Minggu, 10 April 2011

Blasius Sudarsono, Saya, dan Robert Frost

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Pengantar : Profesi kepustakawanan boleh jadi ibarat gedung yang memiliki lawang sewu. Berpintu seribu.Orang bisa masuk, berada di dalam atau pun keluar-masuk melalui pintu yang ia mau.

Sekadar contoh : Bapak Blasius Sudarsono (foto) ini. Beliau berlatar belakang pendidikan Sarjana Muda Fisika (BSc), FIPA - UGM, Yogyakarta, (1973) kemudian melanjutkan ke jenjang Master of Library Studies (MLS), University of Hawaii, Honolulu, USA, (1979). Kini beliau tetap setia menjalani profesinya sebagai Pustakawan Madya di PDII-LIPI.

Saya menjadi mahasiswa beliau tahun 1981. Beliau mengajar mata kuliah Perpustakaan Khusus. Kuliahnya di gedung PDII-LIPI. Seingat saya, teman sekelas saya Djuhar (almarhum), Gemuru Ritonga, Gustina Sofia,Uhum Lantang Siagian (almarhum) sampai Zulherman.

Saat itu saya tidak tahu kalau beliau berasal dari Baluwarti, lingkungan dalam Kraton Surakarta. Gara-gara Facebook,saya baru tahu informasi tersebut, saat kami bisa melakukan reuni. Obrolan kami terekam di bawah ini :

Mahasiswa murtad. "Salam Pak Dar, moga sehat-sehat. Kalau pertanyaan di subjek itu ("Apakah Pak Dar dari Baluwarti ?") betul, saya ingin ngajak tepangan, berkenalan, (lagi) via FB ini. Saya tinggal di Baluwarti ngidul sithik, ke arah selatan sedikit. Naik bis 32 km lagi. Di Wonogiri.

Saya adalah murid panjenengan, Anda, di JIP-FSUI,tetapi murtad. Jangan dibilangin ke FPI, "Front Pustakawan Indoensia" ya, karena saya tidak pernah mengabdikan ilmu di perpustakaan.

Oh ya, di Baluwarti pada tahun 73-79 saya pernah tinggal di timur SMEA Saraswati.Tamtaman.Segitu dulu, moga perkawanan di FB ini Anda terima. Matur nuwun. Terima kasih. [2 Maret 2011].

Terlanjur sayang. Mas Bambang, rasanya saya memang ingat jenengan, Anda, dengan beberapa tulisan jenengan yang menggelitik. Pernah baca cuma pastinya yang mana. Rasanya berbeda dengan yang lain.

Saya waktu itu memang bertanya mengapa kok tidak setia di kepustakwanan. Namun jalan orang memang lain-lain. Saya ini sudah terlanjur sayang sama kepustakawanan ("didokumentasikan dalam buku terlampir"-BH), dan sudah menjalaninya sampai tahun ke 38 ini.

Saya memang lahir di rumah Baluwarti tahun 1948. Sekarang saya sudah jarang ke Baluwarti. Sejak Bapak seda,meninggal dunia, tahun 2001. Jika jenengan tinggal sekitar 73-79 saya sudah di Jakarta. Saya meninggalkan Baluwarti tahun 1967 untuk kuliah di Yogya.

Mungkin kenal dengan adik laki-laki saya Alex Daryanto. Rumah kami pas kulon lawang gapit kidul, ngisor tanjung.

Salam, Blasius
[2 Maret 2011].

Jalan belukar. Matur nuwun, Pak Blasius. Kita reunian mantan warga Baluwarti. Saya kost di rumah Eyang Laksmintorukmi di Tamtaman itu saat kuliah di IKIP Solo/UNS.

Kalau ketemu sama Mas Alex Daryanto, mungkin saya ingat. Tetapi saat itu saya lebih banyak main ke utara, nongkrong di Kamandungan, depan Kraton,bikin kegiatan kesenian sama teman-teman.

Kesetiaan Pak Blasius terhadap dunia kepustakawanan yang pantas dijadikan teladan itu mungkin seperti cerita dalam film yang selalu ada tokoh utama, yang tidak banyak. Lalu selalu juga ada peran-peran figuran, yang banyak tetapi tidak terlalu penting walau diperlukan. Mungkin pos saya disini ini.

Betul pak Blasius,ha-ha, saya memang masuk dalam gang oknum yang "tidak setia" di kepustakawanan. Tetapi dengan "tidak setia" itu juga bisa berarti karena saya memilih jalan dan cara untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang berbeda. Boleh jadi cara yang tidak selalu berada atau dekat-dekat dengan cara-cara di jalur arus utama.

Karena, bagi saya, ilmu yang saya peroleh ketika belajar ilmu perpustakaan itu sangat lentur untuk bermuara pada beragam kiprah yang menarik dan menggoda. Sambil merujuk puisinya Robert Frost, "The Road Not Taken," kayaknya saya telah memilih jalan yang masih semak belukar, jalan yang belum pernah ditapaki oleh orang-orang sebelumnya :-).

Salam.
[3 Maret 2011].

Gedung berpintu seribu itu,sebenarnya tidak benar-benar saya tinggalkan. Apalagi kini dengan hadirnya media-media digital,saya bisa masuk dan keluar darinya. Dengan bekal dan tekad yang tetap sama.

Membawa cinta.
Memberi cinta.

Wonogiri,11/4/2011

Kamis, 07 April 2011

Einstein, Pustakawan dan Ekonomi Kreatif

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


"Imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan," kata Einstein.

Tetapi imajinasi yang kaya milik setiap anak itu akan dirampok oleh lembaga yang bernama sekolah.

Sejak duduk di bangku klas 4, anak-anak mulai kompromistis, dan imajinasinya tergerus terus sampai tua.

Semakin tingi pendidikan, semakin mereka cenderung mengambil keputusan yang aman.
Bara kreativitas pun terus meredup.

Maka di Kompas hari ini, seniman/wartawan Yudhistira ANM Massardi menulis,"Berhentilah sekolah sebelum terlambat."

Menurutnya, bersekolah cukup sampai umur 12 tahun. SD saja.

Lanjutnya, "Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet ("hallo pustakawan, ingat kata mutiara dari Samuel Johnson* ini ? Kini saatnya Anda semakin menunjukkan taring kesaktian ilmu dan bakti Anda"-BH), dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan."

Ia tegaskan : "Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada."

Merujuk ide tersebut, John Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001, buku ini saya beli setelah memenangkan hadiah The Power of Dreams Contest-nya Honda,2002), memberi tips tentang 10 Rumus Sukses.

Salah satunya : "Keluarlah dari sekolah sejak awal, bila Anda menginginkan, tetapi Anda jangan pernah berhenti belajar !"

*Ucapan Samuel Johnson ini dikenalkan pertama kali kepada saya oleh Ibu Lily K. Somadikarta (almarhumah), ketika saya menjadi mahasiswa beliau di tahun 1980.

Wonogiri, 8/4/2011

Minggu, 03 April 2011

Buku "Komedikus Erektus" di Library of Congress

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?

Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.

Misi yang hebat dan mulia.

Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka. Menggembirakan.

Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia
Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).

Di Perpustakaan Nasional Australia, rincian subjeknya lebih kaya :

Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.

Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).
URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.

Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?

Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.

Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.

Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.

Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress dan The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.

Menikmati impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan.Diapresiasi.

Silakan mencobanya !


Wonogiri,4/4/2011

Kamis, 24 Februari 2011

Hukum Linus dan Terancamnya Museum Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Malam pertama.
Malam yang sangat menegangkan bagi Larry Daley.

Sebagai pegawai baru penjaga malam museum ilmu pengetahuan, ia terkejut ketika koleksinya menjadi hidup ketika malam hari tiba.

Ia mendapati dirinya diuber-uber kerangka Tyrannosaurus rex, singa, juga jadi bulan-bulanan kera julig. Bahkan sampai terjepit di tengah perseteruan sengit antara boneka koboi melawan jenderal Romawi.

Di akhir cerita, selain diselamatkan oleh arahan patung lilin presiden AS ke 26 Theodore Roosevelt, Larry Daley pun mampu membongkar rencana jahat trio pensiunan penjaga museum bersangkutan. Mereka bertiga itu berencana mencuri tablet kuno Mesir dan menjadikan Larry sebagai kambing hitamnya.

Itulah seulas cerita dari film laris Night at the Museum (2006), yang dibintangi Ben Stiller sampai Robin Williams. Film ini dilanjutkan sekuelnya Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009). Kata “malam” dalam judul menunjukkan metafora mengenai kegelapan, misteri, rahasia, dan bahkan kemudian semua hal itu erat terkait dengan tindak kejahatan.

Kriminalitas orang dalam. Itulah pula kiranya yang pernah terjadi ketika malam-malam misteri menyelimuti Museum Radya Pustaka Solo, sampai akhirnya meledakkan kehebohan yang mengagetkan. Di museum yang didirikan pada masa Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pada tanggal 28 Oktober 1890, rupanya diam-diam telah terjadi tindak kejahatan besar dan terencana terhadap koleksinya, juga oleh orang dalam sendiri.

Harian nasional dengan judul berita "Ironi Sebuah Museum" (Kompas, 20/11/2007) melaporkan pada tanggal 18 November 2007, Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmodipuro (mBah Hadi almarhum) ditahan pihak kepolisian sebagai tersangka dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum.

Antara lain lima arca batu buatan abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca. Penyelidikan menunjukkan bahwa koleksi museum yang hilang diganti dengan barang palsu. Kehebohan mencuat lagi hari-hari ini terkait dugaan keras dipalsukannya koleksi wayang kulit dari museum bersangkutan.

Terabaikan. Skandal menyedihkan dan memalukan itu merupakan cerminan sekaligus tamparan pahit terkait pandangan sampai pengelolaan kita terhadap lembaga museum selama ini.

Bukti itu juga menunjukkan betapa sangat lemahnya pengamanan museum-museum kita, sehingga membuat khasanah langka museum-museum kita terancam mudah raib untuk dicuri dan dimiliki oleh mereka yang tidak berhak.

Problematika dalam pengelolaan museum-museum kita memang kompleks. Dari minimnya dana operasi, apresiasi pengunjung yang belum berkembang, tak ada promosi, sampai masalah internal museum sendiri yang menyangkut pengamanan.

Untuk mampu keluar dari lilitan beragam masalah kronis tersebut boleh jadi dapat ditempuh dengan pendekatan baru, dengan antara lain berikhtiar mencangkokkan apa yang terjadi dalam dunia peranti lunak komputer dalam kiprah pengelolaan museum kita.

Mata-mata kita bersama. Kita kiranya dapat belajar dari seorang Linus Torvalds, penemu piranti lunak open source Linux yang ternama. Linus Torvalds dalam merancang Linux sengaja membuka kode-kode peranti lunak temuannya itu kepada masyarakat luas. Dengan cara ini, menurutnya, banyak kalangan mampu menemukan cacat, kekurangan, dan kemudian memperbaikinya.

Kolaborasi yang melibatkan banyak fihak tersebut membuat piranti lunak Linux semakin berguna bagi banyak kalangan. Fenomena ini kemudian memunculkan Hukum Linus Pertama yang berbunyi “Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan secara mudah.”

Aplikasi Hukum Linus dalam museum adalah dengan membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menjadi orang tua angkat bagi tiap-tiap koleksi museum. Jadi tiap koleksi dapat diadopsi oleh banyak orang, yang diwujudkan dalam bentuk sertifikat yang memajang foto (asli) dan data koleksi, yang dapat mereka peroleh bila yang bersangkutan memberikan donasi tertentu.

Agar lebih kental misi pendidikan dan pelestariannya, sesuatu koleksi museum dapat diadopsi oleh sekolah-sekolah sampai perusahaan. Tidak hanya sekolah kota bersangkutan, tetapi juga bagi sekolah-sekolah yang berada di luar kota. Bahkan di luar negeri.

Dengan meluncurkan situs jaringan sosial di Internet, pengelola museum dapat memfasilitasi para pemangku kepentingan terhadap koleksi museum bersangkutan untuk tergabung dalam komunitas dan mampu saling berinteraksi di dunia maya. Termasuk sebagai media untuk memberikan pertanggungjawaban pengelolaan dana secara transparan dan akuntabel.

Dengan cara ini, yang dalam kajian ekonomi dunia digital lajim disebut sebagai crowdsourcing, diharapkan tiap-tiap koleksi museum mampu dijaga dan diawasi oleh lebih banyak mata. Juga didanai pemeliharaannya oleh lebih banyak fihak, dan terutama mampu membuat museum semakin lebih menarik untuk dicintai oleh masyarakat secara lebih luas.

Media jaringan sosial terbukti mampu menjadi pemersatu rakyat Mesir dalam menumbangkan diktator Hosni Mubarak yang otoriter. Kini saatnya juga bisa kita gunakan secara kreatif untuk menyelamatkan museum-museum kita.


Wonogiri, 24 Februari 2011


PS : Artikel ini dengan penyuntingan redaksi telah dimuat di harian Solopos, Kamis, 24 Februari 2011, hal. 4.

Untuk kalangan pemangku kepentingan dunia perpustakaan di Indonesia, saya ingin memperoleh tanggapan : bagaimana bila kata “museum” dan “koleksi” atau “khasanah museum” dalam artikel ini digantikan dengan “perpustakaan” dan “koleksi perpustakaan” ? Apakah gagasan dalam artikel ini juga berpeluang bisa untuk diterapkan di perpustakaan ?

Jumat, 17 Desember 2010

Kabar Kangen Gustina Dari Bogor

Oleh : Gustina Sofia
Email : gustinasofia (at) yahoo.com


Assalam,

Barusan saya iseng browsing.
Ternyata iseng-iseng berhadiah, ketemu blog jipfsui80.

Apa kabar kawan-kawan ?
Semoga semua sehat dan gembira selalu.

Senang rasanya dan kangen sekali setelah membaca nama-nama angkatan 80.

Terima kasih mas Bambang yang telah menyediakan tempat kita berkomunikasi.

Sekali-sekali saya masih ketemu Pak Sungkono.
Dengan Yon Emizola dan Tuti Sundari,masih keep in touch.

Ada teman-teman yang sudah mendahului kita.
Yaitu Pak Uhum Lantang Siagian dan Djuhar.
Semoga mereka bahagia di alam sana.

Oh ya, bbrp waktu yg lalu saya ikutan reuni angkatan 81.
Gpp, yg ptg ketemuan, he3.

Salam,

Gustina Sofia

Kamis, 25 November 2010

Boorstin, Anez, Cinta Buku Kaum Pustakawan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


"Teknologi mendekatkan yang jauh.
Tetapi juga menjauhkan yang dekat."

Pencetus ucapan ini pernah berkunjung ke Rawamangun. Kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kalau tak salah sekitar tahun 1985.

Daniel J. Boorstin.
Pustakawan dari Library of Congress, Amerika Serikat.

Saya tidak mengikuti pertemuan itu. Tetapi hanya membacanya dari surat kabar Kompas. Saat itu di jurusan, seingat saya, juga tidak muncul umyung atau tersebarnya kicau-kicau kehebohan terkait dengan kunjungan pustakawan istimewa itu.

Toh saat itu saya merasa dekat dengan beliau. Dirujuk dari iklan-iklan klub buku di majalah-majalah favorit saya seperti The Atlantic Monthly, Discover, Omni, Popular Science sampai Science Digest yang saya baca-baca dan pinjam dari perpustakaan Lembaga Indonesia Amerika (LIA), lalu terantuk dengan salah satu buku karya Daniel J. Boorstin. Buku itu, ajaibnya pula, akhirnya bisa saya pinjam dari perpustakaan PDII-LIPI pada saat-saat itu pula.

Tahun 1985-an itu, minat bacaan saya terkait beragam majalah di atas adalah kuatnya bius kontroversi terkait Perang Bintang, program SDI (Strategic Defence Initiative)-nya Presiden Reagan yang dicanangkan tahun 1983. Yaitu upaya AS menempatkan senjata laser di satelit untuk mencegat dan menghancurkan serangan peluru kendali dari Uni Sovyet. Nama-nama ilmuwan nuklir AS yang ngetop dan terlibat dalam pembicaraan antara lain Edward Teller sampai Hans Bethe.

Tahun-tahun sebelumnya, perang di kepulauan Falklands, perang Malvinas, membuat saya mabuk fotokopi. Kebetulan di seberang tempat kos saya, yaitu di kios fotokopi yang menyatu dengan Apotik Rini, Jl. Balai Pustaka Timur, juga dipajang majalah TIME terbaru. Majalahnya tidak laku, tetapi kios fotokopinya memperoleh penghasilan dari jasa menfotokopi majalah tersebut.

Obrolan mengenai beragam persenjataan perang yang dipakai di wilayah Argentina itu, ternyata juga menarik bagi Pak Ahmad Royani. Jadi di ruang perpustakaan JIP, kami malah asyik saling mengobrolkan tentang senjata. Sayang di koleksi perpustakaan jurusan itu sepertinya tak ada buku-buku referensi terbitan Jane's, yang khusus melaporkan beragam jenis persenjataan mutakhir.

Sampai-sampai senior saya, Bambang Sutejo dari LAPAN-RI yang angkatan 1979, nampak terheran-heran. Ia seangkatan dengan Indira Saraswati, Juliana Surya, Julian E. Warsol, Masykur Irsyam, Pranajaya,Suwarto sampai Yusye Milawati.

Antara lain karena Bambang Sutejo merasa tak bisa nyambung dengan materi obrolan seorang dosen yang lemah lembut dengan mahasiswanya yang berprofil urakan mengenai topik yang begitu esoterik itu.

Kembali ke Boorstin. Bukunya yang berkisah mengenai perjuangan para hero dan pionir ilmu pengetahuan.


[Cerita akan berlanjut]

Wonogiri, 26 November 2010

Sabtu, 20 November 2010

Ipit, Sri Mulungsih, dan Otak Mubazir di Perpustakaan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Tak hanya mBah Maridjan.
Candi Borobudur ikut pula kena getahnya.
Menjadi korban amukan Gunung Merapi.

Koran-koran mewartakan upaya pembersihan lapisan abu volkanik yang menyelimuti candi megah di Magelang itu. Abu asal Merapi diketahui memiliki kandungan belerang yang bila dibiarkan akan mampu merusak batu patung dan ukiran di candi terkenal tersebut.

Dalam pemberitaaan itu disertakan pula foto patung yang masih utuh, dengan kepala berisi ukiran rambut yang khas.

Pada hari Kamis 25 Juni 1981, sosok patung semacam itu menjadi bahan obrolan mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI Angkatan 1980.

Ketika itu kami sedang melakoni karya wisata dengan menjelajahi perpustakaan-perpustakaan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.Rekreasinya, mengunjungi candi sohor tersebut.

Merujuk salah satu patung yang torsonya lengkap tetapi kepalanya sudah tidak ada di tempat, Gemuru Ritonga, teman kami, nyeletuk yang bikin kita terbahak. Mahasiswa yang suka guyon dan kami terkadang aktif mengerjakan proyek "microfiche" bersama untuk mata-mata kuliah sulit di luar mata kuliah jurusan itu :-(, tinggalnya di daerah Kayuputih, Rawamangun.

Ia bermotor Honda dengan plat merah dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN). Menunjuk kepala patung yang hilang itu Gemuru Ritonga mengatakan : "Sedang dibawa ke salon."

Canda yang terasa masih elegan.

Pasalnya, ada juga canda yang radikal saat itu. Dilakukan teman mahasiswa lain, yang juga berkuliah dengan naik motor berplat merah. Ia memperlakukan khasanah candi dengan canda yang tidak terduga-duga.

Lokasinya di stupa Kuntobimo.

Ketika merasa tangannya tidak mampu menyentuh sosok patung yang terlindung dalam stupa, ia berganti strategi. Kali ini dengan memasukkan kakinya.

Ia berhasil.

Entah cita-cita besar apa yang ingin ia raih dengan upaya nakal itu. Tetapi 29 tahun kemudian pada kartu namanya tercantum berderet gelar akademis yang menghias dan menjepit, dari depan dan dari belakang namanya.

Kalau saja saya tahu khasiat magis Kuntobimo sehebat seperti itu, saya pasti akan ikut-ikutan bergaya melakukan "tendangan kung-fu" terukur lewat lubang, guna menyentuh sosok patung yang selalu menjadi buah bibir para wisatawan itu.


Dua pasang matabola. Tanggal 27 Juni 1981 pagi, rombongan wisatawan mahasiswa itu tiba kembali di kampus Rawamangun.

Tetapi dua hari kemudian, the three musketeers yang terdiri A.C. Sungkana Hadi, Hartadi Wibowo dan saya, harus kembali melakukan "serangan oemoem" ke Yogya lagi.

Berangkatnya dari terminal bis Pulogadung, sore hari. Bahkan sempat diantar, aku tulis di buku harian sebagai dengan "hangat," oleh Arlima "Ipit" Mulyono dan Sri Mulungsih yang berulang tahun 22 November (foto, Juni 1981).

Tidak ada kencan sebelumnya ("jaman itu belum ada HP"), tiba-tiba di terminal yang sama kami kepergok dengan Bakhuri Jamaluddin.

Kami berempat ini dapat dikatakan ramai-ramai sedang pulang kampung. Rombongan yang menuju Yogya memiliki cerita pribadi dan kaitan emosional masing-masing dengan kota pelajar tersebut.

A.C. Sungkana Hadi adalah priyayi Yoja kelahiran Gunung Kidul. Berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kini kepala perpustakaan Universitas Cenderawasih di Jayapura. Hartadi Wibowo yang asal Cilacap, lama berkuliah di Yogyakarta. Kini eksekutif di Bank Mandiri, Jakarta. Lebih detilnya, silakan wawancara beliau sendiri.

Saya sendiri, sejak SD klas 3 (1964), ayah saya Kastanto Hendrowiharso, bekerja di Yogya. Sampai tahun 1976. Walau keluarganya masih di Wonogiri. Saat liburan, saya selalu "pulang" ke Yogya pula. Bahkan pada tahun 1970-1972 saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis.

Sementara itu Bakhuri Jamaluddin juga pulang kampung. Menuju kotanya Roy Marten, di mana ada desa bernama Suruh, yang merupakan tempat kelahirannya. Salatiga.

Kami berempat meninggalkan Jakarta memiliki tujuan sama : melakukan praktek kerja perpustakaan. A.C. Sungkana Hadi dan saya di IKIP Yogyakarta (kini UNY). Hartadi Wibowo di Perpustakaan Umum Yogyakarta. Sementara Bakhuri Jamaluddin di Universtas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Mengenal pribadi. Di Perpustakaan IKIP Yogyakarta kami dapat bimbingan dari Ibu Suatminah, kepala perpustakaan. Ibu Suatminah belajar kursus ilmu perpustakaan satu angkatan dengan Ibu Soenarti Soebadio di tahun 1950-an. Pembimbing lainnya, Pak Sri Marnodi, alumnus JIP-FSUI.

Dalam berinteraksi dengan mereka, bahkan saya sempat pula nunut mobil Honda Civic-nya Bu Suatminah, ketika pulang dan diturunkan di sekitar komplek UGM di Bulaksumur. Saya tinggal di kos adik saya,Mayor Haristanto, di Babarsari.Di dekat komplek kampus UGM pula. Ia lagi libur kuliahnya di Fisipol UGM dan tempat kosnya saya pakai sebagai markas.

Ketika saling kontak via surat dengan Bakhuri, ia mengatakan jadi minder membaca nama "Mayor" itu. Bahkan ia sempat menguatirkan tas ransel militernya ketika hendak main ke Yogya. Padahal "mayor" itu bukan nama pangkat, tetapi nama paraban belaka yang terpakai sampai saat ini.

Bakhuri datang Sabtu, 11 Juli 1981. Kembali ke Salatiga, esok harinya. Saat itu saya juga menerima surat dari Arlima Mulyono, Jakarta. Kabar darinya membikin cemas. Saya tulis di buku harian : "siap-siap wae akan dimarahi bu Narti : bab Perancis."

Sekadar kilas balik : Arlima, Sri Mulungsih, Zulherman dan saya, mengikuti kuliah bahasa sumber 1 dan 2, Bahasa Perancis. Tetapi, kecuali Sri Mulungsih, ketika menjalani separo semester kedua kami bertiga berkomplot. Untuk mogok, mangkir, desersi di tengah jalan. Tanpa melapor ke Ibu Narti, sekretaris jurusan. Itulah sumber kecemasan saya gara-gara surat Ipit tadi.

Tanggal 7 Juli 1981. Saya sempat jalan-jalan ke toko buku Gramedia. Di. Jl. Jenderal Sudirman. Pada tahun 1970, tempat ini adalah tempat prakteknya dokter gigi Sudomo. Di tempat ini gigi saya dicabut.

Mungkin ini "hukuman," gara-gara saya tergiur membeli undian dengan hadiah sepeda Phoenix, walau dengan tujuan agar bisa bersekolah dari Kotabaru menuju Jetis lebih menyenangkan ketimbang jalan kaki semata.

Mengejutkan, di toko buku itu saya ketemu Nusantoro. Ia saya kenal saat bersekolah di SMA St. Yosef, Solo, sebagai aktivis drama. Kami berinteraksi di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT), Sasonomulyo, Baluwarti. Sebagai aktivis kesenian saya menjadi "kepala sekolah" Workshop Melukis Anak-anak Gallery Mandungan, Muka Kraton Surakarta.

Nusantoro yang bekerja di toko buku Gramedia itu segera membantu saya. Ketika saya memutuskan membeli buku karya Robert O'Brien dan Joanne Soderman (ed.), The Basic Guide to Research Sources (1975), saya memperoleh potongan harga. Terima kasih, Nunus.

Buku ini cocok sebagai bahan mata kuliah Bahan Referensi Umum (BRU) yang diampu Ibu Soenarti Soebadio dan mBak Siti "Ining" Sumarningsih. Sebagai penulis dan blogger, inti ajaran dari mata kuliah satu ini terus saja saya praktekkan hingga saat ini.

Tanggal 14 Juli 1981, ketika Perancis merayakan hari kemerdekaan, saya mendapat surat dari Zulherman, Jakarta. Isinya : tawaran ikatan dinas dari Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN, kini PDII-LIPI) telah menanti. "P-4 juga menanti," begitu saya tulis di buku harian.

Zulherman dan saya sebelumnya memang pernah menghadap Ibu Mimi D. Aman dari PDIN. Kami mencari informasi mengenai peluang ikatan dinas di lembaganya. Naik bis Mayasari 300 dari Rawamangun sampai Gatot Subroto, dibayari Zul dengan karcisnya. Zul kemudian, ketika lulus, mengambil peluang tersebut. Sedang saya saat itu, ketika mendengar ada kata "P-4," malah memunculkan rasa ragu untuk melaju.

Dalam faham saya, ikut P-4 yang wajib bagi pegawai negeri yang baru terekrut tidak lain mengikuti program sterilisasi. Upaya indoktrinasi yang membuat para pegawai negeri menjadi patuh pada rezim Orde Baru yang sangat kuat cakarnya saat itu.


Konser di kamar. Selama praktek kerja di IKIP Yogyakarta itu, yang saya sukai adalah ketika bertugas di bagian sirkulasi.

Walau pun demikian, ketika mengerjakan katalogisasi dan klasifikasi,juga bisa kami buat menarik.

Saat itu saya dan Pak Sungkana (foto : paling kiri bersama Yan Husardi di ruang pengolahan pustaka, Perpustakaan IKIP Yogyakarta, 25 Juni 1981) segera mengunci kamar kerja kita ketika mulai bekerja.

Untuk menghalau rasa bosan, kami ngerumpi tentang banyak hal. Termasuk tentang gaya pria gagah yang reporter berita TVRI asal Manado, yang saat itu tampil begitu "barat dan keren." Namanya Willy Karamoy. Kami pun segera menirukannya. Juga menirukan suasana upacara kenegaraan 17 Agustus seperti dilaporkan di televisi. Termasuk nyanyi-nyanyinya.

Aksi kita ini pernah dikomentari oleh Ibu Suatminah sebagai "menunjukkan perasaan bahagia kami berdua ketika bekerja di perpustakaan."

Saat itu saya ketularan salah satu kebiasaan dari Pak Sungkono yang membekas.Sayangnya, bukan ketularan kecerdasan beliau dalam menyerap mata kuliah. Tetapi tentang aksi meraih sehat dengan ulah menendang-nendang udara.

Aksi itu dia peragakan bila kita sama-sama turun tangga. Sambil turun, kaki kiri dan kaki kanan bergantian menendang udara. "Untuk melancarkan aliran darah kembali di kaki-kaki kita," nasehatnya. Setelah lama hanya duduk-duduk saja, rasanya nasehat beliau itu benar adanya.

Bersibuk-ria di bagian layanan itu menyenangkan karena, bagi saya, bisa ketemu banyak orang. Macam-macam orang. Bisa melihat mahasiswi-mahasiswi cantik. Saya senang melihat Ida Prastini, dari bahasa Inggris.

Pada tanggal 11 Agustus 1981 ia nampak chic dengan dres warna kuning dengan syal merah. Kami bisa sedikit mengobrolkan isi buku dramanya Arthur Miller, Death of Salesman (1951), buku yang saat itu hendak ia pinjam.

Tetapi sayang, saya tidak sempat menemui Siti Rubiyati Latifa asal Ponorogo. Mahasiswi Ekonomi Perusahaan Angkatan 1978 itu di foto nampak cantik sekali.

Tanggal 10 Agustus 1981. Senin. Di rumah familinya Pak Sungkana Hadi, di barat THR, malam itu kami mengobrolkan isi surat yang dikirimkan Sri Mulungsih. Saya tulis di buku harian bahwa, "surat Sri dramatis."

Ceritanya tentang empat teman dekat kami yang terpaksa harus drop out. Malam itu Teddy juga ikut bergabung, akhirnya saya malah tidur di sini. Saya menutup cerita malam itu dengan kalimat : Berhimpunnya 3 Sekawan Pemalas ! Malas mencicil dalam mengerjakan laporan praktek kerja di Yogya tersebut.

Pustakawan tidak mendengarkan. Praktek kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa ilmu perpustakaan telah kami lakoni. Materinya benar-benar klop.

Tetapi saya sering memergoki, ketika sesuatu perpustakaan menjadi tempat PKL untuk pelajar dan bukan mahasiswa ilmu perpustakaan. Anehnya,mereka cenderung memperoleh perlakuan yang sama dengan kami.

Mereka itu nampak selalu dicekoki dengan pemahaman dasar dan bahkan "dipaksa" melakukan praktek-praktek kerja pengelolaan perpustakaan.Tak ada yang salah fatal. Tetapi, hemat saya, kurang pada tempatnya.

Beberapa tahun lalu saya telah menulis surat pembaca di harian Kompas Jawa Tengah untuk mendiskusikan pendekatan miopia kalangan pustakawan selama ini. Dimuat : Selasa, 17 Juli 2007.


Otak Mubazir di Perpustakaan

Musim liburan banyak digunakan para pelajar untuk melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL). Kegiatan yang positif dan bermanfaat. Salah satu tempat mereka melaksanakan PKL adalah perpustakaan.

Ketika mengamati dan menyimaki pelaksanaan PKL selama ini, boleh saya katakan para pelajar itu lebih banyak menganggurkan otak mereka. Karena jenis pekerjaan yang diberikan kepada mereka kebanyakan seputar pekerjaan rutin administratif, yang bahkan lulusan pendidikan yang lebih rendah pun mampu melaksanakannya.

Saya usulkan, para pelajar tersebut juga diajar untuk memanfaatkan secara maksimal khasanah pengetahuan yang dimiliki perpustakaan. Misalnya, mereka didorong memilih buku-buku nonfiksi/ilmu pengetahuan yang menjadi minatnya, kemudian diminta menuliskan pendapatnya. Karya tersebut kemudian dipajang di papan informasi atau dipresentasikan bersama teman lain, guru, juga pustakawan setempat.

Mereka juga bisa diajak berdiskusi mengenai problem aktual seputar minat baca/menulis dan pengelolaan perpustakaan di kotanya. Juga tidak kalah penting, mereka didorong untuk memiliki rasa percaya diri untuk menulis, mengemukakan pendapat, termasuk menulis surat pembaca.

Saya percaya, tantangan mengasah intelektualitas itu akan menjadi pengalaman yang menarik. Karena otak mereka tidak dibiarkan mubazir, sekaligus mereka mendapatkan pengalaman nyata betapa gagasan atau aspirasi mereka dihargai.

Bagi perpustakaan, suara anak-anak muda sebagai konsumennya itu patut didengarkan dan diapresiasi !


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Wonogiri, 21 November 2010