Tampilkan postingan dengan label hendro wicaksono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hendro wicaksono. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

Library 2.0, Pustakawan dan Miopia Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Miopia. Rabun dekat.
Ketidakmampuan memusatkan pandangan pada obyek yang jauh.
Banyak di antara kita yang menderita karenanya.

Di perempatan Gladag Solo, 12 Juli 2008, demo aksi diam yang mengangkat istilah miopia itu telah kami lakukan. Hari itu adalah tepat 8 tahun pencetusan Hari Suporter Nasional.

Kami, sebagian pentolan kelompok suporter sepakbola Pasoepati Solo, melakukan demo (foto di bawah) sebagai perwujudan otokritik terhadap diri kami sendiri : komunitas suporter sepakbola Indonesia.

"Suporter Indonesia = Useful Idiots !"
"Suporter Indonesia, suporter myopia !"

Karena kami selama ini memang menderita miopia, cadok, rabun jauh. Kami hanya mampu melihat hal-hal yang dekat, misalnya bersemangat mengobarkan fanatisme sempit terhadap klub berdasarkan primodialisme yang berlebihan, bahkan rela dibela dengan nyawa. Dengan bekal yang sama kami siap berkonflik, bertarung secara fisik melawan suporter kota lain.

Tidak pula merasa bersalah ketika konflik itu membuat kerusuhan, keonaran dan ketidaktertiban. Lalu merasa dengan kecadokan semacam itu kami sudah merasa cukup. Merasa sehat. Merasa dunia sepakbola Indonesia sudah beres-beres saja adanya.

Kami tidak menyadari terancam hanya menjadi useful idiot, orang-orang yang bagai kerbau dicocok hidung, karena tidak berani memiliki fikiran atau pendirian yang mandiri. Termasuk tidak menyadari bahwa konflik-konflik antarsuporter itu mungkin sengaja "dipelihara," seperti halnya pelbagai konflik di tanah air, sehingga dapat memberikan keuntungan kepada sekelompok aktor intelektual tertentu.

Misalnya, konflik antarsuporter itu dapat dibisniskan dalam bentuk ajang pertemuan antarsuporter, membuat deklarasi ini dan itu, dan ketika waktu berjalan semua hal itu mudah terlupakan. Ingat, bangsa kita adalah bangsa yang pelupa. Lalu ketika muncul konflik antarsuporter lagi, terlebih lagi dengan munculnya korban jiwa, maka siklus bisnis itu berjalan kembali. Kecadokan kronis kami telah dipelihara untuk meraih keuntungan bagi sebagian orang, dengan kami yang bebal ini sebagai tumbalnya.

Ritus dari siklus-siklus semacam sudah juga membuat kami kebal, sehingga mungkin sudah kami tidurkan apa itu yang namanya hati nurani. Akibatnya kemudian, kami menjadi tidak hirau dengan apa yang terjadi di Senayan, tempat Nurdin Halid dan kroninya bercokol di kantor PSSI selama ini. Tidak hirau pula terhadap prestasi tim nasional yang terseyok-seyok, bahkan pernah bonyok oleh tim Laos, dan kini statusnya tidak lagi terhormat di tingkat Asia Tenggara sekali pun.

bambang haryanto,suporter sepakbola,pencetus hari suporter nasional 12 juli (2000),rekor muri

Presiden yang miopia. Syukurlah, kecadokan tidak hanya monopoli komunitas suporter belaka. Ia juga menulari calon presiden dan presiden. Menjelang kampanye presiden di tahun 2004, saya telah menulis artikel berjudul "Internet Sebagai Senjata Kampanye Presiden," yang dimuat di Harian Kompas, Senin, 8 Maret 2004.

Saat itu saya membandingkan eksekusi situs kampanyenya kandidat Partai Demokrat AS, John Kerry, dengan situs salah satu calon presiden kita, Amien Rais yang dikelola oleh think tank-nya, The Amien Rais Center (ARC). Hemat saya, situs ini tidak ubahnya baru mengalihkan media cetak ke dalam bentuk digital. Pemahaman terhadap Internet yang mendasari eksekusinya ini baru mengolah isi (content), tetapi belum mengeksplorasi pentingnya konteks (context) media berbasis Internet.

Pengelola situs ARC nampak berasumsi bahwa peselancar datang ke situsnya semata-mata untuk membaca-baca berita terbaru mengenai diri Amien Rais. Eksekusi situs web hanya sebagai koran digital itu mengakibatkan peluang simpatisan untuk ikut menjadi bagian integral isi situs secara signifikan, serius terkendala.

Paling-paling hanya boleh memberi komentar untuk sesuatu berita, atau ikut jajak pendapat, yang tidak ubahnya seperti pembaca menulis di kolom surat pembaca di media cetak. Tidak ada pula tautan untuk beragam situs tak resmi PAN atau Amien Rais, tak ada pula blog para pendukungnya.

Bandingkan dengan situs John Kerry. "Selamat datang di situs saya, tetapi ini bukan milik saya pribadi. Ini juga situs milik Anda, yang membukakan peluang untuk melakukan perubahan bagi tanah air kita demi menjadikan Amerika kembali pada jalurnya, dengan memensiunkan George W. Bush, serta memilih arah benar untuk negara yang sama-sama kita cintai ini !" Itulah salam John F. Kerry, senator Partai Demokrat dari Massachusetts, yang kandidat presiden di Pemilu 2004, dalam situs web resminya [www.johnkerry.com].

Sungguh kampanye politik yang hebat, sekaligus menunjukkan pemahaman terhadap Internet yang juga tepat. Situs web John Kerry oleh pengamat strategi kampanye memakai Internet didaulat sebagai nomor dua di belakang situs web kandidat lainnya, Howard Dean. Ucapan bahwa situsnya bukan hanya miliknya semata, ditunjukkkan dengan tersajinya tautan untuk situs web tak resminya, fasilitas chat dan puluhan blog milik para pendukungnya di Internet.

Riuhnya para blogger mengisi situs Kerry itu memicu interaksi unik dan kreatif ketika dukungannya tidak hanya sekedar kata-kata di dunia maya. Dua orang blogger setianya, Tom AZ (Arizona) dan Mark (Iowa) memutuskan berlomba saat mendukung tim baseball favoritnya dan sekaligus mendukung gerakan pengumpulan dana "Satu Juta Dollar Melalui Internet Bagi John Kerry" yang ditutup akhir September 2003.

Caranya : ketika tim baseball Arizona State Sun Devils dukungan Tom AZ bertanding melawan tim Hawkeyes dari Iowa yang didukung Mark, keduanya sepakat mendonasikan dua dollar untuk setiap angka yang dihasilkan tim yang didukungnya dalam pertandingan tersebut untuk John Kerry.

Ilustrasi tadi menunjukkan John Kerry membuka peluang dan akses agar konstituennya saling berinteraksi dalam mendukung kampanyenya di Internet. Tim sukses Kerry menyadari bahwa kampanye bermedia Internet jauh lebih efektif apabila tidak dijalankan secara monolitis, terpusat, top-down, melainkan justru digerakkan menurut norma Internet sebagai media yang egaliter, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Di sinilah kedigdayaan Internet menyelipkan pesan politik yang luhur, bahwa keberhasilan kandidat dalam memanfaatkannya untuk kampanye justru harus memberi peluang dan mendorong konstituennya buka suara, sementara para kandidat itu pun harus pula membuka lebar-lebar telinganya guna menyerap aspirasi dan suara rakyatnya.

Bagaimana di Indonesia ? Silakan periksa saja situs [http://www.presidensby.info], situs resmi presiden SBY kita Tidak ada fasilitas bagi peselancar untuk menulis sesuatu komentar atau umpan balik di sana. Dengan merujuk panduan Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam Rules of The Net (1996) bahwa "If a website has no feedback mechanism, forget it," maka sebaiknya keberadaan situs Pak Beye yang tidak interaktif itu, mau tak mau, kita lupakan saja ?

"The power of the masses.
A new figure emerges : the prosumer, a producer and consumer of information.
Anyone can be a prosumer."

Miopia dan pustakawan kita. Itulah sepotong narasi dari video berjudul "Prometeus - The Media Revolution" yang diputar pada helat pertemuan aktivis media akar rumput di Jagongan Media Rakyat (JMR) 2010 di Jogja National Museum Yogyakarta, 24 Juli 2010.

Penampilnya adalah rekan yang saya kenal melalui Internet, pegiat budaya Internet Sehat, Donny Budi Utoyo, dari ICT Watch Jakarta. Mungkin saya satu-satunya penonton yang memiliki DNA ilmu perpustakaan yang hadir untuk menyerap pengetahuan dari Mas Donny ini.

Sementara di ruang yang lain, pada saat yang sama, berkumpul para pustakawan dari Yogyakarta dan sekitarnya sedang asyik mengikuti presentasi tentang Senayan Library Management Systems (SLiMS) yang dilakukan langsung oleh Hendro Wicaksono, head developer SLiMS yang juga alumnus Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Angkatan 1992.

Kalau saja waktu bisa diputar balik, betapa makin menariknya bila komunitas pustakawan dan pegiat SLiMS di Yogya saat itu dapat pula menyerap wawasan dari sajian video di atas. Dan juga video lainnya dari YouTube yang berkisah mengenai "Social Media Revolution" yang sedang menggelegak. Aksentuasinya terasa semakin menegas melalui hentakan lagu hip-hop Fat Boy Slim sebagai ilustrasinya : "Right here, right now ; right here, right now ; right here, right now !".

Revolusi media sosial memang telah terjadi sekarang ini. Juga sebenarnya deras melanda dunia perpustakaan. Itulah badai yang disebut Library 2.0, di mana gelombang besar baru kaum prosumer sedang menanti di depan pintu-pintu perpustakaan. Untuk menjadi semakin terbuka lebar bagi aspirasi mereka.

Adalah John Blyberg dalam artikelnya 11 Reasons Why Library 2.0 Exists and Matters antara lain mengutip pendapat Michael Stephens.

Katanya,"Library 2.0 sederhananya merupakan upaya membuat perpustakaan, baik fisik atau maya, lebih interaktif, kolaboratif dan digerakkan oleh kebutuhan komunitas yang mendukungnya. Contohnya dengan memasukkan fasilitas blog, arena bermain di malam hari bagi remaja, sampai situs kolaborasi untuk pemajangan foto-foto mereka.

Daya dorong utamanya adalah membuat pembaca bisa mengunjungi perpustakaan kembali dengan membuat perpustakaan relevan bagi kebutuhan dan keinginan mereka dalam kehidupannya sehari-hari…membuat perpustakaan sebagai tujuan dan bukan sebagai hal yang difikirkan belakangan."

Artikel John Blyberg itu saya baca melalui akses Internet di Perpustakaan Umum Wonogiri, hari Jumat pagi (5/11). Sebelum nongkrong pada salah satu dari 6 komputer yang ada, saya menemui Pak Budi Prasetyo. Beliau kemudian bercerita tentang dua putranya yang menjadi relawan di Mentawai dan Merapi. Sosok lain yang saya temui adalah Muhammad Julianto.

Yang pertama adalah pensiunan guru SMP dan yang kedua adalah pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Solo. Saya salami rada hangat karena artikelnya mengenai perombakan budaya birokrasi di Wonogiri seiring terpilihnya bupati baru dimuat di harian Solopos beberapa hari yang lalu.

Kami bertiga ini, selain pengunjung tetap, kami secara tidak resmi atau bahkan resmi merupakan anggota "dewan perpustakaan" dari perpustakaan umum ini. Tidak resmi karena tidak ada SK-nya. Tetapi juga resmi karena secara "tiban" pernah menandatangani surat-surat resmi mereka.

Karena ketika perpustakaan ini beberapa bulan lalu mendapatkan anggaran secara "tiba-tiba" dari Provinsi Jawa Tengah untuk menambah koleksi, 78 juta rupiah (kalau tak salah ingat), kami bertiga diminta untuk ikut tanda tangan dalam berkas-berkas proposalnya. Dengan senang hati, kami membubuhkan tanda tangan. Entah apa kemudian kelanjutannya.

Merujuk momen spesial itu, mungkinkah aksi kami bertiga ini sudah menjadi bagian dari pelaksanaan mazhab Library 2.0 di Wonogiri ini ? Boleh jadi. Karena sebagai orang luar kami telah ikut sedikit dalam menentukan kebijakan pengembangan perpustakaan. Tetapi kalau hanya melibatkan kami bertiga, betapa elitis diri kami, sekaligus betapa masih kurang kolaboratifnya perpustakaan bersangkutan untuk bisa melayani khalayak yang lebih banyak.

Bagaimana isu Library 2.0 menderu di kota lain ? Siang harinya saya mencoba mencari tahu. Saya mengirimkan SMS ke Ahmad Subhan di Yogyakarta :

"Gimana Merapi ? Wah, acrku jd nr sumber di Ykt, 6-7/11 ditunda. Btw, di komunitas SLiMS apa prnah ada isu2 obrolan ttg katalogisasi sosial ? Jg Library 2.0 ? Salam." (Jumat, 5 November 2010 : 13.22.34).

"Merapi bikin repot lg pak :D. Kayaknya komunitas SLiMS blom pernah mengadakan diskusi dua topik itu." (Jumat, 5 November 2010 : 14.55.58).

Terima kasih, Subhan.

Apakah jawaban dari Subhan ini dapat didaulat sebagai cerminan bahwa komunitas pustakawan kita, yang melek teknologi informasi pun, masih mengidap miopia terhadap sosok Library 2.0 yang mengetuk-etuk pintu kita ?

Sebagai pencinta sepakbola sekaligus pencetus hari Suporter Nasional 12 Juli (2000) saya telah berdemo, menggugat kaum saya sendiri, di perempatan Gladag Solo dua tahun yang lalu. Kini, sebagai seseorang yang masih memiliki rasa cinta terhadap ilmu perpustakaan dan kepustakawanan, ijinkanlah saya kembali berdemo untuk kawan-kawan, kaum saya sendiri.

Saya akan mengacung-acungkan banner dengan tulisan berisi pertanyaan :

"Pustakawan Indonesia,
pustakawan miopia ?"


Wonogiri, 6 November 2010

Rabu, 27 Oktober 2010

mBah Maridjan, Pustakawan 2.0. dan Pesta Yogya

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



Kaliurang.
Adakah sesuatu kenangan Anda pernah tertambat di sana ?

Kalau Tonny Bennet pernah terkenal dengan lagu indah, "I left my heart in San Francisco," mungkin hari-hari mendatang pencipta lagu kita harus menelorkan lagu untuk mengenang mBah Maridjan yang berdomisili di Kaliurang itu pula.

Sosok juru kunci Gunung Merapi, yang kemudian semakin terkenal sebagai bintang iklan minuman suplemen, telah ditemukan meninggal dunia sebagai salah satu di antara puluhan korban amukan gunung karismatis yang secara spiritual telah ia "jaga" selama ini.

Sugeng tindak, selamat jalan, mBah Maridjan.

Kalau orang Jawa punya semboyan sakral "sedumuk bathuk, senyari bumi ," cerminan tekad kukuh untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah penghabisan, yang konon membuat ide transmigrasi sulit disosialisasikan untuk penduduk etnis Jawa, mBah Maridjan mungkin menjadi ikon ideal untuk keyakinan itu.

Beliau meninggal dunia, di rumahnya. Dalam posisi bersujud. Posisi pasrah, merendahkan diri, ke hadapan Yang Maha Kuasa. Orang besar telah memilih cara kematian yang juga besar, yang mungkin baru dalam jangka waktu yang lama betapa momen heroik, tetapi juga sekaligus tragis itu, akan bisa kita lupakan.

Presentasi wong cilik. Sebagai penulis surat pembaca, saya pernah menulis tentang dirinya. Judulnya, "mBah Maridjan" yang dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 27 Oktober 2007). Isinya :

Seorang mantan gubernur yang pagi-pagi sudah kluruk, berkokok, ingin maju sebagai calon Presiden di Pilpres 2009, telah mengunjungi mBah Maridjan. Bagi saya ini seperti sebuah déjà vu, pemutaran kembali adegan yang mirip dengan apa yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh pemerintahan Orde Baru.

Mereka-mereka ini paling lihai dalam berpropaganda untuk merebut hati rakyat. Antara lain dengan teknik yang disebut sebagai berpura-pura sebagai orang kecil.

Ada cerita tentang mantan menteri penerangan dan ketua partai pro-pemerintah saat itu, ketika melakukan kampanye terselubung di Solo. Ia melakukan aksi atraktif, yaitu menggendong seorang tukang becak Solo. Dengan aksinya itu dirinya membangun citra bahwa dia merakyat dan dirinya merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat kecil.

Menurut Sunu Wasono, Dosen Sastra Indonesia FIB-UI dalam bukunya Sastra Propaganda (2007), lewat aksi itu ingin ia tunjukkan bahwa program partai bersangkutan adalah juga program rakyat kecil. Partai itu kemudian bisa mengaku berasal dari rakyat, untuk rakyat, siap pula berjuang untuk rakyat. Kita semua tahu akhir dari cerita ini semua.

Bercermin dari teknik propaganda di atas, warga Jawa Tengah kini seyogyanya dapat mulai mengasah ketajaman nalarnya bila kelak terpusar dalam atmosfir kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang mulai menghangat. Juga dalam pilpres mendatang. Intinya, Anda jangan sampai terbeli musang dalam karung ketika menetapkan pilihan Anda kelak.

Bambang Haryanto
Wonogiri 57612

mBah Maridjan di media sosial. Sebagai blogger pustakawan, pagi ini (28/10/2010) mengirim SMS untuk Ahmad Subhan di Yogya :

"Ikut berduka atas wafatnya mBah Maridjan yg heroik. Btw, kira2 adakah perpus/situs perpus yg memajang daftar buku, publikasi, foto2 sd kenangan og2 ttg beliau ?" (Kamis, 28/10/2010 : 07.23.18).

Jawaban Subhan : "Smpe hari ini foto beliau, asli maupun modifikasi, sdh trsebar di fb. Kmaren komentar ttg mb marijan ckp panjang di bwh status Gus Muh, bs jd hari ini lbh rame." (Kamis, 28/10/2010 :07.31.27).

Jawaban saya : "Tks Subhan. Power utk menyebarkan sd mmodifikasi info, kini ditangan user. Power itu hrsnya bs diajak msk perpus ut bikin 'pesta' a la marketspace disana:-)" (Kamis, 28/10/2010 : 07.40.48).

Obrolan masih berlanjut. Hanya pindah kapling
di sini. Atau copy/paste di peramban Anda :http://tinyurl.com/2bvmge5


Terima kasih.


Wonogiri, 28 Oktober 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Kinokuniya.
Mencari-cari buku di sana saya merasa seperti sedang berlatih karate di dalamnya.

Biang keroknya adalah fasilitas antarmuka dari anjungan elektronik yang disediakan toko buku itu. Dengan alat itu konsumen dibantu untuk menemukan buku-buku yang mereka cari di toko buku bersangkutan.

Layanan serupa bisa kita temui di pelbagai toko buku terkenal di Indonesia, berupa komputer, sementara di Kinokuniya itu wujudnya seperti kios ATM.

Ini bukan toko buku Kinokuniya yang berada di Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta. Ini toko buku jaringan yang sama tetapi luasnya hampir sebesar lapangan sepakbola. Hamparan belukar buku yang menggairahkan itu membuat saya harus mengandalkan anjungan tadi untuk menemukan buku yang saya incar. Buku tentang manajemen ilmu pengetahuan.

Muncul masalah. Keypad-nya kurang begitu ramah. Ketika telunjuk menekan terlalu lemah, huruf tidak muncul. Tetapi ketika tekanan ditingkatkan ekstra, huruf yang muncul menjadi dobel. Saya membayangkan sedang berlatih karate, melakukan exercise guna memperkuat daya tohok jari-jemari saya.

Jadi sungguh perjuangan tersendiri untuk bisa menuliskan lema yang kita cari. Baik nama pengarang, judul atau subjek buku. Sementara pengguna lain dari toko buku megah di bilangan Orchard Road, Singapura itu, sudah pula nampak mengantri.

Buku yang saya cari itu, tidak saya temukan. Saya berandai-andai, alangkah menariknya bila terminal itu bisa agak "bercanda" dengan saya. Misalnya, bila buku itu tidak ada, ia dapat menyarankan saya untuk mengunjungi toko buku terdekat yang masih menyediakannya. Bahkan melalui Internet, sambungan itu bisa bercakupan dunia pula.

Jadi antar toko buku itu data koleksinya tersambung secara elektronik, 24/7. Diperkaya pula sambungannya dengan penerbit buku dan pengarang buku bersangkutan. Bahkan terintegrasi dengan data para pembaca buku tersebut, genap dengan segala komentar yang mereka tuliskan. Mengambil jargon dari ranah ilmu perpustakaan, ijinkanlah saya menyebut gambaran itu sebagai panorama tentang katalog yang menari.

Diagram kambing. Mengilas balik ke tahun 1980, mata kuliah tentang katalog, dengan label katalogisasi dan klasifikasi, bukan mata kuliah yang saya sukai. Pengampunya adalah Ibu Lily K. Somadikarta, yang saat itu adalah juga ketua jurusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Beliau telah wafat,Sabtu, 18 April 2009 sekitar pukul 01.00 di RSCM Jakarta Pusat.

Cara mengajar Ibu Soma yang tegas dan direct, membuat kami yang belum mengenal akrab beliau menjadi cepat-cepat ciut nyali. Apalagi ini mata kuliah yang menentukan, apakah di tahun pertama kami langsung drop out atau berlanjut. Kuis atau tes pertama untuk mata kuliah ini saya mendapatkan nilai nyaris mendekati ambang batas kegagalan : 62.

Saat kuis, saya memang tidak menyangka diagram tentang alur proses penyimpanan dan penemuan kembali bahan pustaka itu muncul di kertas ulangan. Rupanya saya telah meremehkan jantung alur kerja perpustakaan ini. Sebab ketika mencatatnya saya telah membingkai diagram tersebut dengan garis kontur berwujud binatang kambing.

Teman sekelas saya, Subagyo Ramelan, tertawa-tawa melihat "diagram kambing" buatan saya itu.Bahkan ia mengomentari, "itu cara mencatat yang jenius." Ia yang kini membuka gerai "Safir Andaru" dan bergerak dalam bisnis batu mulia di Ciledug, Tangerang, ketika menjadi book officer di Asia Foundation pernah membantu saya memperoleh hibah puluhan buku-buku bermutu terbitan manca negara. Terima kasih, Bag.

Saya bayangkan, ke dalam mulut kambing itu masuk satu judul buku. Buku itu dikunyah, untuk diekstraksi. Wujud fisiknya disimpan di rak tertentu. Kalau jumlahnya puluhan atau ratusan, mungkin ingatan kita masih kuat mengingat sampul atau tempatnya untuk bisa ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Tetapi ingatan manusia ada batasnya. Bila jumlah buku itu sudah mencapai ribuan, masalah muncul. Menyimpan sih gampang, tetapi saat untuk menemukan kembali, secara cepat dan akurat ?

Solusinya, data buku itu harus dicatat. Secara sistematis. Ada ilmunya. Dalam buku besar, ia dicatat berdasarkan nomor urut, tanggal pembelian/hadiah, dan sumber buku tersebut. Ini untuk administrasi internal. Sedang untuk layanan bagi pemakai perpustakaan, isi buku dianalisis dulu, diklasifikasikan menurut subjek atau perihal, dengan merujuk panduan yang baku, seperti tabel DDC, Dewey Decimal Classification dan sarana bantu lainnya.

Kemudian tergabung di dalamnya pernak-pernik data buku lainnya, yang disajikan secara sistematis dalam bentuk kartu-kartu katalog. Pengunjung dapat mengakses koleksi perpustakaan melalui bantuan katalog tersebut berdasarkan nama abjad pengarang, judul buku, sampai subjek buku.

Tetapi pemahaman publik terhadap katalog sebagai sarana temu kembali bahan pustaka di perpustakaan, bukan hal yang otomatis. Bahkan juga di kalangan intelektual. Di kolom surat pembaca majalah Tempo (16/1/1982), saya pernah mengomentari isi acara "Dunia Pustaka" di TVRI (29/11/1981). Saat itu hadir bintang tamu seperti Harsja W. Bachtiar, Tuti Indra Malaon dan Toeti Adhitama.

Protes saya adalah : mahasiswa dan juga dosen (!) harus dilatih agar mampu memahami fungsi katalog dan mahir memanfaatkannya dalam menemukan informasi yang relevan. Keterampilan serupa sekarang ini yang juga harus dilatih pada mereka, adalah pemanfaatan mesin pencari Google di Internet. Semua orang bisa menggunakan, tetapi tetap ada perbedaan signifikan antara mereka yang tidak terlatih vs mereka yang berpengetahuan tentangnya !

Konsumen adalah matahari. Itulah teori dasar dan praksis pengelolaan bahan pustaka yang jadul, yang saya pelajari di dekade awal 1980-an. Kini katalog-katalog kertas itu semakin banyak digantikan dengan sinyal-sinyal elektronik. Otomasi. Komputerisasi.

Tetapi sebagai seorang renegade, yang terciprat DNA ilmu perpustakaan tetapi tidak pernah bekerja sebagai pustakawan sejak 1985, saya tidak tahu seberapa jauh, juga seberapa sukses otomasi itu telah berjalan di pelbagai perpustakaan dunia dan Indonesia.

Kisah ini akan berlanjut di blog saya yang lainnya. Blog Esai Epistoholica. Antara lain melanjutkan raba-raba saya tentang peranti lunak Senayan Library Automation yang telah memenangkan kategori Open Source System dalam Indonesia ICT Awards 2009 yang baru lalu.

Pengembangnya, Hendro Wicaksono, alumnus JIP-FSUI 1992 (foto : baju kuning). Dalam foto ia bersama Yossy Suparyo dari Combine Resource Institution yang saya potret setelah bisa saling kenal dalam momen tak terduga.Di Jogja National Museum, 23 Juli 2010.

Jangan lupa, simak pula nasehat Gus Doerr dari Lembah Silikon tentang revolusi media sosial yang kini hot terjadi. Juga pengaruhnya terhadap masa depan Anda.

Silakan saja klik di sini atau copy/paste url ini di peramban Anda : http://tinyurl.com/262ztjd.


Terima kasih.


Wonogiri, 24-25 Oktober 2010

Senin, 18 Oktober 2010

Rosmi Julitasari, Blog Kita dan Biografi Lily K Somadikarta

Yth. mBak Rosmi Julitasari,

Salam sejahtera. Semoga Anda senantiasa sehat, sukses dan sejahtera. Mohon maaf bila email ini agak mengganggu.

Saya, Bambang Haryanto, pernah belajar di JIP-FSUI, Angkatan 1980. Kini tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah. Saat ada acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogyakarta (22-25/7/2010), suatu kebetulan yang menakjubkan, saya tinggal satu wisma dengan alumnus JIP-FSUI 1992, Hendro Wicaksono dari Jakarta.

Dari Hendro itu saya mendapat kabar menarik. Antara lain bahwa Anda akan/telah menulis biografi salah satu tokoh penting JIP-FSUI, Ibu Lily Koeshartini Somadikarta.

Apakah buku Anda itu telah selesai ?

Bila telah selesai, atau pun bila belum selesai, saya ingin memajang informasi tentang buku Anda itu. Misal gambar sampul, foto dokumentasi, highlight isi buku, endorsement plus info lain yang relevan, di blog yang baru saja saya buat. Saya ingin mempromosikan buku Anda, dengan senang hati, dan tentu saja cuma-cuma.

Melalui blog ini saya dan kawan-kawan berusaha menghimpun tulisan kenangan sampai pengalaman dari sesama teman, Angkatan 1980. Tentu saja kenangan tentang para dosen kami, termasuk Ibu Soma. Blog kami itu namanya : JIP FSUI Angkatan 1980.

Bahkan di sidebar telah saya pajang foto Ibu Soma. Foto itu hasil pemotretan saya sendiri, di tahun 1982, menjelang acara Peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan di Indonesia, yang dilaksanakan di Gedung Kebangkitan Nasional, November 1982.

Terima kasih untuk perhatian Anda.
Saya tunggu kabar menarik dari mBak Rosmi.

Hormat saya,


Bambang Haryanto.