Senin, 18 Oktober 2010

Silaturahmi Alumni JIP-FSUI Di Dunia Maya

Dear sesama alumni JIP-FSUI,

Salam pustakawan. Senang sekali saya memergoki Anda sebagai alumnus JIP-FSUI yang tampil baik hati, dengan murah hati, sudi berbagi cerita, wawasan dan pengetahuan tentang dunia cinta kita di dunia maya. Di Internet. Anda sungguh generasi JIP-FSUI yang beruntung sekali.

Sebab waktu saya berkuliah di JIP-FSUI, jaman duluuu sekali itu, Internet belum ada. Kertas juga belum ada. Bahkan semua catatan kuliah masih harus ditulis di atas daun lontar. Atau digurat di kulit kayu kering yang harus dikelupas dulu dari pohon-pohon akasia raksasa yang merindangi padepokan Rawamangun saat itu.

Angkatan sebelum saya, ceritanya, malah berkuliah dengan mengusung keping-keping batu sebesar papan tulis. Tablet. Model inspiratif yang dikembangkan oleh Steve Jobs menjadi produk iPad-nya Apple sekarang ini. Angkatan sebelum saya itu menulis catatan kuliah mereka dengan memakai pahat.

Begitu ada perintah dosen, "Print !," bisa dibayangkan betapa heroik dan kerasnya mereka bekerja saat itu. Apalagi yang ditekan adalah tombol "Send."

Depok masih sawah.
Atau hutan, yang cuma dihuni hantu-hantu belaka.

Para dosen kita jaman dulu, seperti Ibu Lily K Somadikarta, Pak Sulistyo Basuki, Ibu Lily Roesma, Ibu Ining sampai Pak Zulfikar Zen, semuanya pergi mengajar ke kampus masih naik kuda. Atau kereta yang ditarik kuda. Bahkan ada mahasiswa yang kreatif, ke kampus secara ramai-ramai dengan mencarter kendaraan khusus : dinosaurus !

Ah, jangan percaya bualan di atas.

Perkenalkan, saya, Bambang Haryanto, alumnus JIP-FSUI Angkatan 1980. Saya baru saja meluncurkan blog untuk angkatan saya : JIP FSUI Angkatan 1980. Hemat saya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Untuk memperkaya blog itulah saya berkunjung ke blog Anda untuk menyusun isi blogroll-nya. Sehingga diharapkan antarkita semua yang sesama alumni JIP, khususnya, juga para pemangku kepentingan dunia perpustakaan dan informasi itu pada umumnya, dapat selalu tersambung di dunia maya. Senang sekali saya bisa mengenal Anda.

Selamat terus menulis, ber-blogria, berkreasi dan berprestasi.
Sukses selalu untuk Anda. Salam dari Wonogiri.

Bambang Haryanto
Blog EE : http://esaiei.blogspot.com

Rosmi Julitasari, Blog Kita dan Biografi Lily K Somadikarta

Yth. mBak Rosmi Julitasari,

Salam sejahtera. Semoga Anda senantiasa sehat, sukses dan sejahtera. Mohon maaf bila email ini agak mengganggu.

Saya, Bambang Haryanto, pernah belajar di JIP-FSUI, Angkatan 1980. Kini tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah. Saat ada acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogyakarta (22-25/7/2010), suatu kebetulan yang menakjubkan, saya tinggal satu wisma dengan alumnus JIP-FSUI 1992, Hendro Wicaksono dari Jakarta.

Dari Hendro itu saya mendapat kabar menarik. Antara lain bahwa Anda akan/telah menulis biografi salah satu tokoh penting JIP-FSUI, Ibu Lily Koeshartini Somadikarta.

Apakah buku Anda itu telah selesai ?

Bila telah selesai, atau pun bila belum selesai, saya ingin memajang informasi tentang buku Anda itu. Misal gambar sampul, foto dokumentasi, highlight isi buku, endorsement plus info lain yang relevan, di blog yang baru saja saya buat. Saya ingin mempromosikan buku Anda, dengan senang hati, dan tentu saja cuma-cuma.

Melalui blog ini saya dan kawan-kawan berusaha menghimpun tulisan kenangan sampai pengalaman dari sesama teman, Angkatan 1980. Tentu saja kenangan tentang para dosen kami, termasuk Ibu Soma. Blog kami itu namanya : JIP FSUI Angkatan 1980.

Bahkan di sidebar telah saya pajang foto Ibu Soma. Foto itu hasil pemotretan saya sendiri, di tahun 1982, menjelang acara Peringatan 30 Tahun Pendidikan Perpustakaan di Indonesia, yang dilaksanakan di Gedung Kebangkitan Nasional, November 1982.

Terima kasih untuk perhatian Anda.
Saya tunggu kabar menarik dari mBak Rosmi.

Hormat saya,


Bambang Haryanto.

Mary J. Cronin : Nostalgia Rawamangun, Wonogiri dan Atlanta

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com



Mary J. Cronin.
Itulah nama perempuan berwajah anggun ini.

Sayangnya, ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (JIP-FSUI) di Kampus Rawamangun era 1980-an, seingat saya, namanya tidak pernah muncul dalam perkuliahan. Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, Bapak Karmidi Martoadmodjo sampai Bapak Sulistyo Basuki, sepertinya belum pernah menyebut-nyebut nama itu pula.

Tak apalah.
Saya mengenalnya dari majalah Library Journal.

Kalau ada waktu luang, di perpustakaan JIP-FSUI yang berada di lantai 2 Unit 3 Kampus FSUI, saya membuka-buka majalah itu. Biasanya, setumpuk majalah itu atau yang sudah terjilid, saya bawa ke luar ruang.

Kemudian membaca-bacanya di luar, di kursi rotan, pada beranda ruang perpustakaan tersebut. Bisa sambil melihat-lihat hijau daun, berbercak putih yang berpadu bunga-bunga kuning, dari pohon-pohon akasia yang merindangi kampus itu.

Saya memang nekat "melanggar aturan" dengan membawa bahan pustaka ke luar perpustakaan. Terima kasih Pak Wakino dan Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI, yang rupanya memaklumi alasan saya. Karena di luar, sambil membaca-baca itu saya juga bisa bernikmat-ria dengan asap plus nikotin yang di tahun 1980 itu masih membekap ketat diri saya.

Bahkan, di masa itu, bergabung dengan sesama mahasiswa yang juga perokok seperti Hartadi Wibowo dan Subagyo Ramelan, kami dikenal sebagai trio penghuni "the smoking corner" di kelas. Penyebar kabut racun. Syukurlah, pada tahun 1989, saya bisa berhenti merokok, setelah menjadi budak nikotin lebih dari 16 tahun.

Lupakanlah nikotin, mari kembali ke Mary J. Cronin. Kalau tak salah ingat, ia mengisi kolom tetap di majalah tersebut dengan topik seputar aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Topik tersebut masih terasa asing, dan baru, utamanya dalam atmosfir dunia kepustakawanan di Indonesia saat itu.

Internet dengan intelejensia. Waktu pun bergulir. Empat belas tahun kemudian, suatu keajaiban, saya bisa "ketemu" dengan Mary J. Cronin kembali. Bukan di majalah Library Journal lagi. Sebagai anggota perpustakaan American Cultural Center (ACC), Wisma Metropolitan 2, saya seperti dapat anugerah ketika memergoki isi majalah Fortune, 18 Maret 1996.

Di situ terdapat wawancara intensif editor IT majalah bisnis bergengsi itu, Rick Tetzeli, dengan Mary J. Cronin. Judul artikelnya, "Getting Your Company's Internet Strategy Right."

Dalam pengantarnya Rick Tetzeli menulis : "Mary Cronin menemukan Internet sebelum Internet menjadi bahan kehebohan pada dekade ini. Sebagai pustakawan universitas di Boston College, Cronin memanfaatkan Internet untuk meriset data pada tahun 1980-an.

Dalam empat tahun terakhir ia menulis, memberi kuliah dan memberikan konsultasi bagaimana perusahaan mampu memanfaatkan Internet dan teknologinya sebagai bagian dari strategi perusahaan bersangkutan. Sekarang ia menjabat sebagai professor di Carroll School of Management dari Boston College, Cronin memberikan wawasan, quiet intellegence, untuk kajian yang kini lebih menonjol heboh hura-huranya itu.

Bukunya yang segera terbit, The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menunjukkan bagaimana kalangan bisnis dapat memanfaatkan Internet jauh lebih signifikan dibanding hanya tampil genit berpamer-ria dengan situs-situs web yang molek semata. Cronin membeber pikiran-pikirannya secara persuasif bahwa perusahaan membutuhkan perencanaan yang cermat agar mereka mampu memanfaatkan Internet untuk kebutuhan di dalam mau pun di luar perusahaan."

Akhirnya, Rick Tetzeli menyimpulkan bahwa buku ini merupakan buku panduan untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Kramat sampai Atlanta. Diam-diam, saat itu, saya merasa bangga. Bahwa seorang pustakawan telah mampu melakukan "penjarahan," dengan mengaplikasikan wawasan dan ilmu pengetahuan miliknya sebegitu jauh jangkauannya sehingga dapat menerobos batas-batas teritori ranah tradisionalnya. Ilmu perpustakaan a la Cronin itu mampu memperkuat otot-otot yang menunjang keberhasilan dunia bisnis, dunia korporasi, bahkan pada pilar-pilar yang paling fundamental di era perubahan dewasa ini.

Suatu kebetulan, ketika keluyuran di lapak majalah bekasnya Pak Yono ("asal Sragen, hijrah ke Jakarta sejak 1957-an") di Kramat Raya, Depan Gedung PMI, saya menemukan lagi majalah Fortune edisi 18 Maret 1996. Foto Mary J. Cronin di atas juga saya ambil dari majalah bisnis ini.

Keajaiban masih berlanjut. Ketika adik saya, Broto Happy W., yang reporter Tabloid BOLA, meliput Olimpiade Atlanta 1996, saya wanti-wanti berpesan untuk dioleh-olehi buku karya Mary J. Cronin itu. Syukurlah, buku itu ia beli pada tanggal 17 Juli 1996, dan kini berjejer dengan beberapa buku bersampul hitam, buku-buku bertopik Internet, yang juga terbitan dari Harvard Business School Press.

Buku yang tidak mudah dikunyah. Salah satu isi buku itu yang relevan dengan komunitas penulis surat pembaca yang saya dirikan, Epistoholik Indonesia, yang sering saya kutip antara lain tulisan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones Business Information Services, yang menjabarkan perbedaan antara media cetak dan media Internet.

Menurutnya, di dunia media cetak aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah. Tetapi kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah, menurut saya, yang masih banyak tidak disadari oleh para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Mengabarkan perubahan itulah yang kini menjadi sacred mission saya, sebagai orang yang merasa memperoleh anugerah karena dalam bagian hidup saya yang terindah pernah terciprat untuk memiliki DNA ilmu perpustakaan, walau pun selama ini dan kini memilih untuk tidak berkarya dalam kurungan tembok-tembok gedung perpustakaan.

Ada nasehat dari Mary J. Cronin yang mungkin bermanfaat bagi kita. Ketika ditanya bagaimana agar peselancar Internet bisa tertarik melakukan bookmark, atau secara rutin mengunjungi situs-situs kita di Internet, ia pun menjawab :

"Informasi yang bermanfaat, itulah kuncinya. Anda harus memberi mereka sesuatu yang berharga dalam transaksi ini. Ini bukan perbuatan berderma, altruistik. Melainkan ini merupakan strategi pemasaran yang baik."

Terima kasih, Ibu Mary, untuk jeweran ini.

Karena selama ini saya sering mejeng di Internet hanya semata-mata tergoda hasrat tak terkendali untuk berasyik-masyuk bagi diri sendiri.



Wonogiri, 18 Oktober 2010

Sabtu, 16 Oktober 2010

Ogilvy, JIP FSUI, Rekonstruksi Masa Lalu

Oleh : Bambang Haryanto
Email : jip80fsui (at) gmail.com


Anda mengenal nama David Ogilvy ?
Dia bukan penulis surat pembaca top. Juga bukan pustakawan.
Tetapi sosok yang dikenal sebagai "nabi" periklanan.

Dalam buku yang disebut sebagai kitab suci insan perklanan sampai kini, Confessions of an Advertising Man (1963), Ogilvy menjawab pertanyaan tentang apa saja kelemahan dirinya yang paling parah. Dalam salah satu jawabannya, nomor 3, ia bilang : "Like everyone my age I talk too much about the past. " Seperti halnya orang-orang seusia saya, saya terlalu banyak membicarakan masa lampau.

Ogilvy berkata demikian saat berumur 75.
Saat ini saya berumur 57 tahun.Tetapi rupanya saya sudah sangat sering dan parah terkena "Sindrom Ogilvy" tersebut.

Karena di catatan ini saya akan cerita tentang masa lalu pula. Tahun 1980.
Tepatnya peristiwa yang terjadi pada tanggal 5 September 1980, di Wisma Tamu Universitas Indonesia, Rawamangun, Jakarta Timur. Simak foto berikut ini :

jurusan ilmu perpustakaan,fakultas sastra universitas indonesia,5 september 1980,bambang haryanto,rawamangun,ilmu perpustakaan,pustakawan

Gerakan Lima September 1980. Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia Angkatan 1980 secara resmi diterima sebagai anggota sivitas akademika JIP FSUI dan sekaligus sebagai warga baru profesi pustakawan Indonesia. Seluruh pengajar, alumni pelbagai angkatan dan mahasiswa bersilaturahmi dalam acara Halal Bil-Halal JIP-FSUI yang diselenggarakan tanggal 5 September 1980 di Wisma Tamu Universitas Indonesia, Rawamangun.

Sebagai penceramah dalam acara silaturahmi itu adalah Yusril Ihza Mahendra, mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Filsafat Universitas Indonesia, yang kemudian pernah menjadi Menteri Hukum dan HAM.

Nampak dalam foto (dari kiri) Bapak Karmidi Martoadmodjo (almarhum), Juliana Surya (Angkatan 1979) dan Indira Saraswati (A-1979). Pria berbaju batik di atas teks “Halal” adalah M. Djuhro (A-1980) dan Esmara Suharto (A-1980). Di atas M. Djuhro adalah Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI. Sebelah kiri M. Djuhro (baju putih) adalah Ketua Keluarga Jurusan Ilmu Perpustakaan (KJIP) FSUI, Sugiarto Dakung.

Di atas teks “Bil”, paling atas, Arlima Mulyono (A-1980). Di atas huruf “Lal” dari teks “Halal” (sedang menengok), Subagyo Ramelan (A-1980) dan di atas dia adalah Susanti (A-1980). Sementara oknum berkacamata di sebelah kanannya adalah orang Suruh, Salatiga, Bakhuri Jamaluddin (A-1980).

Di atas huruf “F” dari “FSUI” adalah Haris Nasution (almarhum). Persis di atas Haris adalah Partiningsih (A-1980) dan sebelah kanannya adalah Idrina Idrus (A-1980). Memegang ujung kanan spanduk adalah Hartadi Wibowo (A-1980), di atasnya adalah Yan Husardi (A-1980) dan Zulherman (A-1980). Berjongkok paling kanan, Rizal Saiful-haq (A-1980).

Dan jangan lupa, saking ngebetnya jadi pustakawan, di acara halal bil-halal pun dirinya fanatik membawa-bawa bahan pustaka :-), yang tak lain adalah inisiator blog ini. Ketika teman lainnya berpakaian rapi dan sopan, ia pengin tampil beda : hanya memakai kaos.

Bahkan untuk menandakan ia punya “daya kenang” tertinggi :-( di antara teman seangkatannya, maka dalam foto kenangan ini ia pun secara sengaja memajang dirinya pada posisi teratas : Bambang Haryanto (A-1980).

Foto lebih besar ukurannya dapat Anda klik di sini.


Wonogiri, 16 Oktober 2010