Tampilkan postingan dengan label jip-fsui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jip-fsui. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 April 2012

18 April 2012 : Tiga Tahun Ibu Lily K. Somadikarta Berpulang

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Tanggal bersejarah. Samuel P. Huntington, ilmuwan politik AS yang terkenal dengan tesis benturan peradaban, lahir 18 April 1927. Komedian sohor AS,Conan O'Brien, lahir 18 April 1963. Pesepakbola asal Swedia, Stefan Schwarz, lahir pada tanggal yang sama di tahun 1969.

Ahli botani Inggris, Erasmus Darwin, wafat pada tanggal 18 April 1802. Albert Einstein, wafat 18 April 1955. Thor Heyerdahl, penjelajah Norwegia yang terkenal dengan perahu “Ra”-nya, wafat pada tanggal yang sama, tahun 2002.

Dunia pendidikan ilmu perpustakaan Indonesia, pada tanggal yang sama di tahun 2009, telah kehilangan salah satu tokohnya yang terkemuka. Ibu Lily Koeshartini Somadikarta (foto), telah menghadap Sang Khalik. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Blender, Kebon Pedes, Bogor.

Catatan kenangan. Melalui bantuan Google, saya bisa menemukan beberapa catatan menarik. Yang tidak saya temui via Internet, tetapi berdasar cerita dari putrinya mBak Lini Ashdown yang tinggal di Inggris, ada hal yang mengejutkan bagi saya.

Ternyata Ibu Soma itu menyukai sepakbola. Bahkan mBak Lini cerita, beliau sampai rela bangun dini hari untuk menonton tayangan pertandingan sepakbola di televisi. Umpama informasi ini saya ketahui saat saya menjadi mahasiswa beliau di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (saat itu) di tahun 1980, pasti beliau akan saya ajak mengobrol tentang permainan si kulit bundar tersebut.

Reuni JIP-FSUI 2008, Ki-ka : Hartadi Wibowo, Yaz Anggraeni (putri Hartadi Wibowo), Lily K. Somadikarta dan Rizal Saiful-haqReuni Tiga Generasi. Dalam acara reuni Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI 2008 nampak dari kiri Hartadi Wibowo (mahasiswa angkatan masuk 1980), putrinya Tyas "Yaz" Anggraeni yang juga mahasiswa JIP, Ibu Lily K. Somadikarta dan rekan seangkatan Hartadi Wibowo, Rizal Saiful-haq. Rizal ini mengikuti jejak Ibu Soma sebagai pengajar dan ketua jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Jakarta.

Memutar kenangan tentang beliau, antara lain tersaji laporan gegap gempita :-) tentang kegiatan mahasiswa JIP-FSUI pada bulan Juni 2006 ketika menyelenggarakan pesta untuk merayakan hari ulang tahun Ibu Soma (1/6/1926) dan Ibu Soenarti Soebadio.

Sebelumnya, di tahun 2003, mahasiswi JIP-FSUI Rosmi Julitasari dengan bimbingan Putu Laxman Pendit telah menulis skripsi berjudul Pemikiran Lily K. Somadikarta : Pendidikan dan Ilmuwan Di Bidang Ilmu Perpustakaan. Ketika Ibu Soma wafat, penulis yang sama dan dikabarkan sedang menulis biografi Ibu Soma telah menuliskan obituari yang menyentuh.

Judulnya : Mengenang Lily K. Somadikarta: Perintis Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia. Rosmi Julitasari mengakhiri tulisan panjang yang mencakup sejarah perjalanan karier Ibu Soma itu dengan doa :

”Selamat jalan, Ibu Lily K. Somadikarta. Saya yakin Ibu akan damai di sana, karena para malaikat pasti bergegap gempita menyambut umat Tuhan seperti Ibu, yang telah menanamkan ilmu di pemikiran banyak orang yang telah Ibu didik.”

“Istri saya, itu orang yang paling terdekat,” demikian Profesor Soekarja Somadikarta, suami Ibu Soma, ketika diwawancarai oleh wartawan Radio BBC Siaran Indonesia Heyder Affan, 30/11/2011 (Audio). Saat itu Bapak Soma baru saja memperoleh penghargaan Habibie Award 2011 atas dedikasinya pada bidang ilmu dasar.

Dan tatkala istrinya meninggal dunia, Somadikarta merasa kehilangan. Dia mengaku 'sakit' kalau teringat sosok sang mendiang.

“Tapi itu takdir,” imbuhnya cepat-cepat, dengan nada bergetar.

“Saya bersujud kepada Tuhan... Itu takdir, ndak bisa diapa-apakan”.

Profesor Soma mengaku almarhumah istrinya berperan besar atas perjalanan hidupnya.

Selama 54 tahun mengarungi hidup bersama (dan dikaruniai dua orang anak), membuat Soma dan pasangan hidupnya itu saling mengenal. Berulangkali ditinggal untuk kepentingan akademis (yang bisa menghabiskan 3 atau 4 bulan), menurut sang profesor, istrinya bisa menerima kenyataan seperti itu.

“Istri saya begitu menghargai....Itu yang tidak bisa saya melupakan,” katanya, lirih.

Makam Ibu Lily  K. Somadikarta di Blender, Kebon Pedes, BogorPeristirahatan abadi. Di lingkup rindang pohon besar, terletak makam Ibu Somadikarta, yang dijadikan satu dengan putra beliau, Dedi A. Somadikarta yang mendahului menghadap Sang Khalik tanggal 18 Januari 1985.

Dalam blog saya. Sebagai mahasiswa beliau, sungguh suatu kehormatan ketika saya memperoleh kepercayaan dari beliau dan juga dari jurusan untuk hal-hal tertentu. Ketika jurusan akan melakukan pembelian sarana fotografi, saya mendapat tugas untuk mendaftar kamera, lensa dan sarana penunjang lainnya yang pantas untuk dibeli.

Belum lagi pengalaman menarik di bulan Maret 1984 ketika menyertai Ibu Soma, Ibu Soenarti Soebadio, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak dan mBak Siti “Ining” Sumarningsih, untuk tur menjadi nara sumber dalam seminar di Perpustakaan Universitas Diponegoro di Semarang. Lengkapnya :

  • Dosen JIP Gadungan Beraksi di UNDIP Semarang


  • Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari


  • Reuni JIP-FSUI 2008, Reuni Tiga Generasi.



  • Tanggal 10 dan 11 Desember 2011, dengan bantuan informasi dan panduan dari mBak Lini dan Bapak Soma, saya akhirnya dapat berziarah ke makam Ibu Somadikarta. Hari pertama, saya membawa kamera digital yang layar LCD-nya sudah rusak. Hasil fotonya, tidak memuaskan. Saat itu saya dipandu oleh juru kunci, yaitu Andri (No. HP-nya : 087711144692).

    Esoknya, saya dapat pinjaman kamera yang lebih “waras” milik adik saya yang wartawan Tabloid BOLA, Broto Happy W. dan sebagai warga Bogor, saya bisa memotret lebih baik.Ada rasa kelegaan bisa mendoakan beliau. Semoga Ibu Somadikarta senantiasa sejahtera di sisiNya.

    Ketika mengetik tulisan ini saya mengirimkan SMS kepada Bapak Somadikarta. Beliau menjawab : "Sdr Bambang yang baik, banyak tks utk sms dan doa'nya utk Ibu. Kami br dr makam Ibu. Lini dg teman2nya sekarang sedang ke makam teman dekatnya di luar Bogor. Salam hangat jg dr Lini, dan smg Anda trs produktif menulis, SS." (18/4/2018 : 10.43.30).

    Terima kasih kembali, Bapak Soma.



    Wonogiri, 18/4/2012

    Kamis, 25 November 2010

    Boorstin, Anez, Cinta Buku Kaum Pustakawan

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    "Teknologi mendekatkan yang jauh.
    Tetapi juga menjauhkan yang dekat."

    Pencetus ucapan ini pernah berkunjung ke Rawamangun. Kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kalau tak salah sekitar tahun 1985.

    Daniel J. Boorstin.
    Pustakawan dari Library of Congress, Amerika Serikat.

    Saya tidak mengikuti pertemuan itu. Tetapi hanya membacanya dari surat kabar Kompas. Saat itu di jurusan, seingat saya, juga tidak muncul umyung atau tersebarnya kicau-kicau kehebohan terkait dengan kunjungan pustakawan istimewa itu.

    Toh saat itu saya merasa dekat dengan beliau. Dirujuk dari iklan-iklan klub buku di majalah-majalah favorit saya seperti The Atlantic Monthly, Discover, Omni, Popular Science sampai Science Digest yang saya baca-baca dan pinjam dari perpustakaan Lembaga Indonesia Amerika (LIA), lalu terantuk dengan salah satu buku karya Daniel J. Boorstin. Buku itu, ajaibnya pula, akhirnya bisa saya pinjam dari perpustakaan PDII-LIPI pada saat-saat itu pula.

    Tahun 1985-an itu, minat bacaan saya terkait beragam majalah di atas adalah kuatnya bius kontroversi terkait Perang Bintang, program SDI (Strategic Defence Initiative)-nya Presiden Reagan yang dicanangkan tahun 1983. Yaitu upaya AS menempatkan senjata laser di satelit untuk mencegat dan menghancurkan serangan peluru kendali dari Uni Sovyet. Nama-nama ilmuwan nuklir AS yang ngetop dan terlibat dalam pembicaraan antara lain Edward Teller sampai Hans Bethe.

    Tahun-tahun sebelumnya, perang di kepulauan Falklands, perang Malvinas, membuat saya mabuk fotokopi. Kebetulan di seberang tempat kos saya, yaitu di kios fotokopi yang menyatu dengan Apotik Rini, Jl. Balai Pustaka Timur, juga dipajang majalah TIME terbaru. Majalahnya tidak laku, tetapi kios fotokopinya memperoleh penghasilan dari jasa menfotokopi majalah tersebut.

    Obrolan mengenai beragam persenjataan perang yang dipakai di wilayah Argentina itu, ternyata juga menarik bagi Pak Ahmad Royani. Jadi di ruang perpustakaan JIP, kami malah asyik saling mengobrolkan tentang senjata. Sayang di koleksi perpustakaan jurusan itu sepertinya tak ada buku-buku referensi terbitan Jane's, yang khusus melaporkan beragam jenis persenjataan mutakhir.

    Sampai-sampai senior saya, Bambang Sutejo dari LAPAN-RI yang angkatan 1979, nampak terheran-heran. Ia seangkatan dengan Indira Saraswati, Juliana Surya, Julian E. Warsol, Masykur Irsyam, Pranajaya,Suwarto sampai Yusye Milawati.

    Antara lain karena Bambang Sutejo merasa tak bisa nyambung dengan materi obrolan seorang dosen yang lemah lembut dengan mahasiswanya yang berprofil urakan mengenai topik yang begitu esoterik itu.

    Kembali ke Boorstin. Bukunya yang berkisah mengenai perjuangan para hero dan pionir ilmu pengetahuan.


    [Cerita akan berlanjut]

    Wonogiri, 26 November 2010

    Minggu, 31 Oktober 2010

    The Hunt For Red October 1982

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    September Ceria. Vina Panduwinata.
    The Hunt for Red October. Sean Connery.
    November Rain. Gun's N Roses.
    Badai Bulan Desember. Ucok Harahap.


    Pada bulan Oktober 1982, ramuan suasana dari judul-judul di atas ibarat masuk dalam mesin blender. Dan mesin itu menggerung serta berpusaran di dalam dada saya. Dalam hidup saya.

    Di dalamnya teraduk badai rasa was-was. Gugup. Suasana ceria setelah semua badai itu lewat. Disambung hujan rasa syukur. Tetapi, sebelum kegembiraan mekar, haruslah melewati momen-momen yang cukup menegangkan.

    Itulah momen ketika saya terjun dalam suasana perburuan di bulan Oktober 1982 tersebut. Perburuan untuk lulus ujian lisan sarjana. Ujian komprehensif, begitu sebutan nya yang populer saat itu. Inilah catatan saya tentang sepotong hari mengesankan di masa lalu tersebut :

    Jumat, 8 Oktober 1982
    09.30 - 10.30

    Hari itu, saya bangun pagi, lebih pagi dari biasanya. Di rumah kost ini tak ada jam, patokan hanya radio. Sarapan pagi di warung tegal, mengelem sepatu dengan lem UHU, berangkat ke kampus Rawamangun naik bis kota - padahal biasanya jalan kaki.

    Kutulis di pintu sebelum berangkat, "Aku harus lulus !" (8 Okt 1982 - HT).

    Sampai di perpustakaan JIP, masih sepi. Sempat membaca UDC vs DDC. Lalu turun ke unit II Kampus FSUI, udah nunggu temen-temen. Pak AC Sungkono Hadi yang maju duluan, ati tentu kebat-kebit. Ia lulus lebih baik daripadaku.

    Merokok terus aku, baju putih di saku potret Retno, celana abu-abu. Ia tadi lewat (berbaju) coklat. Aku sukar bersiul, tapi bersenandung lagu Lady-nya Anton Issoedibyo.

    Dapat restu kuat dari temen-temen, jam 10.00 WIB aku masuk ruang Dekan, (tempat) ujian itu. Pak Royani, Pak Nurhadi Magetsari (dekan ?), Ibu Soma, Ibu Narti, semua itu dosen-dosenku.

    "Aku dibuat senewen oleh pertanyaan Ibu Narti."
    Tetapi cerah menjawab pertanyaan Ibu Soma - "bahasa indeks," "storage & information retrieval."

    Aku bagai mau nangis, mata berkaca-kaca, menjabat tangan beliau dengan sentimentil ketika didengar berita - "Aku lulus !"

    Alhamdullilah !
    Tugas masih menghadang, skripsi, dan deg-deg-plas selama bulan Oktober ini tuntas sudah.

    Ditulis : 8 Oktober 1982, Jam 19.40 WIB
    Kost : Jl. Belimbing 24B, Jl. Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.

    PS : Sampai sore di rumah kost itu, aku ditemani teman akrabku : Bakhuri Jamaluddin.


    Wonogiri, 31 Oktober 2010

    Kamis, 21 Oktober 2010

    Dosen JIP Gadungan Beraksi di UNDIP Semarang

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Robert T. Kiyosaki sudah berpesan wanti-wanti.
    Kalau Anda ingin mempelajari sesuatu, fahamilah dulu istilah-istilahnya.

    Sayang, nasehat itu baru saya baca tahun 2001.
    Tentu saja dari buku serialnya Rich Dad, Poor Dad yang terkenal itu.

    Hemat saya, seharusnya nasehat tersebut sudah saya fahami di tahun 1980, saat memasuki tahun pertama berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP-FSUI). Tanpa bekal acuan itu, jelas membuat tahun awal perkuliahan menjadi perjalanan mendaki yang terasa lebih berat.

    Karena memahami istilah-istilah baru itu bukan pula hal mudah. Belum lagi dihantui konsekuensi yang ada : bila nilai-nilai Anda jeblok di tahun pertama, maka pintu drop-out terbuka dan menganga untuk Anda.

    Istilah menunjukkan profesi.
    Bahasa rahasia.
    Juga simbol otoritas.

    Saya ingat kata-kata linguis Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don't Understand: Men and Women in Conversation (1990). Buku ini saya pinjam dari perpustakaan American Cultural Center, di Wisma Metropolitan 2, Jakarta. Kepala perpustakaannya juga dosen saya untuk mata kuliah Pengolahan Data, Ibu Siti Aisjah Anwar (Ies Prayogo).

    Tannen mengatakan bahwa pola komunikasi (utamanya) kaum pria itu cerminan perebutan posisi atas dan menghindari posisi bawah dengan lawan bicara. Maka menurutnya, pemakaian istilah-istilah khusus itu merupakan senjata untuk memperoleh kemenangan dalam kompetisi bersangkutan. Kalau mitra bicara Anda tiba-tiba mengeluarkan istilah yang tidak Anda mengerti, maka dia akan merasa menang, dan Anda di matanya berada pada posisi fihak yang kalah.

    Tetapi kemaruk istilah, juga tidak produktif. Itu tanda kesombongan semu yang membendung komunikasi. Dalam ranah komunikasi bisnis, bila penyampaian pesan Anda semata berorientasi kepada diri Anda sendiri dan menegasikan kepentingan konsumen, ibaratnya Anda sedang melakukan bunuh diri.

    Hal itu pernah terjadi.
    Di restoran masakan Cina, "Yunyam" di Semarang.

    Tetapi pelaku aksi "bunuh diri" tersebut bukan sang pemilik restoran. Juga bukan tukang masaknya, misalnya dengan membuat bocor tabung gas elpji. Atau berenang dalam wajan. Pelaku "bunuh diri" itu diri saya. Pasalnya, pencantuman nama-nama asing yang serba Mandarin dalam daftar menunya telah mendorong saya melakukan aksi fatal ketika memesan makanan.

    bambang haryanto,jurusan ilmu perpustakaan fsui,undip,28 maret 1984,rusina syahrial-pamoentjak,dosen jip-fsui

    Restoran Semarang. Saya bersama mas supir dari Undip sedang bersiap menyantap makanan yang dipilih berdasar intuisi, puitis atau tidaknya nama masakan bersangkutan. Perkara cocok atau tidak dengan lidah asal tidak beracun, semuanya beres adanya.Nampak di latar depan kanan, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak.

    "Kamu pesan masakan apa, mBang ?" demikian tanya mBak Ining. Saya hanya bisa meringis. Angkat bahu. Di meja lain Ibu Lily K. Somadikarta, Ibu Rusina Syahrial Pamoentjak dan Ibu Soenarti Soebadio nampak berdiskusi secara fasih dalam memilih dari daftar menu. mBak Ining yang berbaik hati lalu mengunjungi meja saya. Mungkin saat itu saya nampak kebingungan di matanya.

    Saat itu saya, di meja terpisah, hanya ditemani sopir dari Undip. Mas sopir itu, sebelumnya, ketika saya tanya mau pesan masakan apa, ia menyatakan makmum dengan pilihan saya. Undip ikut UI sajalah. Maka saya segera pede memilih masakan Cina berdasarkan kaidah-kaidah "aliran Rawamangun," kaidah-kaidah sastra. Memilih yang judulnya terdengar eksotis dan puitis.

    Tetapi kepada mBak Ining itu saya katakan sejujurnya : "Trial and error, mBak."

    dosen jip fsui 1980,ilmu perpustakaan,pemotret : bambang haryanto,tahun 1982,universitas indonesia

    Trio dosen saya 1980.Dari kiri : Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak, Ibu Soenarti Soebadio dan Ibu Lily K. Somadikarta. Ketiganya saya potret bulan Oktober 1982, menjelang peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan Indonesia di mana foto-foto para pengajar sejak tahun 1950-an dipamerkan.

    Flashback : 1984. Kejadian di atas berlangsung hari Senin, 26 Maret 1984, malam. Paginya, sekitar jam 05.00, kami berlima tiba di hotel, Jl. Pemuda 23, Semarang. Empat pengajar JIP-FSUI dan saya yang masih berstatus mahasiswa dengan skripsi tak selesai-selesai, didaulat menjadi nara sumber dalam Lokakarya "Pengintegrasian Program Pengembangan Perpustakaan Dengan Program Pendidikan Universitas" di Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro, 27-28 Maret 1984.

    Berangkat naik kereta api, Minggu sore, 25 Maret 1984, dari Stasiun Senen. Di perjalanan saya ditraktir mBak Ining, nasi rames (Rp. 950,00) dan minuman soda gembira (Rp.800,00). Sempat menghabiskan bab pertama buku Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Juga melalui headphone mendengarkan lagunya duo America : "I Need You" dan juga "A Horse With No Name." Harusnya lagu dari Paul, Peter & Mary , "Five Hundred Miles" :

    If you miss the train I'm on
    You'll know that I'm gone
    You can hear the whistle blow
    A hundred miles.

    "Ini sejarah," tulis saya di buku harian. Antara lain, seperti saya laporkan di majalah KJIP, karena "kami berlima segera menjadi anak buah Prabu Menakjinggo. Hotel yang kami tempati bernama Blambangan." Saya menempati kamar nomor 24. Terdapat 3 tiga tempat tidur.

    Acara pertama : menulis surat untuk Bakhuri Jamaluddin. Saya lupa menulis untuk Hartadi Wibowo, teman mengobrol hari-hari sebelum berangkat ke Semarang. Kemudian tidur-tidur ayam sampai jam 08.30.

    Untuk sarapan, saya diberi minuman jus dan roti oleh Ibu Soenarti. Lumayan. Terima kasih, Ibu. Lalu keluar hotel, mencari kantor pos, untuk memposkan surat ke priyayi berambut rapi asal Suruh Salatiga, yang pustakawan perpustakaan Akademi Gizi, Hang Jebat, Kebayoran Baru.

    Balik dari kantorpos, kembali menulis surat. Untuk Cut Fachmaida Amien. Mahasiswi ASMI Banda Aceh. Juga Niken Chandrawati, putri Jl. Bangka yang mahasiswi ASMI, Pulomas. Siangnya, mengunjungi Perpustakaan UNDIP. Disambut Pak Gunardo dan juga Ibu Kadarsih. Makan siang di "Nglaras Roso," dan dari Ibu Soma yang asli (?) Semarang saya dapat info : "tahun 1965 restoran ini masih berdinding bambu, dan 15 tahun kemudian bergedung megah."

    Saat di hotel sempat ada tamu. Ibu Soma mengenalkan tamunya, Bapak Koeshartono. Kakak beliau (info dari mBak Lini Ashdown, putri Ibu Soma,24/1/2012,almarhum Bapak Koeshartono ternyata adalah adik dari Ibu Soma). Setelah istirahat, sorenya mengunjungi Gedung Batu. Ini monumen peringatan datangnya pasukan Laksamana Cheng Ho dari China. Dilanjutkan naik ke Gombel, menikmati panorama lautan lampu kota Semarang yang dilihat menakjubkan dari atas. "San Francisco," komentar Ibu Soma. Perjalanan malam itu dipungkasi di rumah makan "Yunyam" tadi.

    Sungguh kebetulan, di meja lain nampak sosok yang familier bagi saya. Pematung dan seniman serba bisa Hajar "Totok" Satoto dari Solo. Dirinya yang pernah ikut melawat ke Perancis bersama penari Sardono W. Kusumo ditemani kartunis terkenal dari Harian Kompas, GM Sudarta. Juga teman seniman lainnya.

    Saya sambangi mereka, lalu mengobrol beberapa saat. Ketika kembali ke meja ibu-ibu dosen, saya katakan bahwa salah satu dari mereka adalah kartunis GM Sudarta. Ibu Soma kemudian menimpali, "istri GM Sudarta itu juga pustakawan."

    Voila !

    bambang haryanto,jurusan ilmu perpustakaan fsui,undip,28 maret 1984

    Jualan manfaat otak kanan. Ibarat seorang salesman, saya sedang beraksi menjual gaya hidup pentingnya eksploitasi otak kanan bagi kalangan pustakawan perguruan tinggi di Semarang. Tetapi status sebagai "dosen gadungan" membuat saya gugup sendiri,sebagai suatu show boleh dibilang tidak begitu sukses.

    Kompas dan Cameron Diaz. Ketika hari loka karya tiba, saya diperkenalkan kepada peserta sebagai "drs" ilmu perpustakaan, yang mengajar di JIP-FSUI. Dosen super gadungan. Posisi "mendua" ini yang kiranya, antara lain, membuat saya gugup. Sehingga presentasi saya pada hari kedua, saya rasa kok kurang begitu sukses.

    Padahal ketika di hotel saya sudah di-doping Ibu Soma dengan sebutan "pemuda baru." Tampil beda. Berbaju lengan panjang. Juga mengenakan dasi. Kayak bankir :-). Rada bikin kejutan. Karena selama ini saya suka pakai kaos, bahkan menjadi topik obrolan saat kami makan malam (27/3/1984) di Restoran Oen yang legendaris.

    Ibu Soma merujuk kepada putranya Dedi Achdiat Somadikarta (meninggal dunia 18 Januari 1985) yang pernah mengajari angkatan saya introduksi pengolahan data memakai komputer Commodore atau Atari, yang juga suka berkaos sehari-harinya. Di restoran itu, kalau mengenang, saya harus malu besar. Karena saya benar-benar over acting, laku lajak, karena minum-minum bir di tengah ibu-ibu dosen saya.

    Dasi yang saya kenakan ternyata tak mampu menyelamatkan kondisi presentasi saya, yang pengin cerita banyak itu. Bertele-tele. Dari Marshall McLuhan, Daniel Bell sampai Alvin Toffler. Kurang humor, juga miskin dramatika. Saya tahu kekurangan besar itu ketika mendengarkannya kembali dari rekaman kaset yang ada.

    Syukurlah di akhir presentasi, yang antara lain saya bercerita tentang pentingnya visual literacy selain information literacy dan media literacy, saya disalami Prof. Slamet Rahardjo yang budayawan itu. Beliau rupanya terkesan dengan dongengan mengenai split brain theory yang dikembangkan Roger Wolcott Sperry (1913-1994) sehingga dirinya memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran 1981.

    Merujuk teori itu dan pengalaman empiris, kalangan pustakawan nampak lebih banyak menggunakan otak kiri, dengan ciri keteraturan, logis, eksak, linier, stabilitas dan "di dalam kotak." Sementara kreativitas, fuzzy, berfikir lateral dan aksi mengguncang-guncang perahu yang menjadi ranah dominan otak kanan nampaknya banyak terabaikan.

    Seorang peserta yang mengaku dosen FISIP Undip menyambangi, ia berminat memfotokopi transparansi saya. Lalu ada pula dosen Fakultas Kedokteran Undip bilang hal tak terduga. Katanya, "saya pernah kuliah audio-visual di Illinois, tetapi presentasi Anda tadi ck.ck.ck.." Terima kasih. Sebagai nara sumber itu saya memperoleh honor Rp.40.000,00.

    Sayang, saat break saya tak sempat mengobrol dengan mbak Ir. Dewi E. Ramali, peserta dari Universitas Soegiyopranoto (kalau tak salah). Umpama artis Hollywood, kilau dirinya saat itu bisa disejajarkan dengan Cameron Diaz saat ini.

    Berita tentang loka karya itu kemudian muncul di harian Kompas 30 Maret 1984. Sebagian besar merujuk kepada isi makalahnya Ibu Soenarti Soebadio dan mBak Siti Sumarningsih, yang menyoroti belum maksimalnya layanan referensi di perpustakaan.

    Akibatnya, perpustakaan ibarat hutan gelap yang tidak mampu dijelajahi harta karunnya oleh para penggunanya. Saya ikut kecipratan rasa bangga atas publikasi yang menarik ini.

    Pulang kampung nih. Rabu malam, 28 Maret 1984, rombongan akan kembali ke Jakarta. Saya mohon diri kepada Ibu Soma, minta ijin akan pulang kampung dulu ke Wonogiri. Pelbagai perangkat keras yang saya bawa, saya minta tolong kepada Pak Gunardo untuk mengirimkannya kemudian ke Rawamangun.

    Sampai di rumah Wonogiri jam 21.45. Lalu mendengarkan kembali rekaman presentasiku, uh, sampai jam 2 dini hari. Esoknya (29/3/1984) pergi ke Toko Baru, membeli tiga potong kain lurik, memenuhi pesanan mBak Ining. Saya pilihkan salah satunya yang ada benang emasnya.

    Ketika kembali ke Jakarta, ternyata pilihan ini rada bermasalah. mBak Ining rada protes karena adanya unsur glitter dari lurik itu, yang berkesan genit, yang mungkin kurang sreg dengan kepribadian beliau yang selalu rendah hati itu.

    Comedy of Error. Terakhir kali, kalau tak salah, saya ketemu mBak Ining tahun 1997. Di Perpustakaan American Cultural Center. Di tempat yang sama, saya juga pernah ketemu rekan seangkatan saya, Sri Mulungsih Gedong Roekmi. Tentu saja ketemu Ibu Ies Prayogo, kepala perpustakaannya, yang kadang bertanya : "Kapan menikah ?"

    Melalui Google, baru-baru saja ini, ketika saya mencari gambar atau foto dengan memasukkan kata kunci "lily k. somadikarta," yang muncul antara lain malah fotonya mBak Ining bersama para mahasiswanya (klik di sini). Tidak banyak perubahan dari beliau. Bahkan nampak lebih putih.

    Entah karena kini ruang kerjanya terus ber-AC atau sisa hawa dingin dari kampus Universitas Wales yang berdiri tahun 1872 di Aberystwyth, Wales, masih belum luntur pada dirinya. Masih banyak cerita tentang mBak Ining dan dosen-dosen lainnya di album kenangan saya.

    Terakhir : kembali ke Robert T. Kiyosaki lagi. Walau ia punya pesan wanti-wanti agar kita mempelajari dulu istilah-istilah sebelum memahami sesuatu disiplin ilmu, ternyata saya tidak melakukan hal penting tersebut ketika langsung berada di meja makan restoran "Yunyam" Semarang saat itu.

    Sehingga ketika beranjak keluar dari restoran, mBak Ining kok ya masih sempat bertanya kepada saya : "Gimana mBang, trial and error-nya ?" Wah, saya hanya bisa menjawab pendek :

    "Error,mBak."

    Itu kejadian 26 tahun lampau.

    Kini saya berandai-andai : apabila saya ditanya mengapa sejak selesai belajar tahun 1985 tetapi kemudian saya tidak dekat-dekat amat dengan dunia ilmu perpustakaan, apakah saya harus menjawab bahwa pilihan hidup saya itu merupakan hal yang "error" pula ?


    Wonogiri, 21 Oktober 2010

    Senin, 18 Oktober 2010

    Silaturahmi Alumni JIP-FSUI Di Dunia Maya

    Dear sesama alumni JIP-FSUI,

    Salam pustakawan. Senang sekali saya memergoki Anda sebagai alumnus JIP-FSUI yang tampil baik hati, dengan murah hati, sudi berbagi cerita, wawasan dan pengetahuan tentang dunia cinta kita di dunia maya. Di Internet. Anda sungguh generasi JIP-FSUI yang beruntung sekali.

    Sebab waktu saya berkuliah di JIP-FSUI, jaman duluuu sekali itu, Internet belum ada. Kertas juga belum ada. Bahkan semua catatan kuliah masih harus ditulis di atas daun lontar. Atau digurat di kulit kayu kering yang harus dikelupas dulu dari pohon-pohon akasia raksasa yang merindangi padepokan Rawamangun saat itu.

    Angkatan sebelum saya, ceritanya, malah berkuliah dengan mengusung keping-keping batu sebesar papan tulis. Tablet. Model inspiratif yang dikembangkan oleh Steve Jobs menjadi produk iPad-nya Apple sekarang ini. Angkatan sebelum saya itu menulis catatan kuliah mereka dengan memakai pahat.

    Begitu ada perintah dosen, "Print !," bisa dibayangkan betapa heroik dan kerasnya mereka bekerja saat itu. Apalagi yang ditekan adalah tombol "Send."

    Depok masih sawah.
    Atau hutan, yang cuma dihuni hantu-hantu belaka.

    Para dosen kita jaman dulu, seperti Ibu Lily K Somadikarta, Pak Sulistyo Basuki, Ibu Lily Roesma, Ibu Ining sampai Pak Zulfikar Zen, semuanya pergi mengajar ke kampus masih naik kuda. Atau kereta yang ditarik kuda. Bahkan ada mahasiswa yang kreatif, ke kampus secara ramai-ramai dengan mencarter kendaraan khusus : dinosaurus !

    Ah, jangan percaya bualan di atas.

    Perkenalkan, saya, Bambang Haryanto, alumnus JIP-FSUI Angkatan 1980. Saya baru saja meluncurkan blog untuk angkatan saya : JIP FSUI Angkatan 1980. Hemat saya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

    Untuk memperkaya blog itulah saya berkunjung ke blog Anda untuk menyusun isi blogroll-nya. Sehingga diharapkan antarkita semua yang sesama alumni JIP, khususnya, juga para pemangku kepentingan dunia perpustakaan dan informasi itu pada umumnya, dapat selalu tersambung di dunia maya. Senang sekali saya bisa mengenal Anda.

    Selamat terus menulis, ber-blogria, berkreasi dan berprestasi.
    Sukses selalu untuk Anda. Salam dari Wonogiri.

    Bambang Haryanto
    Blog EE : http://esaiei.blogspot.com