Tampilkan postingan dengan label soenarti soebadio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soenarti soebadio. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

Ibu Soenarti Soebadio Dalam Kenangan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Pukul 18.45, Rabu 16 Mei 2012,
telah pulang keharibaanNya Allah SWT guru kita Soenarti Soebadio (foto,85 th) di RS MMC Jakarta.

Mari kita bacakan Alfatihah sembari berdoa semoga amal ibadah beliau diterima dan kesalahannya dimaafkan. Amin.


Zulfikar Zen
JIP-FSUI


PS : Tolong beritahu teman2 alumni JIP-FSUI."

Itu tadi sms yang saya terima dari rekan saya Bakhuri Jamaluddin, Rabu, 16 Mei 2012, jam 21.25.21.

Song of Joy. Ketika saya menjadi mahasiswa JIP-FSUI, Ibu Soenarti menjabat sebagai Sekretaris Jurusan. Ketua Jurusan dijabat oleh Ibu Lily K. Somadikarta. Ibu Soenarti sendiri mengajar mata kuliah Bahan Referensi Umum. Asistennya, mBak Siti "Ining" Sumarningsih.

Mungkin karena sedikit banyak saya memiliki gen suka menulis, maka mata kuliah beliau tersebut menjadi salah satu favorit saya. Pengetahuan tentang pelbagai jenis sumber informasi, tentu saja masih saja sangat berguna puluhan tahun sesudah saya lulus.

Bisa dikatakan ia sudah menjadi "alat hidup" yang terintegrasi dalam diri saya guna menghasilkan karya-karya kreatif. Bahkan mungkin ini pula satu-satunya warisan kuliah yang tetap relevan dalam hidup saya sampai kini.

Salah satu kenangan yang melintas di benak saya adalah Ibu Soenarti pernah bertanya kepada seluruh kelas tentang nomor simfoninya Beethoven tetapi disajikan secara pop. Saya tunjuk jari. "Song of Joy" dan dinyanyikan Miguel Rios," jawab saya.

Reaksi lanjutan dari beliau tak terduga. "Sekarang Sdr. Bambang," lanjut beliau, "silakan untuk menyanyikan lagu itu bagi kita semua." Saya mati kutu. Saya angkat tangan.Saya tidak bisa menyanyi.

Desertir Perancis. Peristiwa lain, adalah saat saya, Sri Mulungsih dan Zul Herman, sama-sama kasak-kusuk, karena sama-sama takut bila nanti dipanggil oleh Ibu Soenarti. Sebagai sekretaris jurusan beliau mengetahui seluk-beluk data perkuliahan mahasiswa.

Kami bertiga saat itu diam-diam melakukan "desersi," membelot dari mata kuliah bahasa sumber, yaitu Bahasa Perancis, yang diampu oleh almarhumah Ibu Nurul Oetomo. Karena merasa kesulitan,setelah hanya mengikuti kuliah sekitar tiga bulan, kami berhenti diam-diam. Dampaknya, kami takut akan diinterogasi oleh Ibu Soenarti terkait tindak indisipliner kami ini.

Syukurlah, ada solusi. Sri Mulungsih tetap mengikuti mata kuliah itu. Saya dan Zul Herman, walau rugi waktu, pindah untuk mengikuti Bahasa Belanda.

Di kelas ini pula saya mengenal mahasiswi anggun dari Sastra Inggris, Siti Rabyah Parvati, yang putri pahlawan nasional Sutan Sjahrir. Saya suka duduk dibelakangnya, sehingga bisa minta bantuan saat kuis/tes berlangsung.

Perang Malvinas. Dalam kenangan saya juga terlintas saat saya mau memilih spesialisasi kajian tentang perpustakaan. Saya memilih perpustakaan khusus. Kuliahnya di PDII-LIPI, pengajarnya Bapak Blasius Sudarsono. Teman kuliah saya antara lain lain Bakhuri Jamaluddin, Djuhar (almarhum), Gemuru Ritonga, Gustina Sofia, Uhum Lantang Siagian (almarhum) dan Zul Herman. Itu teman-teman yang bisa saya ingat.

Tetapi saat itu, dalam berkonsultasi, Ibu Soenarti menganjurkan saya untuk memilih perpustakaan umum. Beliau merujuk riwayat hidup saya yang pernah memimpin sanggar melukis anak-anak dan menyukai bacaan anak-anak. Untuk yang terakhir ini nampaknya saya telah beliau plot untuk menjadi asisten Bapak Sunindyo, pengajar mata kuliah Bacaan Anak.

Yang terjadi kemudian saya justru menjadi asisten mahasiswa untuk mata kuliah Pengantar Ilmu Perpustakaan membantu Bapak Achmad Royani ("kami suka mengobrol masalah persenjataan mutakhir, karena di tahun 1982 meletus Perang Malvinas"). Tetapi yang lebih lama, adalah menjadi asisten mata kuliah Media Teknologi, membantu Bapak Karmidi Martoatmodjo (almarhum).

Interaksi saya dengan Ibu Soenarti, juga dengan Ibu Somadikarta dan Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak (foto bawah), terjalin lebih dekat ketika bersama mBak Ining pula, kami mengadakan tur ke Undip Semarang. Cerita komplitnya di : sini.

Keterangan foto (ki-ka) : Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak (wafat 28 September 2010), Ibu Soenarti Soebadio (wafat 16 Mei 2012) dan Ibu Lily K. Somadikarta (wafat 18 April 2009).

Ketiganya saya potret bulan Oktober 1982, menjelang peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan Indonesia di mana foto-foto para pengajar sejak tahun 1950-an dipamerkan. Kini beliau bertiga semoga senantiasa sejahtera disisiNya.

Lini Ashdown, putri Ibu Lily K. Somadikarta, yang bermukim di Inggris menulis komentar di Facebook terkait berita duka ini : "May she rest in peace. Lihat foto mereka bertiga saya hanya ingat kalau mereka cas cis cus pakai bahasa Belanda. 

Makanya tadi waktu Bapak sms saya memberitahu Bu Narti meninggal saya langsung berpikir, habislah generasi itu. Waktu saya mengatakan ke suami: The end of Mama's generation, dia langsung tanya: Ada yang meninggal?"

Kabar dari Zul Herman, jenazah Ibu Soenarti Soebadio disemayamkan di rumah duka
Jl. Siaga 2 No. 43, Pejaten, Pasar Minggu. Beliau akan dimakamkan Hari Kamis, 17 Mei 2012, setelah Zuhur, di Karet Bivak.


Selamat jalan, Ibu Soenarti Soebadio.


Wonogiri, 17 Mei 2012

Minggu, 31 Oktober 2010

The Hunt For Red October 1982

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


September Ceria. Vina Panduwinata.
The Hunt for Red October. Sean Connery.
November Rain. Gun's N Roses.
Badai Bulan Desember. Ucok Harahap.


Pada bulan Oktober 1982, ramuan suasana dari judul-judul di atas ibarat masuk dalam mesin blender. Dan mesin itu menggerung serta berpusaran di dalam dada saya. Dalam hidup saya.

Di dalamnya teraduk badai rasa was-was. Gugup. Suasana ceria setelah semua badai itu lewat. Disambung hujan rasa syukur. Tetapi, sebelum kegembiraan mekar, haruslah melewati momen-momen yang cukup menegangkan.

Itulah momen ketika saya terjun dalam suasana perburuan di bulan Oktober 1982 tersebut. Perburuan untuk lulus ujian lisan sarjana. Ujian komprehensif, begitu sebutan nya yang populer saat itu. Inilah catatan saya tentang sepotong hari mengesankan di masa lalu tersebut :

Jumat, 8 Oktober 1982
09.30 - 10.30

Hari itu, saya bangun pagi, lebih pagi dari biasanya. Di rumah kost ini tak ada jam, patokan hanya radio. Sarapan pagi di warung tegal, mengelem sepatu dengan lem UHU, berangkat ke kampus Rawamangun naik bis kota - padahal biasanya jalan kaki.

Kutulis di pintu sebelum berangkat, "Aku harus lulus !" (8 Okt 1982 - HT).

Sampai di perpustakaan JIP, masih sepi. Sempat membaca UDC vs DDC. Lalu turun ke unit II Kampus FSUI, udah nunggu temen-temen. Pak AC Sungkono Hadi yang maju duluan, ati tentu kebat-kebit. Ia lulus lebih baik daripadaku.

Merokok terus aku, baju putih di saku potret Retno, celana abu-abu. Ia tadi lewat (berbaju) coklat. Aku sukar bersiul, tapi bersenandung lagu Lady-nya Anton Issoedibyo.

Dapat restu kuat dari temen-temen, jam 10.00 WIB aku masuk ruang Dekan, (tempat) ujian itu. Pak Royani, Pak Nurhadi Magetsari (dekan ?), Ibu Soma, Ibu Narti, semua itu dosen-dosenku.

"Aku dibuat senewen oleh pertanyaan Ibu Narti."
Tetapi cerah menjawab pertanyaan Ibu Soma - "bahasa indeks," "storage & information retrieval."

Aku bagai mau nangis, mata berkaca-kaca, menjabat tangan beliau dengan sentimentil ketika didengar berita - "Aku lulus !"

Alhamdullilah !
Tugas masih menghadang, skripsi, dan deg-deg-plas selama bulan Oktober ini tuntas sudah.

Ditulis : 8 Oktober 1982, Jam 19.40 WIB
Kost : Jl. Belimbing 24B, Jl. Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.

PS : Sampai sore di rumah kost itu, aku ditemani teman akrabku : Bakhuri Jamaluddin.


Wonogiri, 31 Oktober 2010

Kamis, 21 Oktober 2010

Dosen JIP Gadungan Beraksi di UNDIP Semarang

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Robert T. Kiyosaki sudah berpesan wanti-wanti.
Kalau Anda ingin mempelajari sesuatu, fahamilah dulu istilah-istilahnya.

Sayang, nasehat itu baru saya baca tahun 2001.
Tentu saja dari buku serialnya Rich Dad, Poor Dad yang terkenal itu.

Hemat saya, seharusnya nasehat tersebut sudah saya fahami di tahun 1980, saat memasuki tahun pertama berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP-FSUI). Tanpa bekal acuan itu, jelas membuat tahun awal perkuliahan menjadi perjalanan mendaki yang terasa lebih berat.

Karena memahami istilah-istilah baru itu bukan pula hal mudah. Belum lagi dihantui konsekuensi yang ada : bila nilai-nilai Anda jeblok di tahun pertama, maka pintu drop-out terbuka dan menganga untuk Anda.

Istilah menunjukkan profesi.
Bahasa rahasia.
Juga simbol otoritas.

Saya ingat kata-kata linguis Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don't Understand: Men and Women in Conversation (1990). Buku ini saya pinjam dari perpustakaan American Cultural Center, di Wisma Metropolitan 2, Jakarta. Kepala perpustakaannya juga dosen saya untuk mata kuliah Pengolahan Data, Ibu Siti Aisjah Anwar (Ies Prayogo).

Tannen mengatakan bahwa pola komunikasi (utamanya) kaum pria itu cerminan perebutan posisi atas dan menghindari posisi bawah dengan lawan bicara. Maka menurutnya, pemakaian istilah-istilah khusus itu merupakan senjata untuk memperoleh kemenangan dalam kompetisi bersangkutan. Kalau mitra bicara Anda tiba-tiba mengeluarkan istilah yang tidak Anda mengerti, maka dia akan merasa menang, dan Anda di matanya berada pada posisi fihak yang kalah.

Tetapi kemaruk istilah, juga tidak produktif. Itu tanda kesombongan semu yang membendung komunikasi. Dalam ranah komunikasi bisnis, bila penyampaian pesan Anda semata berorientasi kepada diri Anda sendiri dan menegasikan kepentingan konsumen, ibaratnya Anda sedang melakukan bunuh diri.

Hal itu pernah terjadi.
Di restoran masakan Cina, "Yunyam" di Semarang.

Tetapi pelaku aksi "bunuh diri" tersebut bukan sang pemilik restoran. Juga bukan tukang masaknya, misalnya dengan membuat bocor tabung gas elpji. Atau berenang dalam wajan. Pelaku "bunuh diri" itu diri saya. Pasalnya, pencantuman nama-nama asing yang serba Mandarin dalam daftar menunya telah mendorong saya melakukan aksi fatal ketika memesan makanan.

bambang haryanto,jurusan ilmu perpustakaan fsui,undip,28 maret 1984,rusina syahrial-pamoentjak,dosen jip-fsui

Restoran Semarang. Saya bersama mas supir dari Undip sedang bersiap menyantap makanan yang dipilih berdasar intuisi, puitis atau tidaknya nama masakan bersangkutan. Perkara cocok atau tidak dengan lidah asal tidak beracun, semuanya beres adanya.Nampak di latar depan kanan, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak.

"Kamu pesan masakan apa, mBang ?" demikian tanya mBak Ining. Saya hanya bisa meringis. Angkat bahu. Di meja lain Ibu Lily K. Somadikarta, Ibu Rusina Syahrial Pamoentjak dan Ibu Soenarti Soebadio nampak berdiskusi secara fasih dalam memilih dari daftar menu. mBak Ining yang berbaik hati lalu mengunjungi meja saya. Mungkin saat itu saya nampak kebingungan di matanya.

Saat itu saya, di meja terpisah, hanya ditemani sopir dari Undip. Mas sopir itu, sebelumnya, ketika saya tanya mau pesan masakan apa, ia menyatakan makmum dengan pilihan saya. Undip ikut UI sajalah. Maka saya segera pede memilih masakan Cina berdasarkan kaidah-kaidah "aliran Rawamangun," kaidah-kaidah sastra. Memilih yang judulnya terdengar eksotis dan puitis.

Tetapi kepada mBak Ining itu saya katakan sejujurnya : "Trial and error, mBak."

dosen jip fsui 1980,ilmu perpustakaan,pemotret : bambang haryanto,tahun 1982,universitas indonesia

Trio dosen saya 1980.Dari kiri : Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak, Ibu Soenarti Soebadio dan Ibu Lily K. Somadikarta. Ketiganya saya potret bulan Oktober 1982, menjelang peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan Indonesia di mana foto-foto para pengajar sejak tahun 1950-an dipamerkan.

Flashback : 1984. Kejadian di atas berlangsung hari Senin, 26 Maret 1984, malam. Paginya, sekitar jam 05.00, kami berlima tiba di hotel, Jl. Pemuda 23, Semarang. Empat pengajar JIP-FSUI dan saya yang masih berstatus mahasiswa dengan skripsi tak selesai-selesai, didaulat menjadi nara sumber dalam Lokakarya "Pengintegrasian Program Pengembangan Perpustakaan Dengan Program Pendidikan Universitas" di Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro, 27-28 Maret 1984.

Berangkat naik kereta api, Minggu sore, 25 Maret 1984, dari Stasiun Senen. Di perjalanan saya ditraktir mBak Ining, nasi rames (Rp. 950,00) dan minuman soda gembira (Rp.800,00). Sempat menghabiskan bab pertama buku Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Juga melalui headphone mendengarkan lagunya duo America : "I Need You" dan juga "A Horse With No Name." Harusnya lagu dari Paul, Peter & Mary , "Five Hundred Miles" :

If you miss the train I'm on
You'll know that I'm gone
You can hear the whistle blow
A hundred miles.

"Ini sejarah," tulis saya di buku harian. Antara lain, seperti saya laporkan di majalah KJIP, karena "kami berlima segera menjadi anak buah Prabu Menakjinggo. Hotel yang kami tempati bernama Blambangan." Saya menempati kamar nomor 24. Terdapat 3 tiga tempat tidur.

Acara pertama : menulis surat untuk Bakhuri Jamaluddin. Saya lupa menulis untuk Hartadi Wibowo, teman mengobrol hari-hari sebelum berangkat ke Semarang. Kemudian tidur-tidur ayam sampai jam 08.30.

Untuk sarapan, saya diberi minuman jus dan roti oleh Ibu Soenarti. Lumayan. Terima kasih, Ibu. Lalu keluar hotel, mencari kantor pos, untuk memposkan surat ke priyayi berambut rapi asal Suruh Salatiga, yang pustakawan perpustakaan Akademi Gizi, Hang Jebat, Kebayoran Baru.

Balik dari kantorpos, kembali menulis surat. Untuk Cut Fachmaida Amien. Mahasiswi ASMI Banda Aceh. Juga Niken Chandrawati, putri Jl. Bangka yang mahasiswi ASMI, Pulomas. Siangnya, mengunjungi Perpustakaan UNDIP. Disambut Pak Gunardo dan juga Ibu Kadarsih. Makan siang di "Nglaras Roso," dan dari Ibu Soma yang asli (?) Semarang saya dapat info : "tahun 1965 restoran ini masih berdinding bambu, dan 15 tahun kemudian bergedung megah."

Saat di hotel sempat ada tamu. Ibu Soma mengenalkan tamunya, Bapak Koeshartono. Kakak beliau (info dari mBak Lini Ashdown, putri Ibu Soma,24/1/2012,almarhum Bapak Koeshartono ternyata adalah adik dari Ibu Soma). Setelah istirahat, sorenya mengunjungi Gedung Batu. Ini monumen peringatan datangnya pasukan Laksamana Cheng Ho dari China. Dilanjutkan naik ke Gombel, menikmati panorama lautan lampu kota Semarang yang dilihat menakjubkan dari atas. "San Francisco," komentar Ibu Soma. Perjalanan malam itu dipungkasi di rumah makan "Yunyam" tadi.

Sungguh kebetulan, di meja lain nampak sosok yang familier bagi saya. Pematung dan seniman serba bisa Hajar "Totok" Satoto dari Solo. Dirinya yang pernah ikut melawat ke Perancis bersama penari Sardono W. Kusumo ditemani kartunis terkenal dari Harian Kompas, GM Sudarta. Juga teman seniman lainnya.

Saya sambangi mereka, lalu mengobrol beberapa saat. Ketika kembali ke meja ibu-ibu dosen, saya katakan bahwa salah satu dari mereka adalah kartunis GM Sudarta. Ibu Soma kemudian menimpali, "istri GM Sudarta itu juga pustakawan."

Voila !

bambang haryanto,jurusan ilmu perpustakaan fsui,undip,28 maret 1984

Jualan manfaat otak kanan. Ibarat seorang salesman, saya sedang beraksi menjual gaya hidup pentingnya eksploitasi otak kanan bagi kalangan pustakawan perguruan tinggi di Semarang. Tetapi status sebagai "dosen gadungan" membuat saya gugup sendiri,sebagai suatu show boleh dibilang tidak begitu sukses.

Kompas dan Cameron Diaz. Ketika hari loka karya tiba, saya diperkenalkan kepada peserta sebagai "drs" ilmu perpustakaan, yang mengajar di JIP-FSUI. Dosen super gadungan. Posisi "mendua" ini yang kiranya, antara lain, membuat saya gugup. Sehingga presentasi saya pada hari kedua, saya rasa kok kurang begitu sukses.

Padahal ketika di hotel saya sudah di-doping Ibu Soma dengan sebutan "pemuda baru." Tampil beda. Berbaju lengan panjang. Juga mengenakan dasi. Kayak bankir :-). Rada bikin kejutan. Karena selama ini saya suka pakai kaos, bahkan menjadi topik obrolan saat kami makan malam (27/3/1984) di Restoran Oen yang legendaris.

Ibu Soma merujuk kepada putranya Dedi Achdiat Somadikarta (meninggal dunia 18 Januari 1985) yang pernah mengajari angkatan saya introduksi pengolahan data memakai komputer Commodore atau Atari, yang juga suka berkaos sehari-harinya. Di restoran itu, kalau mengenang, saya harus malu besar. Karena saya benar-benar over acting, laku lajak, karena minum-minum bir di tengah ibu-ibu dosen saya.

Dasi yang saya kenakan ternyata tak mampu menyelamatkan kondisi presentasi saya, yang pengin cerita banyak itu. Bertele-tele. Dari Marshall McLuhan, Daniel Bell sampai Alvin Toffler. Kurang humor, juga miskin dramatika. Saya tahu kekurangan besar itu ketika mendengarkannya kembali dari rekaman kaset yang ada.

Syukurlah di akhir presentasi, yang antara lain saya bercerita tentang pentingnya visual literacy selain information literacy dan media literacy, saya disalami Prof. Slamet Rahardjo yang budayawan itu. Beliau rupanya terkesan dengan dongengan mengenai split brain theory yang dikembangkan Roger Wolcott Sperry (1913-1994) sehingga dirinya memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran 1981.

Merujuk teori itu dan pengalaman empiris, kalangan pustakawan nampak lebih banyak menggunakan otak kiri, dengan ciri keteraturan, logis, eksak, linier, stabilitas dan "di dalam kotak." Sementara kreativitas, fuzzy, berfikir lateral dan aksi mengguncang-guncang perahu yang menjadi ranah dominan otak kanan nampaknya banyak terabaikan.

Seorang peserta yang mengaku dosen FISIP Undip menyambangi, ia berminat memfotokopi transparansi saya. Lalu ada pula dosen Fakultas Kedokteran Undip bilang hal tak terduga. Katanya, "saya pernah kuliah audio-visual di Illinois, tetapi presentasi Anda tadi ck.ck.ck.." Terima kasih. Sebagai nara sumber itu saya memperoleh honor Rp.40.000,00.

Sayang, saat break saya tak sempat mengobrol dengan mbak Ir. Dewi E. Ramali, peserta dari Universitas Soegiyopranoto (kalau tak salah). Umpama artis Hollywood, kilau dirinya saat itu bisa disejajarkan dengan Cameron Diaz saat ini.

Berita tentang loka karya itu kemudian muncul di harian Kompas 30 Maret 1984. Sebagian besar merujuk kepada isi makalahnya Ibu Soenarti Soebadio dan mBak Siti Sumarningsih, yang menyoroti belum maksimalnya layanan referensi di perpustakaan.

Akibatnya, perpustakaan ibarat hutan gelap yang tidak mampu dijelajahi harta karunnya oleh para penggunanya. Saya ikut kecipratan rasa bangga atas publikasi yang menarik ini.

Pulang kampung nih. Rabu malam, 28 Maret 1984, rombongan akan kembali ke Jakarta. Saya mohon diri kepada Ibu Soma, minta ijin akan pulang kampung dulu ke Wonogiri. Pelbagai perangkat keras yang saya bawa, saya minta tolong kepada Pak Gunardo untuk mengirimkannya kemudian ke Rawamangun.

Sampai di rumah Wonogiri jam 21.45. Lalu mendengarkan kembali rekaman presentasiku, uh, sampai jam 2 dini hari. Esoknya (29/3/1984) pergi ke Toko Baru, membeli tiga potong kain lurik, memenuhi pesanan mBak Ining. Saya pilihkan salah satunya yang ada benang emasnya.

Ketika kembali ke Jakarta, ternyata pilihan ini rada bermasalah. mBak Ining rada protes karena adanya unsur glitter dari lurik itu, yang berkesan genit, yang mungkin kurang sreg dengan kepribadian beliau yang selalu rendah hati itu.

Comedy of Error. Terakhir kali, kalau tak salah, saya ketemu mBak Ining tahun 1997. Di Perpustakaan American Cultural Center. Di tempat yang sama, saya juga pernah ketemu rekan seangkatan saya, Sri Mulungsih Gedong Roekmi. Tentu saja ketemu Ibu Ies Prayogo, kepala perpustakaannya, yang kadang bertanya : "Kapan menikah ?"

Melalui Google, baru-baru saja ini, ketika saya mencari gambar atau foto dengan memasukkan kata kunci "lily k. somadikarta," yang muncul antara lain malah fotonya mBak Ining bersama para mahasiswanya (klik di sini). Tidak banyak perubahan dari beliau. Bahkan nampak lebih putih.

Entah karena kini ruang kerjanya terus ber-AC atau sisa hawa dingin dari kampus Universitas Wales yang berdiri tahun 1872 di Aberystwyth, Wales, masih belum luntur pada dirinya. Masih banyak cerita tentang mBak Ining dan dosen-dosen lainnya di album kenangan saya.

Terakhir : kembali ke Robert T. Kiyosaki lagi. Walau ia punya pesan wanti-wanti agar kita mempelajari dulu istilah-istilah sebelum memahami sesuatu disiplin ilmu, ternyata saya tidak melakukan hal penting tersebut ketika langsung berada di meja makan restoran "Yunyam" Semarang saat itu.

Sehingga ketika beranjak keluar dari restoran, mBak Ining kok ya masih sempat bertanya kepada saya : "Gimana mBang, trial and error-nya ?" Wah, saya hanya bisa menjawab pendek :

"Error,mBak."

Itu kejadian 26 tahun lampau.

Kini saya berandai-andai : apabila saya ditanya mengapa sejak selesai belajar tahun 1985 tetapi kemudian saya tidak dekat-dekat amat dengan dunia ilmu perpustakaan, apakah saya harus menjawab bahwa pilihan hidup saya itu merupakan hal yang "error" pula ?


Wonogiri, 21 Oktober 2010