Selasa, 17 April 2012

18 April 2012 : Tiga Tahun Ibu Lily K. Somadikarta Berpulang

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Tanggal bersejarah. Samuel P. Huntington, ilmuwan politik AS yang terkenal dengan tesis benturan peradaban, lahir 18 April 1927. Komedian sohor AS,Conan O'Brien, lahir 18 April 1963. Pesepakbola asal Swedia, Stefan Schwarz, lahir pada tanggal yang sama di tahun 1969.

Ahli botani Inggris, Erasmus Darwin, wafat pada tanggal 18 April 1802. Albert Einstein, wafat 18 April 1955. Thor Heyerdahl, penjelajah Norwegia yang terkenal dengan perahu “Ra”-nya, wafat pada tanggal yang sama, tahun 2002.

Dunia pendidikan ilmu perpustakaan Indonesia, pada tanggal yang sama di tahun 2009, telah kehilangan salah satu tokohnya yang terkemuka. Ibu Lily Koeshartini Somadikarta (foto), telah menghadap Sang Khalik. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Blender, Kebon Pedes, Bogor.

Catatan kenangan. Melalui bantuan Google, saya bisa menemukan beberapa catatan menarik. Yang tidak saya temui via Internet, tetapi berdasar cerita dari putrinya mBak Lini Ashdown yang tinggal di Inggris, ada hal yang mengejutkan bagi saya.

Ternyata Ibu Soma itu menyukai sepakbola. Bahkan mBak Lini cerita, beliau sampai rela bangun dini hari untuk menonton tayangan pertandingan sepakbola di televisi. Umpama informasi ini saya ketahui saat saya menjadi mahasiswa beliau di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (saat itu) di tahun 1980, pasti beliau akan saya ajak mengobrol tentang permainan si kulit bundar tersebut.

Reuni JIP-FSUI 2008, Ki-ka : Hartadi Wibowo, Yaz Anggraeni (putri Hartadi Wibowo), Lily K. Somadikarta dan Rizal Saiful-haqReuni Tiga Generasi. Dalam acara reuni Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI 2008 nampak dari kiri Hartadi Wibowo (mahasiswa angkatan masuk 1980), putrinya Tyas "Yaz" Anggraeni yang juga mahasiswa JIP, Ibu Lily K. Somadikarta dan rekan seangkatan Hartadi Wibowo, Rizal Saiful-haq. Rizal ini mengikuti jejak Ibu Soma sebagai pengajar dan ketua jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Jakarta.

Memutar kenangan tentang beliau, antara lain tersaji laporan gegap gempita :-) tentang kegiatan mahasiswa JIP-FSUI pada bulan Juni 2006 ketika menyelenggarakan pesta untuk merayakan hari ulang tahun Ibu Soma (1/6/1926) dan Ibu Soenarti Soebadio.

Sebelumnya, di tahun 2003, mahasiswi JIP-FSUI Rosmi Julitasari dengan bimbingan Putu Laxman Pendit telah menulis skripsi berjudul Pemikiran Lily K. Somadikarta : Pendidikan dan Ilmuwan Di Bidang Ilmu Perpustakaan. Ketika Ibu Soma wafat, penulis yang sama dan dikabarkan sedang menulis biografi Ibu Soma telah menuliskan obituari yang menyentuh.

Judulnya : Mengenang Lily K. Somadikarta: Perintis Pendidikan Ilmu Perpustakaan di Indonesia. Rosmi Julitasari mengakhiri tulisan panjang yang mencakup sejarah perjalanan karier Ibu Soma itu dengan doa :

”Selamat jalan, Ibu Lily K. Somadikarta. Saya yakin Ibu akan damai di sana, karena para malaikat pasti bergegap gempita menyambut umat Tuhan seperti Ibu, yang telah menanamkan ilmu di pemikiran banyak orang yang telah Ibu didik.”

“Istri saya, itu orang yang paling terdekat,” demikian Profesor Soekarja Somadikarta, suami Ibu Soma, ketika diwawancarai oleh wartawan Radio BBC Siaran Indonesia Heyder Affan, 30/11/2011 (Audio). Saat itu Bapak Soma baru saja memperoleh penghargaan Habibie Award 2011 atas dedikasinya pada bidang ilmu dasar.

Dan tatkala istrinya meninggal dunia, Somadikarta merasa kehilangan. Dia mengaku 'sakit' kalau teringat sosok sang mendiang.

“Tapi itu takdir,” imbuhnya cepat-cepat, dengan nada bergetar.

“Saya bersujud kepada Tuhan... Itu takdir, ndak bisa diapa-apakan”.

Profesor Soma mengaku almarhumah istrinya berperan besar atas perjalanan hidupnya.

Selama 54 tahun mengarungi hidup bersama (dan dikaruniai dua orang anak), membuat Soma dan pasangan hidupnya itu saling mengenal. Berulangkali ditinggal untuk kepentingan akademis (yang bisa menghabiskan 3 atau 4 bulan), menurut sang profesor, istrinya bisa menerima kenyataan seperti itu.

“Istri saya begitu menghargai....Itu yang tidak bisa saya melupakan,” katanya, lirih.

Makam Ibu Lily  K. Somadikarta di Blender, Kebon Pedes, BogorPeristirahatan abadi. Di lingkup rindang pohon besar, terletak makam Ibu Somadikarta, yang dijadikan satu dengan putra beliau, Dedi A. Somadikarta yang mendahului menghadap Sang Khalik tanggal 18 Januari 1985.

Dalam blog saya. Sebagai mahasiswa beliau, sungguh suatu kehormatan ketika saya memperoleh kepercayaan dari beliau dan juga dari jurusan untuk hal-hal tertentu. Ketika jurusan akan melakukan pembelian sarana fotografi, saya mendapat tugas untuk mendaftar kamera, lensa dan sarana penunjang lainnya yang pantas untuk dibeli.

Belum lagi pengalaman menarik di bulan Maret 1984 ketika menyertai Ibu Soma, Ibu Soenarti Soebadio, Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak dan mBak Siti “Ining” Sumarningsih, untuk tur menjadi nara sumber dalam seminar di Perpustakaan Universitas Diponegoro di Semarang. Lengkapnya :

  • Dosen JIP Gadungan Beraksi di UNDIP Semarang


  • Ajaran Ibu Soma,Gus Doerr dan Katalog Yang Menari


  • Reuni JIP-FSUI 2008, Reuni Tiga Generasi.



  • Tanggal 10 dan 11 Desember 2011, dengan bantuan informasi dan panduan dari mBak Lini dan Bapak Soma, saya akhirnya dapat berziarah ke makam Ibu Somadikarta. Hari pertama, saya membawa kamera digital yang layar LCD-nya sudah rusak. Hasil fotonya, tidak memuaskan. Saat itu saya dipandu oleh juru kunci, yaitu Andri (No. HP-nya : 087711144692).

    Esoknya, saya dapat pinjaman kamera yang lebih “waras” milik adik saya yang wartawan Tabloid BOLA, Broto Happy W. dan sebagai warga Bogor, saya bisa memotret lebih baik.Ada rasa kelegaan bisa mendoakan beliau. Semoga Ibu Somadikarta senantiasa sejahtera di sisiNya.

    Ketika mengetik tulisan ini saya mengirimkan SMS kepada Bapak Somadikarta. Beliau menjawab : "Sdr Bambang yang baik, banyak tks utk sms dan doa'nya utk Ibu. Kami br dr makam Ibu. Lini dg teman2nya sekarang sedang ke makam teman dekatnya di luar Bogor. Salam hangat jg dr Lini, dan smg Anda trs produktif menulis, SS." (18/4/2018 : 10.43.30).

    Terima kasih kembali, Bapak Soma.



    Wonogiri, 18/4/2012

    Selasa, 06 Desember 2011

    Toko Buku Borders Dalam Kenangan Alumnus JIP-FSUI 1980

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Dudu sanak dudu kadang. Yen mati melu kelangan.”

    Bukan kerabat, bukan saudara. Bila meninggal, ikut merasa kehilangan.

    Jaringan toko buku Borders di Wheelock Place, pojok perempatan Orchard Road dan Patterson Road, Singapura, telah tutup untuk selamanya pada tanggal 3 September 2011 yang lalu.

    Ada sepotong hati ini yang ikut hilang.

    Artikel ini saya pajang di blog saya Buku-Buku Dalam Kehidupanku, 15/9/2011. Ternyata sekitar sebulan kemudian saya memperoleh email dari teman kuliah saya di tahun 1980. Gustina Sofia dari Bogor. Ia menulis :

    "Mas Bambang,

    Apa kabar, aku baca posting mu terbaru berjudul "Toko Buku Borders Dalam Kenangan". Saya juga merasa kehilangan, walaupun jarang-jarang kesana.

    Terakhir ke toko itu 29 Mei 2011 dan dapat hadiah "tas kresek hitam" dengan tulisan "borders". Rupanya itu menjadi hadiah yang berkesan.

    Btw, hari Rabu 28 September saya ke Wonogiri, sayang nggak sempat kontak dulu. Pertama kali ke Wonogiri, ternyata dekat ya dari Solo, TANPA MACET, he3.
    Terima kasih dan selamat berkarya."

    Terima kasih, Gustina.
    Tak sangka kita memiliki rasa kehilangan yang sama untuk sebuah toko buku.Bagaimana sobat-sobat lainnya ?

    Wonogiri, 6/12/2011

    Minggu, 04 Desember 2011

    Buku Komedikus Erektus di Perpustakaan Universitas Ohio Amerika Serikat

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    The SBY Effect.
    The Manmohan Singh Effect.
    Dan The Komedikus Erektus Effect.

    Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.

    Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.

    Mungkin analogi itu berlebihan.

    Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.

    Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.

    Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.

    Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.

    Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.

    Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.

    Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.

    Itulah secuplik cerita tentang upaya menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dari dari alumnus JIP-FSUI untuk dunia. Siapa menyusul ?



    Wonogiri, 5/12/2011

    Solo Cyber Day 2011, Pustakawan ITB dan Mahasiswa JIP-FSUI 1980

    Dear Kang Onno,

    Semoga sehat-sehat dan sudah sembuh capeknya setelah menggembleng anak-anak muda Solo dalam ber-Internet secara cerdas dan memberikan manfaat di ajang Solo Cyber Day 2011, Solo, 4 Desember 2011.

    Catatan yang akan saya ingat antara lain tentang seruan Anda agar warga Solo ngeblog setiap hari. Sayang, kayaknya hanya saya saat itu yang menyambut dengan tepuk tangan. Mungkin akan lebih heboh bila Kang Onno bilang, "update statusmu di FB setiap hari."

    Tak apalah, tepuk tangan saya itu akan tetap saya lanjutkan di dunia maya, untuk menyebarkan pesan bahwa menulis di blog itu cenderung lebih bermakna dibanding menulis status wkwkwkwk di Facebook.

    Catatan kedua, tentang perpustakaan digital Kang Onno yang Anda wariskan ke Apkomindo Solo ? Saya lupa mencatat. Kemana atau URL mana untuk bisa mengaksesnya ? Tentang perpustakaan, saat ketemuan Anda itu saya lupa menyampaikan titipan pesan dari priyayi asal Solo tetapi kini tinggal di Jakarta.

    Beliau adalah Pak Blasius Sudarsono dari PDII-LIPI. "Titip salam, lama ga jumpa," katanya. Lalu beliau menambahkan info yang saya belum tahu, bahwa Kang Onno itu pernah menjadi kepala perpustakaan pusat ITB. Oh ya, Pak Blasius itu dosen saya. Saya pernah belajar di jurusan ilmu perpustakaan di Rawamangun, FSUI. Pernah pula main ke ITB, saat itu kepalanya Pak Adjat Sakri.

    Moga-moga banyak email yang Kang Onno terima dari anak-anak muda Solo. Saya dan warga Trah Martowirono berterima kasih kepada Kang Onno, juga Mas Donny BU, yang telah sudi menorehkan tanda tangan di kanvas memorabilia trah (keluarga besar) kami.

    Dalam foto jepretan jenius dari aktivis Internet asal Solo, Sadrah Deep, nampak dari kiri saya (Bambang Haryanto), Kang Onno dan Mayor Haristanto. Kanvas itu akan menjadi bahan cerita yang berlanjut di trah kami.

    Sukses selalu.
    Sampai ketemu lagi.


    Bambang Haryanto
    trah.blogspot.com
    komedian.blogspot.com

    Wonogiri, 5/12/2011

    Selasa, 15 November 2011

    Library of Congress, PDII-LIPI dan Blasius Sudarsono

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com



    Memasuki Library of Congress atau Perpustakaan Nasional Australia rasanya bagi saya bakal lebih pede ketimbang bila memasuki Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI).

    Itulah kesan yang saya peroleh kemarin (15/11/2011). Mungkin itu merupakan “hukuman” bagi saya terkait akan dua hal. Pertama, sudah bertahun-tahun mandul, tidak mampu menghasilkan karya dengan predikat ilmiah. Yang kedua, saya mengunjungi PDII-LIPI itu (setelah sekitar 25-an tahun tidak kesini) gara-gara kebandang, terangkut oleh bis yang saya naiki dari Slipi.

    Seharusnya saya turun di Polda, lalu ke Istora Senayan. Tetapi malah terbawa bis sampai Jl. Gatot Subroto. Dasar orang kampung yang buta situasi mutakhir dari kotanya Bang Foke ini.

    Daripada mubazir, saya memutuskan mengunjungi Perpustakaan PDII-LIPI. Lantai 3. Ada papan bertuliskan e-Library PDII-LIPI menyapa Anda saat memasuki pintu. Ada berderet komputer. Saya coba akses katalog elektroniknya. Dasar narsis, istilahnya (kalau tak salah) melakukan google ganger, saya kemudian mengetikkan nama saya di kotak pencarian.


    Hasilnya : 0. Nol. Nihil. Jeblok. Gundul.Hampa.Tiada.
    Nikmati realitas`itu, betapa saya tidak punya karya tulis, atau warisan, di tempat ini.
    Saya sungguh tidak punya legacy di perpustakaan ini.
    Terima kasih.

    Pencarian kedua, kata “komedi” dan “comedy.” Hasilnya, juga nol.
    Rupanya tidak ada tempat untuk berlawak-lawak ria di tempat ilmiah ini pula.
    Tetapi ketika saya mengetikkan kata humor, terdapat lumayan banyak informasi ilmiah. Silakan cek di layar hasil pemotretan saya ini.

    Pencarian ketiga, saya ketikkan nama dosen saya di tahun 1981. Saat itu sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (JIP-FSUI), saya berkuliah di gedung ini pula. Rekan saya lainnya Djohar (almarhum), Uhum Lantang Siagian (almarhum), Emil Zola, Gemuru Ritonga, Gustina Sofia, Tuti Sri Sundari, dan Zulherman (“selamat datang kembali di tanah air, semoga menjadi haji yang mabrur, Zul”).

    Dosennya adalah, kini Pustakawan Utama, Bapak Blasius Sudarsono (foto)
    “Naik saja lantai dua, belok kanan, di pintu ada inisial : BS,” demikian kata petugas perpustakaan. Seperti saat naik bis tadi, ruang Pak BS ternyata sudah saya lewati. Ada ruang saya masuki dan bertanya. Dijawab oleh beberapa ibu, “silakan masuk pintu yang terbuka.”

    Pintu itu memang nampak terbuka. Mungkin ini mencerminkan diri penghuninya. Pak BS ada di dalamnya, saya fikir sedang memberikan bimbingan skripsi kepada seorang mahasiswi. Namanya Ratih. Sekarang dirinya juga berkuliah di jurusan saya dulu-dulu itu.

    Syukurlah, saya merasa terhormat, karena begitu menyodorkan muka, Pak BS rupanya langsung mengenali diri saya. Padahal praktis kami tidak pernah jumpa sejak 1981 :-). Internet rupanya tetap mampu “mendekatkan” kita selama ini.

    Tak ada yang berubah dari beliau. Rambutnya memang memutih, tanda sebagai sosok yang bijak, tetapi tetap juga “galak” dan saya harus berfikir lama untuk mencerna wejangan beliau. Hard fun, desis saya. Termasuk ketika beliau menggurat kalimat sakti bahwa “perpustakaan adalah pusat inovasi.”

    Kalimat yang sungguh aneh di telinga saya. Rasanya baru kali ini saya bisa mendengar kata “perpustakaan” yang diutarakan sejajar dan satu tarikan nafas dengan kata “inovasi.” Ibarat aliran sungai Bengawan Solo (rumah Pak BS di Baluwarti, Solo, pernah kebanjiran di tahun 1986), kalimat beliau itu akan “mengalir sampai jauh” di relung pemikiran saya. Terima kasih, Pak BS, saya akan ikut mencerna ucapan itu.

    Terima kasih pula, karena saat itu saya telah beliau beri hadiah. Buku karyanya, Menyongsong Fajar Baru Merancang Masa Depan (LIPI Press, 2007) dan majalah BACA (Juni 2005) yang antara lain memuat tulisan Pak BS berjudul “Empat Windu Perjalanan Pemikiran Tentang PDII-LIPI.”

    Yang bikin saya terusik adalah tulisan beliau di buku yang beliau berikan kepada saya di sore saat Jakarta baru saja selesai diguyur hujan. Beliau tulis : “Khusus untuk Mas Bambang. Agar ingat kembali Perpustakaan.”

    Saat itu sudah saya jawab : “Saya senantiasa ingat Perpustakaan. Tetapi dengan cara yang bisa saya lakukan.Termasuk menulis blog yang mencatat siapa Pak Blasius Sudarsono, yang dalam pencarian Google masuk 10 besar”



    Kramat Jaya Baru,Jakarta,
    16 November 2011

    Jumat, 11 November 2011

    Bapak Soma, Ibu Soma dan JIP-FSUI Angkatan 1980

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Banyak cara untuk mengenang masa lalu. Kemarin harian Kompas memberitahukan di halaman 12. Saat cari detilnya di Google tersaji sebagai berikut :

    Ahli Burung dan Sosiolog Raih Habibie Award
    Kamis, 10 November 2011 17:54 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang ahli burung (ornitolog), Prof Dr Soekarja Somadikarta (foto), meraih penghargaan Habibie Award. Lelaki berusia 81 tahun tersebut diberi penghargaan yang telah berusia 13 tahun tersebut atas kontribusinya menjadi peletak dasar ilmu perburungan di Indonesia.

    Soma menjadi satu dari dua penerima penghargaan Habibie Award Periode ke XIII Tahun 2011 yang diselenggarakan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis (10/11). Satu penerima lainnya adalah seorang Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia, Prof Dr Ir Sajogyo.

    Dalam pidato ilmiahnya, Soma menyatakan saat ini di Indonesia terdapat lebih dari 500 spesies burung. Ia yakin di tahun-tahun mendatang akan terdapat penemuan setidaknya 20 spesies lagi. "Itu minimal. Mungkin lebih banyak lagi," ujar Soma.

    Soma sebelumnya telah memperoleh 10 penghargaan prestisius, di antaranya dari National Academy of Sciences-National Research Council (USA) sebagai Visiting Research Associate di Departemen Ornithology, Smithsonian Institution, Washington. Selain itu empat perhimpunan burung internasional yang berwibawa telah mengakui Soma sebagai seorang ornitolog kelas dunia.

    Adakah sesuatu yang klik dengan Anda ? Saya, tentu saja. Prof. Soekarja Somadikarta adalah suami dari almarhumah Ibu Lily Koeshartini Soemadikarta. Beliau adalah Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI ketika saya menjadi mahasiswa, masuk tahun 1980.

    Pernah saya ikut semobil dengan Bapak Soma dan Ibu Soma. Siang hari tahun 1985 atau 1986. Kami sama-sama dari kampus Rawamangun menuju gedung Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial di Jl. Prapatan, yayasan yang dipimpin oleh Prof. Selo Soemardjan. Kami bertemu juga dengan para pengajar dari jurusan lain dari UI. Acaranya : merembug agenda membuat tayangan film memperkenalkan ilmu-ilmu sosial untuk disiarkan di TVRI.

    Saya mendapat tugas dari Ibu Soma untuk membuat skrip, memilih pemain, dan sekaligus juga main film. Antara lain saya pilih :-) sebagai bintang adalah Bapak Sulistyo Basuki, mBak Threes Emir (Pemred majalah Mode Indonesia),mBak Ir. Jati Wahyuni dari PDII-LIPI,tentu saja Ibu Soma juga.

    Di Gedung YIIS itu kami bertukar gagasan. Saat semobil bersama Pak Soma, saya sempat meledek beliau sebagai "profesor wiraswasta." Karena beliau saat itu juga menjabat sebagai Ketua Kopertis. Saya lupa, beliau tertawa atau tidak.

    Selamat untuk Prof. Somadikarta atas penghargaan itu.Selamat terus berprestasi dan mengilhami para ilmuwan muda untuk terus berbakti. Saya yakin, Ibu Soma akan ikut berbahagia di alam kelanggengan.

    Update 06/3/2012 : Profil Bapak Somadikarta secara lebih komprehensif dan inspiratif telah dimuat di situs Radio BBC Siaran Indonesia. Silakan klik disini.


    Kramat Jaya Baru, Jakarta, 11 Nov 2011

    Kamis, 03 November 2011

    Belajar adalah belajar tentang cara belajar !

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : jip80fsui (at) gmail.com


    Setelah berpisah kurang lebih 26 tahun, bisa bertemu kembali teman-teman kuliah, saya mendapati betapa kaya ragam jalan hidup mereka.

    Sama-sama mengenyam pendidikan ilmu perpustakaan, tetapi panggilan hidup, peluang dan kecenderungan tiap pribadi, membuat ilmu itu dipraktekkan dalam jalur yang warna-warni.

    Belajar ilmu perpustakaan adalah belajar tentang cara belajar.

    Itu sudah terbukti untuk rekan saya Bakhuri Jamaluddin. Setelah mengampu perpustakaan Akademi Gizi, kini jadi salah satu tokoh yang menjalankan roda program Jamkesmas di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Secara ke-PNS-an, sudah pensiun, tetapi di bidang yang baru membuatnya terbang ke pojok-pojok tanah air.

    Teman lain yang saya temui kemarin (3/11/2011) adalah Hartadi Wibowo.Priyayi necis dan rapilo :-) asal Cilacap itu kini sekretaris sebuah yayasan yang mengurusi santunan kesehatan di Bank Mandiri.

    Sebelumnya menjabat Dana Pensiun Bank Mandiri yang "mempertaruhkan" milyaran rupiah untuk investasi. Ia sukses. Kuncinya : di perpustakaan tersaji beragam informasi, dan saya banyak belajar dari sana.

    Menengok ke belakang Hartadi Wibowo mencoba me-resume hidupnya : "Jalur saya adalah di bidang pelayanan." Itu katanya di dalam mobil hitam keren dan dimana saya nunut dari Ciledug untuk turun di Jl. Tendean, untuk berganti busway. Makasih Ted, untuk obrolannya yang inspiratif.

    Yang agak nyeleneh dan menarik adalah sobat saya satunya lagi : Subagyo Ramelan (SBR).

    Waktu kuliah, saya, Teddy dan Bagyo terkenal sebaagi eksponen "the smoking corner."

    Tukang merokok berat.Teddy bisa berhenti tahun 2005. Saya tahun 1989.

    Tetapi Pak SBR, masih melanjutkan hobi nikmatnya itu sampai kini.

    Setelah lulus, SBR menjadi book officer di Asia Foundation. Kerjanya membagi-bagikan buku sumbangan Amerika Serikat ke pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kantornya, bagi saya, adalah sorga buku. Saya sempat kecipratan puluhan buku-buku idaman darinya. Makasih, bag.

    Kini ia tak lagi mengurusi buku. Tetapi primbon :-).

    Primbon itu sebagai panduan bagi mereka yang ingin membeli batu-batu mulia di bengkel dan show room miliknya.

    Namanya Safir Andaru, di bilangan Ciledug, Jakarta Selatan.

    Seusai kangen-kangenan, ia menyodori kami bertiga sejumlah cincin dengan berbatu mulia.

    Subagyo Ramelan, eyang 7 cucu tetapi nampak awet muda itu, membuka primbon. Sebagai penulis, saya sebaiknya memakai cincin dengan batu mulia safir. Karakternya adalah : wisdom and knowledge. Semoga dapat menjadi panduan bagi saya untuk berbuat kebaikan : seseorang yang dididik jadi pustakawan tetapi kini tercebur untuk mempelajari dan menulis tentang humor dan komedian.

    Terima kasih, Bag.
    Terima kasih, Bakh.
    Terima kasih, Teddy.

    Hidup Anda yang warna-warni sungguh merona indah dalam catatan dan kenangan saya.Pertemuan 4 komplot lama itu mencetuskan Deklarasi Ciledug 3 November 2011.

    Bahwa kita akan mengadakan reuni komplit di bulan Desember mendatang.
    Insya Allah terlaksana.


    Kramat Sentiong,4/11/2011