetap mengikuti mata kuliah itu. Saya dan Zul Herman, walau rugi waktu, pindah untuk mengikuti Bahasa Belanda.

Di kelas ini pula saya mengenal mahasiswi anggun dari Sastra Inggris, Siti Rabyah Parvati, yang putri pahlawan nasional Sutan Sjahrir. Saya suka duduk dibelakangnya, sehingga bisa minta bantuan saat kuis/tes berlangsung.

Perang Malvinas. Dalam kenangan saya juga terlintas saat saya mau memilih spesialisasi kajian tentang perpustakaan. Saya memilih perpustakaan khusus. Kuliahnya di PDII-LIPI, pengajarnya Bapak Blasius Sudarsono. Teman kuliah saya antara lain lain Bakhuri Jamaluddin, Djuhar (almarhum), Gemuru Ritonga, Gustina Sofia, Uhum Lantang Siagian (almarhum) dan Zul Herman. Itu teman-teman yang bisa saya ingat.

Tetapi saat itu, dalam berkonsultasi, Ibu Soenarti menganjurkan saya untuk memilih perpustakaan umum. Beliau merujuk riwayat hidup saya yang pernah memimpin sanggar melukis anak-anak dan menyukai bacaan anak-anak. Untuk yang terakhir ini nampaknya saya telah beliau plot untuk menjadi asisten Bapak Sunindyo, pengajar mata kuliah Bacaan Anak.

Yang terjadi kemudian saya justru menjadi asisten mahasiswa untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Perpustakaan membantu Bapak Achmad Royani ("kami suka mengobrol masalah persenjataan mutakhir, karena di tahun 1982 meletus Perang Malvinas"). Tetapi yang lebih lama, adalah menjadi asisten mata kuliah Media Teknologi, membantu Bapak Karmidi Martoatmodjo (almarhum).

Interaksi saya dengan Ibu Soenarti, juga dengan Ibu Somadikarta dan Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak (foto bawah), terjalin lebih dekat ketika bersama mBak Ining pula, kami mengadakan tur ke Undip Semarang. Cerita komplitnya di : sini.

Keterangan foto (ki-ka) : Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak (wafat 28 September 2010), Ibu Soenarti Soebadio (wafat 16 Mei 2012) dan Ibu Lily K. Somadikarta (wafat 18 April 2009).

Ketiganya saya potret bulan Oktober 1982, menjelang peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan Indonesia di mana foto-foto para pengajar sejak tahun 1950-an dipamerkan. Kini beliau bertiga semoga senantiasa sejahtera disisiNya.

Lini Ashdown, putri Ibu Lily K. Somadikarta, yang bermukim di Inggris menulis komentar di Facebook terkait berita duka ini : "May she rest in peace. Lihat foto mereka bertiga saya hanya ingat kalau mereka cas cis cus pakai bahasa Belanda. 

Makanya tadi waktu Bapak sms saya memberitahu Bu Narti meninggal saya langsung berpikir, habislah generasi itu. Waktu saya mengatakan ke suami: The end of Mama's generation, dia langsung tanya: Ada yang meninggal?"

Kabar dari Zul Herman, jenazah Ibu Soenarti Soebadio disemayamkan di rumah duka
Jl. Siaga 2 No. 43, Pejaten, Pasar Minggu. Beliau akan dimakamkan Hari Kamis, 17 Mei 2012, setelah Zuhur, di Karet Bivak.


Selamat jalan, Ibu Soenarti Soebadio.


Wonogiri, 17 Mei 2012

Kamis, 26 April 2012

Perpustakaan Jantung Pendidikan : Pustakawan Bukan Orang Buangan

Oleh :Bambang Soebendo
Dimuat di Harian Sinar Harapan, 25 Januari 1985

TUGU, JABAR. – Seorang pustakawan Universitas Peking tahun 1918 memutuskan berhenti sebagai pustakawan dan terjun dalam dunia politik. Pustakawan itu kemudian terkenal seantero dunia, bukan sebagai pustakawan tetapi lebih sebagai seorang politikus. Ia tidak lain Mao Tse Tung.


Dalam buku The Book of Lists terdapat nama-nama orang besar yang memulai kariernya sebagai seorang pustakawan. Selain Mao Tse Tung, tercantum pula Edgar Hoover (pimpinan FBI), Archibald McLeish (pendiri UNESCO) sampai Cassanova (bintang fil terkenal si penakluk wanita).

Ada anekdot tentang Mao ketika ia masih menjadi pustakawan. Suatu saat ia ditanyai oleh temannya, “Mengapa Anda berhenti sebagai seorang pustkawan ?”

Dengan tenang Mao menjawab : “Karena hasil akhir tugas pustakawan itu mirip dengan definisi filsafat dasar negeri Rusia, yaitu Marxisme-Leninisme. Saya tidak menyukai garis itu. Karena itu saya keluar dari profesi sebagai seorang pustakawan..”

[Anekdot itu komplitnya : Definisi Marxisme-Leninisme adalah aksi mencari kucing hitam di kamar yang gelap, dan kucing itu sebenarnya tidak ada, tetapi si pencari lalu berteriak-teriak : “Ini dia kucingnya, saya telah menangkapnya !”-BH].

Anekdot itu diungkapkan oleh Drs. Bambang Haryanto, seorang ahli informasi bidang sains-teknologi untuk pelbagai perusahaan/industri di Jakarta. Benar atau tidak anekdot itu, dan apa pun alasannya, Mao kemudian dikenal sebagai politikus daripada seorang pustakawan.

”Anekdot atau humor Ketua Mao itu mungkin ada benarnya, karena hasil kerja seorang pustakawan itu memang tidak segera nampak dalam wujud yang nyata, karena benda yang dijual adalah informasi, “ kata Bambang Haryanto menambahkan.

Pustakawan Bukan Orang Buangan, Sinar Harapan, 25 Januari 1985, Laporan Bambang Soebendo di Sinar Harapan, 25 Januari 1985, tentang dunia perpustakaan IndonesiaKeterangan gambar : Laporan lokakarya yang ditulis Bambang Soebendo di harian Sinar Harapan, Jumat, 25 Januari 1985.

Orang buangan.Benarkah pustakawan adalah orang buangan dan perpustakaan itu tempat buangan ? Masalah itu sempat menjadi topik yang menarik dalam Lokakarya Pengelolaan Sekolah di Tugu (Jawa Barat) belum lama berselang yang diselenggarakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) dan PN Balai Pustaka.

Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Mastini Hardjoprakoso, MLS melemparkan pendapat itu dengan mengatakan : “Profesi sebagai seorang pustakawan sampai saat ini masih kurang menarik. Dan ada anggapan sebagian orang bahwa perpustakaan adalah tempat buangan.”

Bagai gayung bersambut, Prof. Darji Darmodiharjo, SH (Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah) yang hadir dan membuka resmi lokakarya itu dengan nada humor menjawab : “Kalau ada yang menganggap pustakawan itu orang buangan, ya itu salah buang. Yang jelas pustakawan itu orang buangan yang baik.”

Drs. Sukarman,MLS, Kepala Pusat Pembinaan Perpustakaan Depdikbud dalam kesempatan itu menyatakan kalau ada anggapan yang kurang benar terhadap profesi pustakawan, itu bukan kesalahan masyarakat. “Kita belum berhasil memperkenalkan profesi itu kepada masyarakat. Ini merupakan tantangan kita.”

Dr. Sulityo Basuki, Staf Pengajar Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra UI dengan kalem berkata : “Kita tidak perlu berkecil hati dengan anggapan itu. Yang penting kita harus sekarang juga berbuat yang bermanfaat. Kalau tidak, kita akan lebih jauh tertinggal,” kata doktor perpustakaan dan informasi dari Case Western Reserve University (AS).

Betapa besar peranan para pustakawan dan perpustakaan dalam proses pendidikan secara plastis digambarkan oleh Prof. Darji Darmodiharjo : “Pada dasarnya fungsi perpustakaan itu sebagai jantung pendidikan, tidak hanya terbatas pada lembaga pendidikan, tetapi juga mencakup masyarakat sekitarnya.”

Tugas pustakawan dan perpustakaan sekolah adalah menyediakan jasa untuk membangkitkan siswa rasa “ingin tahu” dan “sadar informasi.” Tapi bagaimana kita mengukur dan mengetahui adanya peningkatan rasa “ingin tahu” dan “sadar informasi” pada anak-anak didik kita ?

”Peningkatan itu tidak nampak ‘dengan segera,’ jawab Drs. Bambang Haryanto ketika berbicara dalam lokakarya itu. “Mungkin karena hasil kerja yang tidak nampak itu maka profesi kita masih banyak mendapat hambatan,” tambahnya.

Pustakawan itu sama dengan seorang ilmuwan, kata Drs. Sukarman. Apa sebab ? “Perpustakaan adalah sumber ilmu pengetahuan. Dan seorang pustakawan harus mampu menguasai sumber-sumber ilmu yang ada di dalamnya. Nah, menjadi seorang pustakawan tidak perlu rendah diri. Sebaliknya harus bangga karena ia bekerja untuk melayani orang lain, yaitu memberikan informasi dan sumber ilmu.”

Tema yang dipilih oleh Klub Perpustakaan Indonesia dalam memperingati hari ulang tahunnya ketiga bukan dengan pesta atau hura-hura, tetapi dengan lokakarya pantas dihargai. Apalagi masalah yang diangkat cukup menarik yaitu pengelolaan perpustakaan sekolah.

Citra. Citra atau ciri khas perpustakaan sekolah di Indonesia sampai sekarang kebanyakan kurang menggembirakan. Seperti diungkapkan Dr. Sulistyo Basuki : tak punya ruangan khusus, jam buka yang tidak jelas, koleksi kurang lengkap dan pengelolaan yang kurang profesional.

Jangankan dibandingkan dengan Eropa atau Amerika atau Singapura. Dengan Filipina yang punya hutang lebih banyak atau Muangthai yang selalu dilanda perrang, perpustakaan sekolah di Indonesia sudah jauh tertinggal.

Sebagai contoh di Filipina pembangunan sebuah sekolah selalu dibarengi dengan pembangunan perpustakaan. Dan semua mata pelajaran selalu dikaitkan dengan perpustakaan karena tujuan pendidikan di sana tidak sekadar menerima informasi, tetapi lewat perpustakaan merangsang murid untuk mencari dan menggali informasi. Sistem demikian juga diterapkan di Muangthai.

“Sistem yang demikian belum berlaku di Indonesia. Murid hanya secara pasif menerima informasi. Ini kritik saya terhadap sistem pendidikan di Indonesia mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi,” kata Dr. Sulistyo Basuki.

Sekali pun perpustakaan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah, namun belum semua –bahkan sebagian besar sekolah di Indonesia—belum memanfaatkan atau menganggap penting perpustakaan. Dengan kalem pula ia berkata : “Biang keroknya adalah Kepala Sekolah. Mereka tak tahu soal perpustakaan, tapi suka mengatur,” yang disambut senyum beberapa kepala sekolah yang hadir dalam lokakarya itu.

Kritik lain yang dilontarkan oleh doktor pertama ilmu perpustakaan dan informasi itu mengenai pembagian buku paket yang kurang tepat. Seorang anak SD di pegunungan menerima buku paket tentang kehidupan nelayan. “Sulit membayangkan bagi anak yang tidak pernah melihat pantai dan kehidupan nelayan,” ujarnya.

T. Tambunan, seorang pengawas pendidikan di Jakarta melihat beberapa kelemahan perpustakaan sekolah, terutama menyangkut masalah ketenagaan, koleksi dan tempat. Ia kurang sependapat kalau para kepala sekolah dijadikan biang kerok mundurnya perpustakaan sekolah.

“Kebudayaan kita kan kebudayaan instruksi. Kalau ada instruksi bahwa perpustakaan sekolah itu penting dan dimasukkan dalam daftar penilaian, pasti instruksi itu akan dilaksanakan. Dan pekerjaan kepala sekolah sekarang ini bermacam-macam. Mungkin perpustakaan belum dianggap penting,” katanya dengan senyum.

Benarkah pemerintah kurang memperhatikan perpustakaan dan nasib pengelolanya ? Pertanyaan ini banyak dilontarkan dalam lokakarya yang berlangsung selama tiga hari itu.

Jawaban dari Dirjen Dikdasmen Depdikbud Prof. Darji dan Drs. Sukarman cukup menggembirakan. Misalnya pemerintah dalam waktu dekat akan memberikan tunjangan pendidikan bagi guru-guru yang mengelola perpustakaan. Sudah ada instruksi setiap sekolah harus menyediakan perpustakaan.
“Tidak usah muluk-muluk. Kalau tidak ada tempat khusus bisa mempergunakan ruangan lain seperti ruang guru atau ruang kepala sekolah. Bahkan di pojok-pojok ruangan bisa dipergunakan untuk perpustakaan. Kalau ini tidak bisa dilaksanakan, lebih baik sekolahnya ditutup,” kata Prof. darji.

Perhatian pemerintah terhadap pengembangan perpustakaan bukan hanya besar, tetapi berlipat ganda. Sekarang ini disediakan dana tidak kurang dari Rp. 8 milyar.

“Tapi dana yang besar itu sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan banyak dan luas daerah yang harus dibina,” kata Drs. Sukarman. Bayangkan, sekarang ini Indonesia memiliki 150.000 Sekolah dasar, 20.000 Sekolah Lanjutan seta 65.000 desa yang akan memiliki perpustakaan.

Diharapkan dalam waktu dekat akan dikeluarkan DIP (Daftar Isian Proyek) untuk membangun gedung perpustakaan. Menurut Sukarman di tiap-tiap sekolah sebenarnya ada anggaran untuk membeli buku. “Tapi seringkali anggaran untuk membeli buku perpustakaan kalah untuk membeli kapur atau membayar honor guru,” katanya menyindir.

Seorang guru putri yang mengelola perpustakaan di SMA Negeri Depok menyatakan tidak tahu menahu kalau ada anggaran khusus untuk membeli buku. “Saya tidak tahu itu. Saya berusaha mencari sendiri lewat donator atau terpaksa memungut sewa buku,” jawabnya.

Bukan Niteklub. “Klub Perpustakaan Indonesia, bukan niteclub, lho,” kata Dra. Ny. Adwityani S. Subagio, SH., Ketua KPI ketika memperkenalkan diri kepada peserta lokakarya.

“Pada mulanya banyak yang salah faham. Dikiranya klub yang satu ini sama dengan klub-klub yang sering dikunjungi bapak-bapak. Wah, berabe, to !,” katanya dalam dialek Jawa Timur yang terkadang masih kentara.

Dalam usianya tiga tahun KPI tampak memperlihatkan kegiatan yang amat bermanfaat, walau pun belum bisa merata. KPI yang lahir tanggal 4 Januari 1982 dalam suatu pertemuan di Hotel Wisata Jakarta bertujuan sederhana : memberikan bantuan dan pelayanan kepada para anggotanya terutama yang menyangkut masalah buku dan perpustakaan.

Langkah ini sudah dimulai dengan memberikan kredit buku kepada para anggotanya sampai sekitar Rp. 600.000,00 yang dapat dicicil dalam waktu 10 bulan. Untuk tahap pertama baru PN Balai Pustaka, tapi diharapkan penerbit-penerbit lain akan bersedia menunjangnya walau pun persyaratan yang sedikit berbeda.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Nugroho Notosusanto menyambut baik kehadiran KPI ini. “Adanya organisasi yang bertujuan membantu memajukan perpustakaan, memperkenalkan dunia perbukuan dan merangsang minat baca masyarakat seperti apa yang selama ini dilakukan oleh Klub Perpustakaan Indonesia adalah sangat membantu berhasilnya wajib belajar yang menjadi bagian dari program pendidikan pemerintah.”

Indonesia dengan penduduknya hampir 150 juta orang merupakan ladang yang baik bagi pemasaran buku. Seperti dikatakan oleh Drs. Sukarman, KPI akan dirasakan bermanfaat bila dapat mengkhususkan diri dalam memproses buku-buku yang akan dibeli oleh perpustakaan. Ini berarti efisiensi dan menghemat ongkos sampai 15 persen. Maklumlah perpustakaan di sekolah hanya memberikan pelayanan saja, sedangkan kebanyakan para pengelolalnya masih awam dalam memproses buku seperti pembuatan katalog dan lain sebagainya.

Menurut catatan sampai di usianya yang ketiga KPI telah memiliki hampir 4000 anggota yang terdiri dari perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus dan umum yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Namun demikian KPI belum dirasakan memasyarakat.

“Media massa itu penting. Ia seperti ‘Tuhan’ yang kedua karena pengaruh yang ditimbulkan begitu besar,” kata Drs. Bambang Haryanto ketika membicarakan dasar-dasar kehumasan dalam menunjang keberhasilan tugas-tugas perpustakaan.

Nah, kiranya KPI bisa memanfaatkan beberapa resep yang diberikannya. Selamat bekerja !

[Diunggah oleh Bambang Haryanto].

Catatan Bambang Haryanto:

HUT KPI Ke-4 1986, anya Damayanti, Bambang Soebendo dan Nichlany Sudirdjo di Pondok Putri Duyung, 4 Januari 1986, HUT Ke-4 Klub Perpustakaan IndonesiaTamu undangan peringatan hari ulang tahun KPI Ke-4, 4 Januari 1986, di Pondok Putri Duyung, Ancol. Nampak dalam foto (ka-ki) : Bapak Nichlany Sudirdjo, Ketua PPIA-LIA, Bambang Soebendo dan Kanya Damayanti, keduanya waratawan harian Sinar Harapan.

Dalam mengunggah laporan Mas Bambang Soebendo ke blog ini ada sesuatu yang terasa kurang. Karena penulisnya, beberapa tahun lalu telah meninggal dunia.

Saya tahu sosoknya, tapi belum kenal, ketika kami sama-sama mengikuti Pertemuan Antar-Dewan Kesenian Se-Indonesia di Malang, 1978. Ketika melihat sosoknya di Kantor KPI sebelum rombongan berangkat ke Tugu (1985), beliau saya sapa, dengan rujukan acara di Malang itu. Kami lalu menjadi akrab. Beliau dulu adalah wartawan Sinar Harapan di Yogya. Saat itu beliau lalu saya kenalkan kepada Bapak Sulistyo Basuki.

Kantor redaksi Sinar Harapan yang ada di Otista-Cawang, bukan tempat yang asing bagi saya. Sebagai penulis freelance, saya sering harus menjemput honor kesana. Melalui Mas Bambang pula, saya bisa kenal wartawan dari Tabloid Mutiara, walau ada satu wartawati cantik, tinggi dan semampai (“dia atlet bola volley andalan kampusnya”) yang saya pengin kenal, tetapi tidak kenal namanya.

Setelah pertemuan di Tugu, kami ketemu lagi di acara HUT IV KPI 1986, di Pondok Putri Duyung, Ancol (4/1/1986). Saat itu Mas Bambang disertai wartawati Sinar Harapan yang lama sekali ingin saya ketahui namanya. Kanya Damayanti.

Kanya saat itu agak “shock” ketika dalam obrolan saya bisa memunculkan topik tentang beberapa tulisan dia yang bertopik perpustakaan. Termasuk laporannya dari Paris. Kanya ternyata masih famili dengan Bapak Subekti, redaktur sains & teknologi koran yang sama, penguasa kolom yang sering saya isi dengan artikel-artikel goresan saya.

Semoga Mas Bambang Soebendo kini senantiasa sejahtera disisiNya. Jasa Anda yang pernah jadi humasnya perpustakaan, tidak akan saya lupakan. Untuk Prof. Sulistyo Basuki, moga masih ingat saat-saat kita “mengamen” bareng di kawasan Puncak ini :-).

Wonogiri, 25/4/2012

Selasa, 17 April 2012

18 April 2012 : Tiga Tahun Ibu Lily K. Somadikarta Berpulang

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Tanggal bersejarah. Samuel P. Huntington, ilmuwan politik AS yang terkenal dengan tesis benturan peradaban, lahir 18 April 1927. Komedian sohor AS,Conan O'Brien, lahir 18 April 1963. Pesepakbola asal Swedia, Stefan Schwarz, lahir pada tanggal yang sama di tahun 1969.

Ahli botani Inggris, Erasmus Darwin, wafat pada tanggal 18 April 1802. Albert Einstein, wafat 18 April 1955. Thor Heyerdahl, penjelajah Norwegia yang terkenal dengan perahu “Ra”-nya, wafat pada tanggal yang sama, tahun 2002.

Dunia pendidikan ilmu perpustakaan Indonesia, pada tanggal yang sama di tahun 2009, telah kehilangan salah satu tokohnya yang terkemuka. Ibu Lily Koeshartini Somadikarta (foto), telah menghadap Sang Khalik. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Blender, Kebon Pedes, Bogor.

Catatan kenangan. Melalui bantuan Google, saya bisa menemukan beberapa catatan menarik. Yang tidak saya temui via Internet, tetapi berdasar cerita dari putrinya mBak Lini Ashdown yang tinggal di Inggris, ada hal yang mengejutkan bagi saya.

Ternyata Ibu Soma itu menyukai sepakbola. Bahkan mBak Lini cerita, beliau sampai rela bangun dini hari untuk menonton tayangan pertandingan sepakbola di televisi. Umpama informasi ini saya ketahui saat saya menjadi mahasiswa beliau di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (saat itu) di tahun 1980, pasti beliau akan saya ajak mengobrol tentang permainan si kulit bundar tersebut.

Reuni JIP-FSUI 2008, Ki-ka : Hartadi Wibowo, Yaz Anggraeni (putri Hartadi Wibowo), Lily K. Somadikarta dan Rizal Saiful-haqReuni Tiga Generasi. Dalam acara reuni Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI 2008 nampak dari kiri Hartadi Wibowo (mahasiswa angkatan masuk 1980), putrinya Tyas "Yaz" Anggraeni yang juga mahasiswa JIP, Ibu Lily K. Somadikarta dan rekan seangkatan Hartadi Wibowo, Rizal Saiful-haq. Rizal ini mengikuti jejak Ibu Soma sebagai pengajar dan ketua jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Jakarta.

Memutar kenangan tentang beliau, antara lain tersaji laporan gegap gempita :-) tentang kegiatan mahasiswa JIP-FSUI pada bulan Juni 2006 ketika menyelenggarakan pesta untuk merayakan hari ulang tahun Ibu Soma (1/6/1926) dan Ibu Soenarti Soebadio.

Sebelumnya, di tahun 2003, mahasiswi JIP-FSUI Rosmi Julitasari dengan bimbingan Putu Laxman Pendit telah menulis skripsi berjudul Pemikiran Lily K. Somadikarta : Pendidikan dan Ilmuwan Di Bidang Ilmu Perpustakaan. Ketika Ibu Soma wafat, penulis yang sama dan dikabarkan sedang menulis biografi Ibu Soma telah menuliskan obituari yang menyentuh.

Judulnya : Mengenang Lily K. Somadikarta: Perintis Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia. Rosmi Julitasari mengakhiri tulisan panjang yang mencakup sejarah perjalanan karier Ibu Soma itu dengan doa :

”Selamat jalan, Ibu Lily K. Somadikarta. Saya yakin Ibu akan damai di sana, karena para malaikat pasti bergegap gempita menyambut umat Tuhan seperti Ibu, yang telah menanamkan ilmu di pemikiran banyak orang yang telah Ibu didik.”

“Istri saya, itu orang yang paling terdekat,” demikian Profesor Soekarja Somadikarta, suami Ibu Soma, ketika diwawancarai oleh wartawan Radio BBC Siaran Indonesia Heyder Affan, 30/11/2011 (Audio). Saat itu Bapak Soma baru saja memperoleh penghargaan Habibie Award 2011 atas dedikasinya pada bidang ilmu dasar.

Dan tatkala istrinya meninggal dunia, Somadikarta merasa kehilangan. Dia mengaku 'sakit' kalau teringat sosok sang mendiang.

“Tapi itu takdir,” imbuhnya cepat-cepat, dengan nada bergetar.

“Saya bersujud kepada Tuhan... Itu takdir, ndak bisa diapa-apakan”.

Profesor Soma mengaku almarhumah istrinya berperan besar atas perjalanan hidupnya.

Selama 54 tahun mengarungi hidup bersama (dan dikaruniai dua orang anak), membuat Soma dan pasangan hidupnya itu saling mengenal. Berulangkali ditinggal untuk kepentingan akademis (yang bisa menghabiskan 3 atau 4 bulan), menurut sang profesor, istrinya bisa menerima kenyataan seperti itu.

“Istri saya begitu menghargai....Itu yang tidak bisa saya melupakan,” katanya, lirih.

Makam Ibu Lily  K. Somadikarta di Blender, Kebon Pedes, BogorPeristirahatan abadi. Di lingkup rindang pohon besar, terletak makam Ibu Somadikarta, yang dijadikan satu dengan putra beliau, Dedi A. Somadikarta yang mendahului menghadap Sang Khalik tanggal 18 Januari 1985.

Dalam blog saya. Sebagai mahasiswa beliau, sungguh suatu kehormatan ketika saya memperoleh kepercayaan dari beliau dan juga dari jurusan untuk hal-hal tertentu. Ketika jurusan akan melakukan pembelian sarana fotografi, saya mendapat tugas untuk mendaftar kamera, lensa dan sarana penunjang lainnya yang pantas untuk dibeli.

Belum lagi pengalaman menarik di bulan Maret 1984 ketika menyertai Ibu Soma, Ibu Soenarti Soebadio, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak dan mBak Siti “Ining” Sumarningsih, untuk tur menjadi nara sumber dalam seminar di Perpustakaan Universitas Diponegoro di Semarang. Lengkapnya :

  • Dosen JIP Gadungan Beraksi di UNDIP Semarang


  • Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari


  • Reuni JIP-FSUI 2008, Reuni Tiga Generasi.



  • Tanggal 10 dan 11 Desember 2011, dengan bantuan informasi dan panduan dari mBak Lini dan Bapak Soma, saya akhirnya dapat berziarah ke makam Ibu Somadikarta. Hari pertama, saya membawa kamera digital yang layar LCD-nya sudah rusak. Hasil fotonya, tidak memuaskan. Saat itu saya dipandu oleh juru kunci, yaitu Andri (No. HP-nya : 087711144692).

    Esoknya, saya dapat pinjaman kamera yang lebih “waras” milik adik saya yang wartawan Tabloid BOLA, Broto Happy W. dan sebagai warga Bogor, saya bisa memotret lebih baik.Ada rasa kelegaan bisa mendoakan beliau. Semoga Ibu Somadikarta senantiasa sejahtera di sisiNya.

    Ketika mengetik tulisan ini saya mengirimkan SMS kepada Bapak Somadikarta. Beliau menjawab : "Sdr Bambang yang baik, banyak tks utk sms dan doa'nya utk Ibu. Kami br dr makam Ibu. Lini dg teman2nya sekarang sedang ke makam teman dekatnya di luar Bogor. Salam hangat jg dr Lini, dan smg Anda trs produktif menulis, SS." (18/4/2018 : 10.43.30).

    Terima kasih kembali, Bapak Soma.



    Wonogiri, 18/4/2012

    Selasa, 06 Desember 2011

    Toko Buku Borders Dalam Kenangan Alumnus JIP-FSUI 1980

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    “Dudu sanak dudu kadang. Yen mati melu kelangan.”

    Bukan kerabat, bukan saudara. Bila meninggal, ikut merasa kehilangan.

    Jaringan toko buku Borders di Wheelock Place, pojok perempatan Orchard Road dan Patterson Road, Singapura, telah tutup untuk selamanya pada tanggal 3 September 2011 yang lalu.

    Ada sepotong hati ini yang ikut hilang.

    Artikel ini saya pajang di blog saya Buku-Buku Dalam Kehidupanku, 15/9/2011. Ternyata sekitar sebulan kemudian saya memperoleh email dari teman kuliah saya di tahun 1980. Gustina Sofia dari Bogor. Ia menulis :

    "Mas Bambang,

    Apa kabar, aku baca posting mu terbaru berjudul "Toko Buku Borders Dalam Kenangan". Saya juga merasa kehilangan, walaupun jarang-jarang kesana.

    Terakhir ke toko itu 29 Mei 2011 dan dapat hadiah "tas kresek hitam" dengan tulisan "borders". Rupanya itu menjadi hadiah yang berkesan.

    Btw, hari Rabu 28 September saya ke Wonogiri, sayang nggak sempat kontak dulu. Pertama kali ke Wonogiri, ternyata dekat ya dari Solo, TANPA MACET, he3.
    Terima kasih dan selamat berkarya."

    Terima kasih, Gustina.
    Tak sangka kita memiliki rasa kehilangan yang sama untuk sebuah toko buku.Bagaimana sobat-sobat lainnya ?

    Wonogiri, 6/12/2011

    Minggu, 04 Desember 2011

    Buku Komedikus Erektus di Perpustakaan Universitas Ohio Amerika Serikat

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    The SBY Effect.
    The Manmohan Singh Effect.
    Dan The Komedikus Erektus Effect.

    Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.

    Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.

    Mungkin analogi itu berlebihan.

    Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.

    Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.

    Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.

    Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.

    Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.

    Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.

    Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.

    Itulah secuplik cerita tentang upaya menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dari dari alumnus JIP-FSUI untuk dunia. Siapa menyusul ?



    Wonogiri, 5/12/2011

    Solo Cyber Day 2011, Pustakawan ITB dan Mahasiswa JIP-FSUI 1980

    Dear Kang Onno,

    Semoga sehat-sehat dan sudah sembuh capeknya setelah menggembleng anak-anak muda Solo dalam ber-Internet secara cerdas dan memberikan manfaat di ajang Solo Cyber Day 2011, Solo, 4 Desember 2011.

    Catatan yang akan saya ingat antara lain tentang seruan Anda agar warga Solo ngeblog setiap hari. Sayang, kayaknya hanya saya saat itu yang menyambut dengan tepuk tangan. Mungkin akan lebih heboh bila Kang Onno bilang, "update statusmu di FB setiap hari."

    Tak apalah, tepuk tangan saya itu akan tetap saya lanjutkan di dunia maya, untuk menyebarkan pesan bahwa menulis di blog itu cenderung lebih bermakna dibanding menulis status wkwkwkwk di Facebook.

    Catatan kedua, tentang perpustakaan digital Kang Onno yang Anda wariskan ke Apkomindo Solo ? Saya lupa mencatat. Kemana atau URL mana untuk bisa mengaksesnya ? Tentang perpustakaan, saat ketemuan Anda itu saya lupa menyampaikan titipan pesan dari priyayi asal Solo tetapi kini tinggal di Jakarta.

    Beliau adalah Pak Blasius Sudarsono dari PDII-LIPI. "Titip salam, lama ga jumpa," katanya. Lalu beliau menambahkan info yang saya belum tahu, bahwa Kang Onno itu pernah menjadi kepala perpustakaan pusat ITB. Oh ya, Pak Blasius itu dosen saya. Saya pernah belajar di jurusan ilmu perpustakaan di Rawamangun, FSUI. Pernah pula main ke ITB, saat itu kepalanya Pak Adjat Sakri.

    Moga-moga banyak email yang Kang Onno terima dari anak-anak muda Solo. Saya dan warga Trah Martowirono berterima kasih kepada Kang Onno, juga Mas Donny BU, yang telah sudi menorehkan tanda tangan di kanvas memorabilia trah (keluarga besar) kami.

    Dalam foto jepretan jenius dari aktivis Internet asal Solo, Sadrah Deep, nampak dari kiri saya (Bambang Haryanto), Kang Onno dan Mayor Haristanto. Kanvas itu akan menjadi bahan cerita yang berlanjut di trah kami.

    Sukses selalu.
    Sampai ketemu lagi.


    Bambang Haryanto
    trah.blogspot.com
    komedian.blogspot.com

    Wonogiri, 5/12/2011

    Selasa, 15 November 2011

    Library of Congress, PDII-LIPI dan Blasius Sudarsono

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com



    Memasuki Library of Congress atau Perpustakaan Nasional Australia rasanya bagi saya bakal lebih pede ketimbang bila memasuki Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI).

    Itulah kesan yang saya peroleh kemarin (15/11/2011). Mungkin itu merupakan “hukuman” bagi saya terkait akan dua hal. Pertama, sudah bertahun-tahun mandul, tidak mampu menghasilkan karya dengan predikat ilmiah. Yang kedua, saya mengunjungi PDII-LIPI itu (setelah sekitar 25-an tahun tidak kesini) gara-gara kebandang, terangkut oleh bis yang saya naiki dari Slipi.

    Seharusnya saya turun di Polda, lalu ke Istora Senayan. Tetapi malah terbawa bis sampai Jl. Gatot Subroto. Dasar orang kampung yang buta situasi mutakhir dari kotanya Bang Foke ini.

    Daripada mubazir, saya memutuskan mengunjungi Perpustakaan PDII-LIPI. Lantai 3. Ada papan bertuliskan e-Library PDII-LIPI menyapa Anda saat memasuki pintu. Ada berderet komputer. Saya coba akses katalog elektroniknya. Dasar narsis, istilahnya (kalau tak salah) melakukan google ganger, saya kemudian mengetikkan nama saya di kotak pencarian.


    Hasilnya : 0. Nol. Nihil. Jeblok. Gundul.Hampa.Tiada.
    Nikmati realitas`itu, betapa saya tidak punya karya tulis, atau warisan, di tempat ini.
    Saya sungguh tidak punya legacy di perpustakaan ini.
    Terima kasih.

    Pencarian kedua, kata “komedi” dan “comedy.” Hasilnya, juga nol.
    Rupanya tidak ada tempat untuk berlawak-lawak ria di tempat ilmiah ini pula.
    Tetapi ketika saya mengetikkan kata humor, terdapat lumayan banyak informasi ilmiah. Silakan cek di layar hasil pemotretan saya ini.

    Pencarian ketiga, saya ketikkan nama dosen saya di tahun 1981. Saat itu sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP-FSUI), saya berkuliah di gedung ini pula. Rekan saya lainnya Djohar (almarhum), Uhum Lantang Siagian (almarhum), Emil Zola, Gemuru Ritonga, Gustina Sofia, Tuti Sri Sundari, dan Zulherman (“selamat datang kembali di tanah air, semoga menjadi haji yang mabrur, Zul”).

    Dosennya adalah, kini Pustakawan Utama, Bapak Blasius Sudarsono (foto)
    “Naik saja lantai dua, belok kanan, di pintu ada inisial : BS,” demikian kata petugas perpustakaan. Seperti saat naik bis tadi, ruang Pak BS ternyata sudah saya lewati. Ada ruang saya masuki dan bertanya. Dijawab oleh beberapa ibu, “silakan masuk pintu yang terbuka.”

    Pintu itu memang nampak terbuka. Mungkin ini mencerminkan diri penghuninya. Pak BS ada di dalamnya, saya fikir sedang memberikan bimbingan skripsi kepada seorang mahasiswi. Namanya Ratih. Sekarang dirinya juga berkuliah di jurusan saya dulu-dulu itu.

    Syukurlah, saya merasa terhormat, karena begitu menyodorkan muka, Pak BS rupanya langsung mengenali diri saya. Padahal praktis kami tidak pernah jumpa sejak 1981 :-). Internet rupanya tetap mampu “mendekatkan” kita selama ini.

    Tak ada yang berubah dari beliau. Rambutnya memang memutih, tanda sebagai sosok yang bijak, tetapi tetap juga “galak” dan saya harus berfikir lama untuk mencerna wejangan beliau. Hard fun, desis saya. Termasuk ketika beliau menggurat kalimat sakti bahwa “perpustakaan adalah pusat inovasi.”

    Kalimat yang sungguh aneh di telinga saya. Rasanya baru kali ini saya bisa mendengar kata “perpustakaan” yang diutarakan sejajar dan satu tarikan nafas dengan kata “inovasi.” Ibarat aliran sungai Bengawan Solo (rumah Pak BS di Baluwarti, Solo, pernah kebanjiran di tahun 1986), kalimat beliau itu akan “mengalir sampai jauh” di relung pemikiran saya. Terima kasih, Pak BS, saya akan ikut mencerna ucapan itu.

    Terima kasih pula, karena saat itu saya telah beliau beri hadiah. Buku karyanya, Menyongsong Fajar Baru Merancang Masa Depan (LIPI Press, 2007) dan majalah BACA (Juni 2005) yang antara lain memuat tulisan Pak BS berjudul “Empat Windu Perjalanan Pemikiran Tentang PDII-LIPI.”

    Yang bikin saya terusik adalah tulisan beliau di buku yang beliau berikan kepada saya di sore saat Jakarta baru saja selesai diguyur hujan. Beliau tulis : “Khusus untuk Mas Bambang. Agar ingat kembali Perpustakaan.”

    Saat itu sudah saya jawab : “Saya senantiasa ingat Perpustakaan. Tetapi dengan cara yang bisa saya lakukan.Termasuk menulis blog yang mencatat siapa Pak Blasius Sudarsono, yang dalam pencarian Google masuk 10 besar”



    Kramat Jaya Baru,Jakarta,
    16 November 2011

    Jumat, 11 November 2011

    Bapak Soma, Ibu Soma dan JIP-FSUI Angkatan 1980

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Banyak cara untuk mengenang masa lalu. Kemarin harian Kompas memberitahukan di halaman 12. Saat cari detilnya di Google tersaji sebagai berikut :

    Ahli Burung dan Sosiolog Raih Habibie Award
    Kamis, 10 November 2011 17:54 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ahli burung (ornitolog), Prof Dr Soekarja Somadikarta (foto), meraih penghargaan Habibie Award. Lelaki berusia 81 tahun tersebut diberi penghargaan yang telah berusia 13 tahun tersebut atas kontribusinya menjadi peletak dasar ilmu perburungan di Indonesia.

    Soma menjadi satu dari dua penerima penghargaan Habibie Award Periode ke XIII Tahun 2011 yang diselenggarakan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (10/11). Satu penerima lainnya adalah seorang Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia, Prof Dr Ir Sajogyo.

    Dalam pidato ilmiahnya, Soma menyatakan saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 500 spesies burung. Ia yakin di tahun-tahun mendatang akan terdapat penemuan setidaknya 20 spesies lagi. "Itu minimal. Mungkin lebih banyak lagi," ujar Soma.

    Soma sebelumnya telah memperoleh 10 penghargaan prestisius, di antaranya dari National Academy of Sciences-National Research Council (USA) sebagai Visiting Research Associate di Departemen Ornithology, Smithsonian Institution, Washington. Selain itu empat perhimpunan burung internasional yang berwibawa telah mengakui Soma sebagai seorang ornitolog kelas dunia.

    Adakah sesuatu yang klik dengan Anda ? Saya, tentu saja. Prof. Soekarja Somadikarta adalah suami dari almarhumah Ibu Lily Koeshartini Soemadikarta. Beliau adalah Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI ketika saya menjadi mahasiswa, masuk tahun 1980.

    Pernah saya ikut semobil dengan Bapak Soma dan Ibu Soma. Siang hari tahun 1985 atau 1986. Kami sama-sama dari kampus Rawamangun menuju gedung Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial di Jl. Prapatan, yayasan yang dipimpin oleh Prof. Selo Soemardjan. Kami bertemu juga dengan para pengajar dari jurusan lain dari UI. Acaranya : merembug agenda membuat tayangan film memperkenalkan ilmu-ilmu sosial untuk disiarkan di TVRI.

    Saya mendapat tugas dari Ibu Soma untuk membuat skrip, memilih pemain, dan sekaligus juga main film. Antara lain saya pilih :-) sebagai bintang adalah Bapak Sulistyo Basuki, mBak Threes Emir (Pemred majalah Mode Indonesia),mBak Ir. Jati Wahyuni dari PDII-LIPI,tentu saja Ibu Soma juga.

    Di Gedung YIIS itu kami bertukar gagasan. Saat semobil bersama Pak Soma, saya sempat meledek beliau sebagai "profesor wiraswasta." Karena beliau saat itu juga menjabat sebagai Ketua Kopertis. Saya lupa, beliau tertawa atau tidak.

    Selamat untuk Prof. Somadikarta atas penghargaan itu.Selamat terus berprestasi dan mengilhami para ilmuwan muda untuk terus berbakti. Saya yakin, Ibu Soma akan ikut berbahagia di alam kelanggengan.

    Update 06/3/2012 : Profil Bapak Somadikarta secara lebih komprehensif dan inspiratif telah dimuat di situs Radio BBC Siaran Indonesia. Silakan klik disini.


    Kramat Jaya Baru, Jakarta, 11 Nov 2011

    Kamis, 03 November 2011

    Belajar adalah belajar tentang cara belajar !

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Setelah berpisah kurang lebih 26 tahun, bisa bertemu kembali teman-teman kuliah, saya mendapati betapa kaya ragam jalan hidup mereka.

    Sama-sama mengenyam pendidikan ilmu perpustakaan, tetapi panggilan hidup, peluang dan kecenderungan tiap pribadi, membuat ilmu itu dipraktekkan dalam jalur yang warna-warni.

    Belajar ilmu perpustakaan adalah belajar tentang cara belajar.

    Itu sudah terbukti untuk rekan saya Bakhuri Jamaluddin. Setelah mengampu perpustakaan Akademi Gizi, kini jadi salah satu tokoh yang menjalankan roda program Jamkesmas di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara ke-PNS-an, sudah pensiun, tetapi di bidang yang baru membuatnya terbang ke pojok-pojok tanah air.

    Teman lain yang saya temui kemarin (3/11/2011) adalah Hartadi Wibowo.Priyayi necis dan rapilo :-) asal Cilacap itu kini sekretaris sebuah yayasan yang mengurusi santunan kesehatan di Bank Mandiri.

    Sebelumnya menjabat Dana Pensiun Bank Mandiri yang "mempertaruhkan" milyaran rupiah untuk investasi. Ia sukses. Kuncinya : di perpustakaan tersaji beragam informasi, dan saya banyak belajar dari sana.

    Menengok ke belakang Hartadi Wibowo mencoba me-resume hidupnya : "Jalur saya adalah di bidang pelayanan." Itu katanya di dalam mobil hitam keren dan dimana saya nunut dari Ciledug untuk turun di Jl. Tendean, untuk berganti busway. Makasih Ted, untuk obrolannya yang inspiratif.

    Yang agak nyeleneh dan menarik adalah sobat saya satunya lagi : Subagyo Ramelan (SBR).

    Waktu kuliah, saya, Teddy dan Bagyo terkenal sebaagi eksponen "the smoking corner."

    Tukang merokok berat.Teddy bisa berhenti tahun 2005. Saya tahun 1989.

    Tetapi Pak SBR, masih melanjutkan hobi nikmatnya itu sampai kini.

    Setelah lulus, SBR menjadi book officer di Asia Foundation. Kerjanya membagi-bagikan buku sumbangan Amerika Serikat ke pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kantornya, bagi saya, adalah sorga buku. Saya sempat kecipratan puluhan buku-buku idaman darinya. Makasih, bag.

    Kini ia tak lagi mengurusi buku. Tetapi primbon :-).

    Primbon itu sebagai panduan bagi mereka yang ingin membeli batu-batu mulia di bengkel dan show room miliknya.

    Namanya Safir Andaru, di bilangan Ciledug, Jakarta Selatan.

    Seusai kangen-kangenan, ia menyodori kami bertiga sejumlah cincin dengan berbatu mulia.

    Subagyo Ramelan, eyang 7 cucu tetapi nampak awet muda itu, membuka primbon. Sebagai penulis, saya sebaiknya memakai cincin dengan batu mulia safir. Karakternya adalah : wisdom and knowledge. Semoga dapat menjadi panduan bagi saya untuk berbuat kebaikan : seseorang yang dididik jadi pustakawan tetapi kini tercebur untuk mempelajari dan menulis tentang humor dan komedian.

    Terima kasih, Bag.
    Terima kasih, Bakh.
    Terima kasih, Teddy.

    Hidup Anda yang warna-warni sungguh merona indah dalam catatan dan kenangan saya.Pertemuan 4 komplot lama itu mencetuskan Deklarasi Ciledug 3 November 2011.

    Bahwa kita akan mengadakan reuni komplit di bulan Desember mendatang.
    Insya Allah terlaksana.


    Kramat Sentiong,4/11/2011

    Minggu, 10 April 2011

    Blasius Sudarsono, Saya, dan Robert Frost

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Pengantar : Profesi kepustakawanan boleh jadi ibarat gedung yang memiliki lawang sewu. Berpintu seribu.Orang bisa masuk, berada di dalam atau pun keluar-masuk melalui pintu yang ia mau.

    Sekadar contoh : Bapak Blasius Sudarsono (foto) ini. Beliau berlatar belakang pendidikan Sarjana Muda Fisika (BSc), FIPA - UGM, Yogyakarta, (1973) kemudian melanjutkan ke jenjang Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu, USA, (1979). Kini beliau tetap setia menjalani profesinya sebagai Pustakawan Madya di PDII-LIPI.

    Saya menjadi mahasiswa beliau tahun 1981. Beliau mengajar mata kuliah Perpustakaan Khusus. Kuliahnya di gedung PDII-LIPI. Seingat saya, teman sekelas saya Djuhar (almarhum), Gemuru Ritonga, Gustina Sofia,Uhum Lantang Siagian (almarhum) sampai Zulherman.

    Saat itu saya tidak tahu kalau beliau berasal dari Baluwarti, lingkungan dalam Kraton Surakarta. Gara-gara Facebook,saya baru tahu informasi tersebut, saat kami bisa melakukan reuni. Obrolan kami terekam di bawah ini :

    Mahasiswa murtad. "Salam Pak Dar, moga sehat-sehat. Kalau pertanyaan di subjek itu ("Apakah Pak Dar dari Baluwarti ?") betul, saya ingin ngajak tepangan, berkenalan, (lagi) via FB ini. Saya tinggal di Baluwarti ngidul sithik, ke arah selatan sedikit. Naik bis 32 km lagi. Di Wonogiri.

    Saya adalah murid panjenengan, Anda, di JIP-FSUI,tetapi murtad. Jangan dibilangin ke FPI, "Front Pustakawan Indoensia" ya, karena saya tidak pernah mengabdikan ilmu di perpustakaan.

    Oh ya, di Baluwarti pada tahun 73-79 saya pernah tinggal di timur SMEA Saraswati.Tamtaman.Segitu dulu, moga perkawanan di FB ini Anda terima. Matur nuwun. Terima kasih. [2 Maret 2011].

    Terlanjur sayang. Mas Bambang, rasanya saya memang ingat jenengan, Anda, dengan beberapa tulisan jenengan yang menggelitik. Pernah baca cuma pastinya yang mana. Rasanya berbeda dengan yang lain.

    Saya waktu itu memang bertanya mengapa kok tidak setia di kepustakwanan. Namun jalan orang memang lain-lain. Saya ini sudah terlanjur sayang sama kepustakawanan ("didokumentasikan dalam buku terlampir"-BH), dan sudah menjalaninya sampai tahun ke 38 ini.

    Saya memang lahir di rumah Baluwarti tahun 1948. Sekarang saya sudah jarang ke Baluwarti. Sejak Bapak seda,meninggal dunia, tahun 2001. Jika jenengan tinggal sekitar 73-79 saya sudah di Jakarta. Saya meninggalkan Baluwarti tahun 1967 untuk kuliah di Yogya.

    Mungkin kenal dengan adik laki-laki saya Alex Daryanto. Rumah kami pas kulon lawang gapit kidul, ngisor tanjung.

    Salam, Blasius
    [2 Maret 2011].

    Jalan belukar. Matur nuwun, Pak Blasius. Kita reunian mantan warga Baluwarti. Saya kost di rumah Eyang Laksmintorukmi di Tamtaman itu saat kuliah di IKIP Solo/UNS.

    Kalau ketemu sama Mas Alex Daryanto, mungkin saya ingat. Tetapi saat itu saya lebih banyak main ke utara, nongkrong di Kamandungan, depan Kraton,bikin kegiatan kesenian sama teman-teman.

    Kesetiaan Pak Blasius terhadap dunia kepustakawanan yang pantas dijadikan teladan itu mungkin seperti cerita dalam film yang selalu ada tokoh utama, yang tidak banyak. Lalu selalu juga ada peran-peran figuran, yang banyak tetapi tidak terlalu penting walau diperlukan. Mungkin pos saya disini ini.

    Betul pak Blasius,ha-ha, saya memang masuk dalam gang oknum yang "tidak setia" di kepustakawanan. Tetapi dengan "tidak setia" itu juga bisa berarti karena saya memilih jalan dan cara untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang berbeda. Boleh jadi cara yang tidak selalu berada atau dekat-dekat dengan cara-cara di jalur arus utama.

    Karena, bagi saya, ilmu yang saya peroleh ketika belajar ilmu perpustakaan itu sangat lentur untuk bermuara pada beragam kiprah yang menarik dan menggoda. Sambil merujuk puisinya Robert Frost, "The Road Not Taken," kayaknya saya telah memilih jalan yang masih semak belukar, jalan yang belum pernah ditapaki oleh orang-orang sebelumnya :-).

    Salam.
    [3 Maret 2011].

    Gedung berpintu seribu itu,sebenarnya tidak benar-benar saya tinggalkan. Apalagi kini dengan hadirnya media-media digital,saya bisa masuk dan keluar darinya. Dengan bekal dan tekad yang tetap sama.

    Membawa cinta.
    Memberi cinta.

    Wonogiri,11/4/2011

    Kamis, 07 April 2011

    Einstein, Pustakawan dan Ekonomi Kreatif

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    "Imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan," kata Einstein.

    Tetapi imajinasi yang kaya milik setiap anak itu akan dirampok oleh lembaga yang bernama sekolah.

    Sejak duduk di bangku klas 4, anak-anak mulai kompromistis, dan imajinasinya tergerus terus sampai tua.

    Semakin tingi pendidikan, semakin mereka cenderung mengambil keputusan yang aman.
    Bara kreativitas pun terus meredup.

    Maka di Kompas hari ini, seniman/wartawan Yudhistira ANM Massardi menulis,"Berhentilah sekolah sebelum terlambat."

    Menurutnya, bersekolah cukup sampai umur 12 tahun. SD saja.

    Lanjutnya, "Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet ("hallo pustakawan, ingat kata mutiara dari Samuel Johnson* ini ? Kini saatnya Anda semakin menunjukkan taring kesaktian ilmu dan bakti Anda"-BH), dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan."

    Ia tegaskan : "Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada."

    Merujuk ide tersebut, John Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001, buku ini saya beli setelah memenangkan hadiah The Power of Dreams Contest-nya Honda,2002), memberi tips tentang 10 Rumus Sukses.

    Salah satunya : "Keluarlah dari sekolah sejak awal, bila Anda menginginkan, tetapi Anda jangan pernah berhenti belajar !"

    *Ucapan Samuel Johnson ini dikenalkan pertama kali kepada saya oleh Ibu Lily K. Somadikarta (almarhumah), ketika saya menjadi mahasiswa beliau di tahun 1980.

    Wonogiri, 8/4/2011