Tampilkan postingan dengan label ilmu perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu perpustakaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 November 2010

Like waking up, like coming home

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Supir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.
Memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.

Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Supir truk memasang slogan di bak truknya :
"Aku tunggu jandamu."

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi.

"Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.

Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.

Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."

Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12.

Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung), saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00.

Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata.

Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya.

Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.

Cinta belum mati. Kita semua menyukai dongeng semacam itu. Kita mencandui kisah-kisah tentang insan yang kehilangan peluang untuk bersama pada kesempatan pertama, tetapi kemudian mereka mampu meraihnya kembali pada kesempatan yang kedua.

"Sebagai generasi Baby Boomers yang menghadapi fase terakhir dari hidup kita, banyak di antara kita yang bertahun-tahun berkelana, berpindah-pindah tempat untuk meningkatkan pendidikan atau peluang profesional kita, tiba-tiba kini mendambakan familiarity, sesuatu yang telah lama kita kenali dan akrabi.

Yaitu seseorang yang dapat berbagi tawa untuk lelucon yang sama, yang memahami hal-hal ganjil di antara kita, yang membuat kita tetap saja merasa muda dan cantik. Beberapa di antara mereka menyalakan kembali hubungan lamanya, kadang menghidupkan lagi api asmara, mulai mengingat siapa diri kita di masa lalu, dan terkadang melihat kesempatan untuk bisa mengunjungi rumah itu kembali.

Di antaranya memiliki keberanian untuk memulai hidup baru, sebagian lainnya menghindar. Ada yang menikmati masa-masa indah, sedang lainnya macet di tengah jalan."

Itulah warna-warni kehidupan.

Terima kasih saya kepada Ilene Serlin, psikolog klinis, pendiri dan direktur Union Street Health Associates and the Arts Medicine Program di California Pacific Medical Center. Dalam artikel di blognya berjudul " Reunion: Couples Talk About Second Chances with Their First Loves", yang saya kutip bagian awalnya di atas itu, kita dapat hanyut untuk merasakan bahwa tidak muskil betapa api lama, cinta pertama, the eternal flame itu, masih mampu berkobaran untuk membawa kehangatan dan kebahagiaan bagi pelakunya.

Ada cerita tentang Teri Rosen, penulis. Tinggal di New York. Ketika hendak mengikuti acara reuni 40 tahun sekolah menengahnya, Oktober 2006, putri remajanya wanti-wanti : "Kau di sana akan bertemu dengan pria impianmu, Ma." Ia memang bertemu dengan Ken, cinta pertamanya. Ken kini pemain poker profesional. Tinggal di California. Keduanya berstatus cerai. Pertemuan itu disusul dengan saling bertukar email, lalu ribuan obrolan melalui telepon.

February 2007, ketemuan di Las Vegas. "Dalam penerbangan, saya telah berusaha menguliahi diri sendiri secara tegas tentang resiko bertindak impulsif, tetapi semua itu terlupakan ketika memandangi dirinya. Ketika pulang saya dihujani nasehat oleh teman-teman akrab saya, yang memperlakukan saya ibarat remaja yang tidak terkontrol tingkah lakunya."

Mei 2007 : Keduanya pindah ke Las Vegas. Tulis Teri, "Ken dan saya membeli rumah bersama dan memulai kehidupan yang selama ini selalu kami bayangkan."

Sekarang : "Kami begitu berbahagia karena telah mampu menggusur ke masa lalu kerinduan-kerinduan yang saya gurat dalam puisi. Berbahagia karena kita tidak lagi menjadikan geografi, rasa takut, sinisme, atau apa pun jua menjadi penghalang bagi jalan kami berdua. Itu berarti bahwa dunia bagi kami tidaklah terlalu terlambat, betapa kita masih memiliki kesempatan untuk memadukan sejarah secara bersama-sama."

Selamat untuk Ken.
Selamat juga untuk Teri.

Seperti pulang kembali. Saya bukan Steve Jobs. Perpustakaan Indonesia saat ini juga bukan identik dengan kondisi perusahaan Apple yang dalam kondisi parah seperti saat itu. Umpama pun benar, jelas saya bukan solusi untuk keparahan itu pula.

Saya juga bukan Ken atau Teri.

Tetapi peristiwa reuni dengan masa lalu, seperti halnya mereka, walau hanya melalui media-media maya, rupanya diam-diam memiliki dampak yang kurang lebih serupa.

Sebagai seseorang yang pernah berkuliah ilmu perpustakaan, tetapi kemudian jalan hidup membuat semua khasanah pengetahuan itu terbengkalai, tersingkir dan terabaikan hampir selama seperempat abad, tiba-tiba muncul dorongan untuk kembali. Blog ini kemudian lahir karena dorongan yang sama, untuk kembali.

Ada rentetan keajaiban kecil-kecil yang saya rasakan ketika bisa menuliskan kembali nama-nama teman kuliah saya di blog ini. Termasuk ketika merasa ada yang kurang, sepertinya salah, lalu bisa menemukan nama yang benar. Juga saat menuliskan nama-nama dosen. Termasuk ketika menuliskan cerita interaksi saya dengan mereka di masa lalu. Rasanya seperti menelusuri lorong-lorong gua dan menemukan kembali butir-butir mutiara kenangan, betapa masa itu dengan perspektif masa kini menjadi nampak menjadi berkilauan.

Saya merasa berharga bisa menuliskan itu semua.

Suatu kebetulan, reuni lain yang juga bermakna, saya alami pula di dunia maya. Kalau sedang jatuh cinta, seperti guyonan Warkop, dengan memandangi genting rumah sang kekasih saja sudah mampu menerbitkan kebahagiaan, bagaimana kalau sudah puluhan tahun tak ada kabar, kemudian di Facebook kita bisa menemukan akun dirinya ?

Walter Raleigh memang benar adanya. John Denver dalam lirik lagunya "Perhaps Love" juga memiliki cerita yang memancarkan pesona :

Perhaps love is like the ocean
Full of conflict, full of change
Like a fire when it's cold outside
Or thunder when it rains

If I should live forever
And all my dreams come true
My memories of love will be of you.

Tetapi saya tidak akan meniru ekspresi jujur sang supir truk itu. Misalnya segera mengirimkan message kepadanya dengan ucapan : "Aku tunggu jandamu." Tetapi biarlah kosmis mendengar dan menyampaikan kabar indah, sekaligus menggelisahkan itu. Untuk dia, saya akan mengutip baris akhir dari puisi Teri Rosen untuk Ken ketika memperingati satu tahun reuni mereka :

I-love-you, he says, is just the beginning.
This feels, she says, like a reunion.
Like waking up.
Like coming home.


Wonogiri, 7 November 2010

Jumat, 05 November 2010

Library 2.0, Pustakawan dan Miopia Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Miopia. Rabun dekat.
Ketidakmampuan memusatkan pandangan pada obyek yang jauh.
Banyak di antara kita yang menderita karenanya.

Di perempatan Gladag Solo, 12 Juli 2008, demo aksi diam yang mengangkat istilah miopia itu telah kami lakukan. Hari itu adalah tepat 8 tahun pencetusan Hari Suporter Nasional.

Kami, sebagian pentolan kelompok suporter sepakbola Pasoepati Solo, melakukan demo (foto di bawah) sebagai perwujudan otokritik terhadap diri kami sendiri : komunitas suporter sepakbola Indonesia.

"Suporter Indonesia = Useful Idiots !"
"Suporter Indonesia, suporter myopia !"

Karena kami selama ini memang menderita miopia, cadok, rabun jauh. Kami hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya bersemangat mengobarkan fanatisme sempit terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa. Dengan bekal yang sama kami siap berkonflik, bertarung secara fisik melawan suporter kota lain.

Tidak pula merasa bersalah ketika konflik itu membuat kerusuhan, keonaran dan ketidaktertiban. Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kami sudah merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola Indonesia sudah beres-beres saja adanya.

Kami tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Termasuk tidak menyadari bahwa konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja "dipelihara," seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.

Misalnya, konflik antarsuporter itu dapat dibisniskan dalam bentuk ajang pertemuan antarsuporter, membuat deklarasi ini dan itu, dan ketika waktu berjalan semua hal itu mudah terlupakan. Ingat, bangsa kita adalah bangsa yang pelupa. Lalu ketika muncul konflik antarsuporter lagi, terlebih lagi dengan munculnya korban jiwa, maka siklus bisnis itu berjalan kembali. Kecadokan kronis kami telah dipelihara untuk meraih keuntungan bagi sebagian orang, dengan kami yang bebal ini sebagai tumbalnya.

Ritus dari siklus-siklus semacam sudah juga membuat kami kebal, sehingga mungkin sudah kami tidurkan apa itu yang namanya hati nurani. Akibatnya kemudian, kami menjadi tidak hirau dengan apa yang terjadi di Senayan, tempat Nurdin Halid dan kroninya bercokol di kantor PSSI selama ini. Tidak hirau pula terhadap prestasi tim nasional yang terseyok-seyok, bahkan pernah bonyok oleh tim Laos, dan kini statusnya tidak lagi terhormat di tingkat Asia Tenggara sekali pun.

bambang haryanto,suporter sepakbola,pencetus hari suporter nasional 12 juli (2000),rekor muri

Presiden yang miopia. Syukurlah, kecadokan tidak hanya monopoli komunitas suporter belaka. Ia juga menulari calon presiden dan presiden. Menjelang kampanye presiden di tahun 2004, saya telah menulis artikel berjudul "Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden," yang dimuat di Harian Kompas, Senin, 8 Maret 2004.

Saat itu saya membandingkan eksekusi situs kampanyenya kandidat Partai Demokrat AS, John Kerry, dengan situs salah satu calon presiden kita, Amien Rais yang dikelola oleh think tank-nya, The Amien Rais Center (ARC). Hemat saya, situs ini tidak ubahnya baru mengalihkan media cetak ke dalam bentuk digital. Pemahaman terhadap Internet yang mendasari eksekusinya ini baru mengolah isi (content), tetapi belum mengeksplorasi pentingnya konteks (context) media berbasis Internet.

Pengelola situs ARC nampak berasumsi bahwa peselancar datang ke situsnya semata-mata untuk membaca-baca berita terbaru mengenai diri Amien Rais. Eksekusi situs web hanya sebagai koran digital itu mengakibatkan peluang simpatisan untuk ikut menjadi bagian integral isi situs secara signifikan, serius terkendala.

Paling-paling hanya boleh memberi komentar untuk sesuatu berita, atau ikut jajak pendapat, yang tidak ubahnya seperti pembaca menulis di kolom surat pembaca di media cetak. Tidak ada pula tautan untuk beragam situs tak resmi PAN atau Amien Rais, tak ada pula blog para pendukungnya.

Bandingkan dengan situs John Kerry. "Selamat datang di situs saya, tetapi ini bukan milik saya pribadi. Ini juga situs milik Anda, yang membukakan peluang untuk melakukan perubahan bagi tanah air kita demi menjadikan Amerika kembali pada jalurnya, dengan memensiunkan George W. Bush, serta memilih arah benar untuk negara yang sama-sama kita cintai ini !" Itulah salam John F. Kerry, senator Partai Demokrat dari Massachusetts, yang kandidat presiden di Pemilu 2004, dalam situs web resminya [www.johnkerry.com].

Sungguh kampanye politik yang hebat, sekaligus menunjukkan pemahaman terhadap Internet yang juga tepat. Situs web John Kerry oleh pengamat strategi kampanye memakai Internet didaulat sebagai nomor dua di belakang situs web kandidat lainnya, Howard Dean. Ucapan bahwa situsnya bukan hanya miliknya semata, ditunjukkkan dengan tersajinya tautan untuk situs web tak resminya, fasilitas chat dan puluhan blog milik para pendukungnya di Internet.

Riuhnya para blogger mengisi situs Kerry itu memicu interaksi unik dan kreatif ketika dukungannya tidak hanya sekedar kata-kata di dunia maya. Dua orang blogger setianya, Tom AZ (Arizona) dan Mark (Iowa) memutuskan berlomba saat mendukung tim baseball favoritnya dan sekaligus mendukung gerakan pengumpulan dana "Satu Juta Dollar Melalui Internet Bagi John Kerry" yang ditutup akhir September 2003.

Caranya : ketika tim baseball Arizona State Sun Devils dukungan Tom AZ bertanding melawan tim Hawkeyes dari Iowa yang didukung Mark, keduanya sepakat mendonasikan dua dollar untuk setiap angka yang dihasilkan tim yang didukungnya dalam pertandingan tersebut untuk John Kerry.

Ilustrasi tadi menunjukkan John Kerry membuka peluang dan akses agar konstituennya saling berinteraksi dalam mendukung kampanyenya di Internet. Tim sukses Kerry menyadari bahwa kampanye bermedia Internet jauh lebih efektif apabila tidak dijalankan secara monolitis, terpusat, top-down, melainkan justru digerakkan menurut norma Internet sebagai media yang egaliter, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Di sinilah kedigdayaan Internet menyelipkan pesan politik yang luhur, bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara, sementara para kandidat itu pun harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.

Bagaimana di Indonesia ? Silakan periksa saja situs [http://www.presidensby.info], situs resmi presiden SBY kita Tidak ada fasilitas bagi peselancar untuk menulis sesuatu komentar atau umpan balik di sana. Dengan merujuk panduan Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam Rules of The Net (1996) bahwa "If a website has no feedback mechanism, forget it," maka sebaiknya keberadaan situs Pak Beye yang tidak interaktif itu, mau tak mau, kita lupakan saja ?

"The power of the masses.
A new figure emerges : the prosumer, a producer and consumer of information.
Anyone can be a prosumer."

Miopia dan pustakawan kita. Itulah sepotong narasi dari video berjudul "Prometeus - The Media Revolution" yang diputar pada helat pertemuan aktivis media akar rumput di Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 di Jogja National Museum Yogyakarta, 24 Juli 2010.

Penampilnya adalah rekan yang saya kenal melalui Internet, pegiat budaya Internet Sehat, Donny Budi Utoyo, dari ICT Watch Jakarta. Mungkin saya satu-satunya penonton yang memiliki DNA ilmu perpustakaan yang hadir untuk menyerap pengetahuan dari Mas Donny ini.

Sementara di ruang yang lain, pada saat yang sama, berkumpul para pustakawan dari Yogyakarta dan sekitarnya sedang asyik mengikuti presentasi tentang Senayan Library Management Systems (SLiMS) yang dilakukan langsung oleh Hendro Wicaksono, head developer SLiMS yang juga alumnus Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Angkatan 1992.

Kalau saja waktu bisa diputar balik, betapa makin menariknya bila komunitas pustakawan dan pegiat SLiMS di Yogya saat itu dapat pula menyerap wawasan dari sajian video di atas. Dan juga video lainnya dari YouTube yang berkisah mengenai "Social Media Revolution" yang sedang menggelegak. Aksentuasinya terasa semakin menegas melalui hentakan lagu hip-hop Fat Boy Slim sebagai ilustrasinya : "Right here, right now ; right here, right now ; right here, right now !".

Revolusi media sosial memang telah terjadi sekarang ini. Juga sebenarnya deras melanda dunia perpustakaan. Itulah badai yang disebut Library 2.0, di mana gelombang besar baru kaum prosumer sedang menanti di depan pintu-pintu perpustakaan. Untuk menjadi semakin terbuka lebar bagi aspirasi mereka.

Adalah John Blyberg dalam artikelnya 11 Reasons Why Library 2.0 Exists and Matters antara lain mengutip pendapat Michael Stephens.

Katanya,"Library 2.0 sederhananya merupakan upaya membuat perpustakaan, baik fisik atau maya, lebih interaktif, kolaboratif dan digerakkan oleh kebutuhan komunitas yang mendukungnya. Contohnya dengan memasukkan fasilitas blog, arena bermain di malam hari bagi remaja, sampai situs kolaborasi untuk pemajangan foto-foto mereka.

Daya dorong utamanya adalah membuat pembaca bisa mengunjungi perpustakaan kembali dengan membuat perpustakaan relevan bagi kebutuhan dan keinginan mereka dalam kehidupannya sehari-hari…membuat perpustakaan sebagai tujuan dan bukan sebagai hal yang difikirkan belakangan."

Artikel John Blyberg itu saya baca melalui akses Internet di Perpustakaan Umum Wonogiri, hari Jumat pagi (5/11). Sebelum nongkrong pada salah satu dari 6 komputer yang ada, saya menemui Pak Budi Prasetyo. Beliau kemudian bercerita tentang dua putranya yang menjadi relawan di Mentawai dan Merapi. Sosok lain yang saya temui adalah Muhammad Julianto.

Yang pertama adalah pensiunan guru SMP dan yang kedua adalah pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Solo. Saya salami rada hangat karena artikelnya mengenai perombakan budaya birokrasi di Wonogiri seiring terpilihnya bupati baru dimuat di harian Solopos beberapa hari yang lalu.

Kami bertiga ini, selain pengunjung tetap, kami secara tidak resmi atau bahkan resmi merupakan anggota "dewan perpustakaan" dari perpustakaan umum ini. Tidak resmi karena tidak ada SK-nya. Tetapi juga resmi karena secara "tiban" pernah menandatangani surat-surat resmi mereka.

Karena ketika perpustakaan ini beberapa bulan lalu mendapatkan anggaran secara "tiba-tiba" dari Provinsi Jawa Tengah untuk menambah koleksi, 78 juta rupiah (kalau tak salah ingat), kami bertiga diminta untuk ikut tanda tangan dalam berkas-berkas proposalnya. Dengan senang hati, kami membubuhkan tanda tangan. Entah apa kemudian kelanjutannya.

Merujuk momen spesial itu, mungkinkah aksi kami bertiga ini sudah menjadi bagian dari pelaksanaan mazhab Library 2.0 di Wonogiri ini ? Boleh jadi. Karena sebagai orang luar kami telah ikut sedikit dalam menentukan kebijakan pengembangan perpustakaan. Tetapi kalau hanya melibatkan kami bertiga, betapa elitis diri kami, sekaligus betapa masih kurang kolaboratifnya perpustakaan bersangkutan untuk bisa melayani khalayak yang lebih banyak.

Bagaimana isu Library 2.0 menderu di kota lain ? Siang harinya saya mencoba mencari tahu. Saya mengirimkan SMS ke Ahmad Subhan di Yogyakarta :

"Gimana Merapi ? Wah, acrku jd nr sumber di Ykt, 6-7/11 ditunda. Btw, di komunitas SLiMS apa prnah ada isu2 obrolan ttg katalogisasi sosial ? Jg Library 2.0 ? Salam." (Jumat, 5 November 2010 : 13.22.34).

"Merapi bikin repot lg pak :D. Kayaknya komunitas SLiMS blom pernah mengadakan diskusi dua topik itu." (Jumat, 5 November 2010 : 14.55.58).

Terima kasih, Subhan.

Apakah jawaban dari Subhan ini dapat didaulat sebagai cerminan bahwa komunitas pustakawan kita, yang melek teknologi informasi pun, masih mengidap miopia terhadap sosok Library 2.0 yang mengetuk-etuk pintu kita ?

Sebagai pencinta sepakbola sekaligus pencetus hari Suporter Nasional 12 Juli (2000) saya telah berdemo, menggugat kaum saya sendiri, di perempatan Gladag Solo dua tahun yang lalu. Kini, sebagai seseorang yang masih memiliki rasa cinta terhadap ilmu perpustakaan dan kepustakawanan, ijinkanlah saya kembali berdemo untuk kawan-kawan, kaum saya sendiri.

Saya akan mengacung-acungkan banner dengan tulisan berisi pertanyaan :

"Pustakawan Indonesia,
pustakawan miopia ?"


Wonogiri, 6 November 2010

Minggu, 31 Oktober 2010

The Hunt For Red October 1982

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


September Ceria. Vina Panduwinata.
The Hunt for Red October. Sean Connery.
November Rain. Gun's N Roses.
Badai Bulan Desember. Ucok Harahap.


Pada bulan Oktober 1982, ramuan suasana dari judul-judul di atas ibarat masuk dalam mesin blender. Dan mesin itu menggerung serta berpusaran di dalam dada saya. Dalam hidup saya.

Di dalamnya teraduk badai rasa was-was. Gugup. Suasana ceria setelah semua badai itu lewat. Disambung hujan rasa syukur. Tetapi, sebelum kegembiraan mekar, haruslah melewati momen-momen yang cukup menegangkan.

Itulah momen ketika saya terjun dalam suasana perburuan di bulan Oktober 1982 tersebut. Perburuan untuk lulus ujian lisan sarjana. Ujian komprehensif, begitu sebutan nya yang populer saat itu. Inilah catatan saya tentang sepotong hari mengesankan di masa lalu tersebut :

Jumat, 8 Oktober 1982
09.30 - 10.30

Hari itu, saya bangun pagi, lebih pagi dari biasanya. Di rumah kost ini tak ada jam, patokan hanya radio. Sarapan pagi di warung tegal, mengelem sepatu dengan lem UHU, berangkat ke kampus Rawamangun naik bis kota - padahal biasanya jalan kaki.

Kutulis di pintu sebelum berangkat, "Aku harus lulus !" (8 Okt 1982 - HT).

Sampai di perpustakaan JIP, masih sepi. Sempat membaca UDC vs DDC. Lalu turun ke unit II Kampus FSUI, udah nunggu temen-temen. Pak AC Sungkono Hadi yang maju duluan, ati tentu kebat-kebit. Ia lulus lebih baik daripadaku.

Merokok terus aku, baju putih di saku potret Retno, celana abu-abu. Ia tadi lewat (berbaju) coklat. Aku sukar bersiul, tapi bersenandung lagu Lady-nya Anton Issoedibyo.

Dapat restu kuat dari temen-temen, jam 10.00 WIB aku masuk ruang Dekan, (tempat) ujian itu. Pak Royani, Pak Nurhadi Magetsari (dekan ?), Ibu Soma, Ibu Narti, semua itu dosen-dosenku.

"Aku dibuat senewen oleh pertanyaan Ibu Narti."
Tetapi cerah menjawab pertanyaan Ibu Soma - "bahasa indeks," "storage & information retrieval."

Aku bagai mau nangis, mata berkaca-kaca, menjabat tangan beliau dengan sentimentil ketika didengar berita - "Aku lulus !"

Alhamdullilah !
Tugas masih menghadang, skripsi, dan deg-deg-plas selama bulan Oktober ini tuntas sudah.

Ditulis : 8 Oktober 1982, Jam 19.40 WIB
Kost : Jl. Belimbing 24B, Jl. Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.

PS : Sampai sore di rumah kost itu, aku ditemani teman akrabku : Bakhuri Jamaluddin.


Wonogiri, 31 Oktober 2010

Senin, 18 Oktober 2010

Mary J. Cronin : Nostalgia Rawamangun, Wonogiri dan Atlanta

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



Mary J. Cronin.
Itulah nama perempuan berwajah anggun ini.

Sayangnya, ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (JIP-FSUI) di Kampus Rawamangun era 1980-an, seingat saya, namanya tidak pernah muncul dalam perkuliahan. Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, Bapak Karmidi Martoadmodjo sampai Bapak Sulistyo Basuki, sepertinya belum pernah menyebut-nyebut nama itu pula.

Tak apalah.
Saya mengenalnya dari majalah Library Journal.

Kalau ada waktu luang, di perpustakaan JIP-FSUI yang berada di lantai 2 Unit 3 Kampus FSUI, saya membuka-buka majalah itu. Biasanya, setumpuk majalah itu atau yang sudah terjilid, saya bawa ke luar ruang.

Kemudian membaca-bacanya di luar, di kursi rotan, pada beranda ruang perpustakaan tersebut. Bisa sambil melihat-lihat hijau daun, berbercak putih yang berpadu bunga-bunga kuning, dari pohon-pohon akasia yang merindangi kampus itu.

Saya memang nekat "melanggar aturan" dengan membawa bahan pustaka ke luar perpustakaan. Terima kasih Pak Wakino dan Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI, yang rupanya memaklumi alasan saya. Karena di luar, sambil membaca-baca itu saya juga bisa bernikmat-ria dengan asap plus nikotin yang di tahun 1980 itu masih membekap ketat diri saya.

Bahkan, di masa itu, bergabung dengan sesama mahasiswa yang juga perokok seperti Hartadi Wibowo dan Subagyo Ramelan, kami dikenal sebagai trio penghuni "the smoking corner" di kelas. Penyebar kabut racun. Syukurlah, pada tahun 1989, saya bisa berhenti merokok, setelah menjadi budak nikotin lebih dari 16 tahun.

Lupakanlah nikotin, mari kembali ke Mary J. Cronin. Kalau tak salah ingat, ia mengisi kolom tetap di majalah tersebut dengan topik seputar aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Topik tersebut masih terasa asing, dan baru, utamanya dalam atmosfir dunia kepustakawanan di Indonesia saat itu.

Internet dengan intelejensia. Waktu pun bergulir. Empat belas tahun kemudian, suatu keajaiban, saya bisa "ketemu" dengan Mary J. Cronin kembali. Bukan di majalah Library Journal lagi. Sebagai anggota perpustakaan American Cultural Center (ACC), Wisma Metropolitan 2, saya seperti dapat anugerah ketika memergoki isi majalah Fortune, 18 Maret 1996.

Di situ terdapat wawancara intensif editor IT majalah bisnis bergengsi itu, Rick Tetzeli, dengan Mary J. Cronin. Judul artikelnya, "Getting Your Company's Internet Strategy Right."

Dalam pengantarnya Rick Tetzeli menulis : "Mary Cronin menemukan Internet sebelum Internet menjadi bahan kehebohan pada dekade ini. Sebagai pustakawan universitas di Boston College, Cronin memanfaatkan Internet untuk meriset data pada tahun 1980-an.

Dalam empat tahun terakhir ia menulis, memberi kuliah dan memberikan konsultasi bagaimana perusahaan mampu memanfaatkan Internet dan teknologinya sebagai bagian dari strategi perusahaan bersangkutan. Sekarang ia menjabat sebagai professor di Carroll School of Management dari Boston College, Cronin memberikan wawasan, quiet intellegence, untuk kajian yang kini lebih menonjol heboh hura-huranya itu.

Bukunya yang segera terbit, The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menunjukkan bagaimana kalangan bisnis dapat memanfaatkan Internet jauh lebih signifikan dibanding hanya tampil genit berpamer-ria dengan situs-situs web yang molek semata. Cronin membeber pikiran-pikirannya secara persuasif bahwa perusahaan membutuhkan perencanaan yang cermat agar mereka mampu memanfaatkan Internet untuk kebutuhan di dalam mau pun di luar perusahaan."

Akhirnya, Rick Tetzeli menyimpulkan bahwa buku ini merupakan buku panduan untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Kramat sampai Atlanta. Diam-diam, saat itu, saya merasa bangga. Bahwa seorang pustakawan telah mampu melakukan "penjarahan," dengan mengaplikasikan wawasan dan ilmu pengetahuan miliknya sebegitu jauh jangkauannya sehingga dapat menerobos batas-batas teritori ranah tradisionalnya. Ilmu perpustakaan a la Cronin itu mampu memperkuat otot-otot yang menunjang keberhasilan dunia bisnis, dunia korporasi, bahkan pada pilar-pilar yang paling fundamental di era perubahan dewasa ini.

Suatu kebetulan, ketika keluyuran di lapak majalah bekasnya Pak Yono ("asal Sragen, hijrah ke Jakarta sejak 1957-an") di Kramat Raya, Depan Gedung PMI, saya menemukan lagi majalah Fortune edisi 18 Maret 1996. Foto Mary J. Cronin di atas juga saya ambil dari majalah bisnis ini.

Keajaiban masih berlanjut. Ketika adik saya, Broto Happy W., yang reporter Tabloid BOLA, meliput Olimpiade Atlanta 1996, saya wanti-wanti berpesan untuk dioleh-olehi buku karya Mary J. Cronin itu. Syukurlah, buku itu ia beli pada tanggal 17 Juli 1996, dan kini berjejer dengan beberapa buku bersampul hitam, buku-buku bertopik Internet, yang juga terbitan dari Harvard Business School Press.

Buku yang tidak mudah dikunyah. Salah satu isi buku itu yang relevan dengan komunitas penulis surat pembaca yang saya dirikan, Epistoholik Indonesia, yang sering saya kutip antara lain tulisan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones Business Information Services, yang menjabarkan perbedaan antara media cetak dan media Internet.

Menurutnya, di dunia media cetak aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah. Tetapi kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah, menurut saya, yang masih banyak tidak disadari oleh para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Mengabarkan perubahan itulah yang kini menjadi sacred mission saya, sebagai orang yang merasa memperoleh anugerah karena dalam bagian hidup saya yang terindah pernah terciprat untuk memiliki DNA ilmu perpustakaan, walau pun selama ini dan kini memilih untuk tidak berkarya dalam kurungan tembok-tembok gedung perpustakaan.

Ada nasehat dari Mary J. Cronin yang mungkin bermanfaat bagi kita. Ketika ditanya bagaimana agar peselancar Internet bisa tertarik melakukan bookmark, atau secara rutin mengunjungi situs-situs kita di Internet, ia pun menjawab :

"Informasi yang bermanfaat, itulah kuncinya. Anda harus memberi mereka sesuatu yang berharga dalam transaksi ini. Ini bukan perbuatan berderma, altruistik. Melainkan ini merupakan strategi pemasaran yang baik."

Terima kasih, Ibu Mary, untuk jeweran ini.

Karena selama ini saya sering mejeng di Internet hanya semata-mata tergoda hasrat tak terkendali untuk berasyik-masyuk bagi diri sendiri.



Wonogiri, 18 Oktober 2010